Pendapatan SILO Kuartal I-2026 Naik 8,4 Persen, EBITDA Tembus Rp 748,8 M
- Jumat, 08 Mei 2026
JAKARTA - Kinerja PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) selaku pengelola jaringan rumah sakit diperkirakan akan tetap stabil saat memasuki periode Kuartal II-2026. Optimisme terhadap masa depan perseroan ini ditopang oleh kenaikan pendapatan yang konsisten, program efisiensi kerja, serta peningkatan kualitas layanan kesehatan yang memiliki nilai tambah.
Pada tiga bulan pertama tahun 2026, SILO sukses mencatatkan pemasukan sebesar Rp 2,55 triliun, atau tumbuh 8,4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (YoY). Di saat yang bersamaan, EBITDA perusahaan terkerek naik 11,7% menjadi Rp 748,8 miliar, dengan raihan margin EBITDA pada posisi 29,4%.
Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, menilai bahwa kenaikan EBITDA yang melampaui laju pendapatan menandakan bahwa pengelolaan operasional SILO semakin optimal.
Baca JugaFundamental PGEO Tetap Kuat di Tengah Sikap Wait and See Investor
“Pertumbuhan EBITDA yang lebih tinggi dari revenue menunjukkan operasional makin efisien, sementara margin EBITDA yang hampir 30% mencerminkan positioning SILO yang kuat di segmen rumah sakit premium,” jelasnya kepada Kontan, Kamis (7/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dalam hal pengembangan usaha, SILO dinilai memiliki peluang menjanjikan melalui inovasi layanan seperti bedah robotik serta Siloam Medical Concierge. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat jangkauan pasar, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur.
Wafi memandang fokus terhadap segmen layanan premium ini akan menjadi motor penggerak pertumbuhan perusahaan untuk jangka menengah.
“Layanan baru punya potensi cukup besar untuk mendorong pertumbuhan. Ini memperkuat positioning SILO di layanan high-end dan high-margin, sekaligus meningkatkan ARPU pasien,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia pun menambahkan bahwa langkah inovatif tersebut memiliki peran penting dalam meminimalkan minat masyarakat Indonesia untuk berobat ke mancanegara.
Terkait tingkat keuntungan, margin laba bersih SILO yang menyentuh 11,5% pada Kuartal I-2026 diprediksi masih dapat dipertahankan hingga Kuartal II-2026.
“Margin masih berpotensi terjaga atau sedikit meningkat, ditopang utilisasi rumah sakit yang lebih baik dan kontribusi layanan spesialis dengan margin lebih tinggi,” tambahnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Walau demikian, Wafi memberi catatan bahwa bertahannya margin tersebut akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan biaya operasional ke depannya.
“Selama tidak ada lonjakan biaya operasional yang signifikan, margin masih punya ruang bertahan di level double digit,” lanjut Wafi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di luar faktor operasional, keputusan SILO untuk melakukan integrasi terhadap 14 properti rumah sakit dengan taksiran nilai Rp 9 triliun dinilai akan berdampak baik bagi fundamental perusahaan secara jangka panjang.
“Langkah ini memperkuat basis aset dan kontrol operasional. Memang dari sisi neraca aset dan leverage bisa meningkat, tapi perseroan mendapat fleksibilitas lebih besar untuk ekspansi dan monetisasi aset,” ungkapnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Wafi menarik kesimpulan bahwa selama arus kas dari kegiatan operasional tetap stabil, strategi penggabungan aset ini akan memperkuat ketahanan finansial SILO dalam jangka panjang. Berdasarkan sederet sentimen positif tersebut, KISI Sekuritas menyarankan beli (buy) untuk saham SILO dengan target harga di level Rp 3.200 per lembar saham.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026











