Selasa, 12 Mei 2026

Saham Teknologi Masih Downtrend Rekomendasi untuk GOTO, BELI, dan BUKA

Saham Teknologi Masih Downtrend Rekomendasi untuk GOTO, BELI, dan BUKA
Ilustrasi Indeks Saham Teknlogi. (Foto: net)

JAKARTA – Prospek kinerja emiten di sektor teknologi sepanjang tahun 2026 dinilai masih menunjukkan pergerakan yang beragam di tengah ketatnya kompetisi industri digital serta tekanan terhadap tingkat profitabilitas. 

Berdasarkan laporan keuangan paling baru, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) telah berhasil mencatatkan laba bersih perdana senilai Rp 170,7 miliar pada kuartal I-2026.

Pencapaian ini menandai pembalikan kondisi dari rugi bersih sebesar Rp 366,5 miliar pada periode yang sama di tahun sebelumnya. 

Baca Juga

Fundamental PGEO Tetap Kuat di Tengah Sikap Wait and See Investor

Sebaliknya, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) justru membukukan rugi bersih senilai Rp 423,5 miliar pada kuartal I-2026, jika dibandingkan dengan raihan laba bersih sebesar Rp 111,7 miliar pada kuartal I-2025. 

Sementara itu, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) terpantau masih mencatatkan rugi bersih senilai Rp 303 miliar pada kuartal I-2026. 

Meski begitu, nilai tersebut menunjukkan perbaikan jika dibandingkan rugi bersih kuartal I-2025 yang sempat menyentuh Rp 638,1 miliar.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, berpendapat bahwa prospek emiten teknologi pada tahun ini masih tergolong cukup selektif. 

Menurut pandangan Azis, GOTO menjadi emiten yang menunjukkan perbaikan kinerja paling menonjol berkat penerapan strategi efisiensi operasional serta monetisasi ekosistem digital yang kini mulai memberikan hasil nyata.

“GOTO menunjukkan perbaikan paling signifikan didukung efisiensi operasional dan monetisasi ekosistem sehingga berhasil mencetak laba bersih,” ujar Azis sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, BUKA serta BELI dinilai masih mengalami tekanan profitabilitas yang disebabkan oleh tingginya beban biaya operasional serta persaingan yang kian sengit di industri teknologi dan e-commerce. 

Azis menambahkan bahwa terdapat beberapa faktor pendorong positif yang dapat memberikan sokongan bagi sektor teknologi sepanjang tahun ini.

Salah satunya yakni potensi penurunan suku bunga yang mampu mendukung nilai valuasi saham-saham kategori growth, termasuk di dalamnya sektor teknologi. 

Selain itu, perkembangan ekonomi digital serta optimalisasi monetisasi layanan digital dipandang bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan pendapatan bagi emiten-emiten teknologi. 

Kabar mengenai masuknya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai pemodal di GOTO juga dianggap menjadi sentimen yang positif bagi perusahaan tersebut.

Menurut penilaian Azis, keterlibatan pihak Danantara memiliki potensi untuk mendongkrak kepercayaan pasar sekaligus membuka pintu peluang sinergi bisnis di masa mendatang. 

Walau demikian, para investor tetap harus mewaspadai sejumlah risiko yang masih menghantui sektor teknologi, mulai dari kompetisi industri yang semakin tajam, tekanan pada margin usaha, hingga potensi melemahnya daya beli masyarakat.

Azis sendiri saat ini masih memilih untuk bersikap wait and see terhadap saham-saham di sektor teknologi karena pergerakan harga saham dipandang masih berada dalam tren penurunan atau downtrend

Sementara itu, Analis Indo Premier Sekuritas, Ryan Winipta, memberikan rekomendasi beli untuk saham GOTO dengan target harga di level Rp 110 per saham.

Kemudian, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyampaikan rekomendasi beli untuk saham BELI dengan target harga di angka Rp 520 per saham. 

Adapun Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memberikan rekomendasi wait and see untuk saham BUKA dengan level support di posisi Rp 144 dan resistance pada level Rp 151 per saham.

Ibtihal

Ibtihal

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Panca Budi Idaman Bagikan Dividen Rp 397,50 Miliar atau Rp 53 Per Saham

Panca Budi Idaman Bagikan Dividen Rp 397,50 Miliar atau Rp 53 Per Saham

Investor DKFT Terima Dividen Tunai Rp 3.500 per Lot Hari Ini

Investor DKFT Terima Dividen Tunai Rp 3.500 per Lot Hari Ini

OJK Sebut Investor Domestik Naik 6,4 Juta Sejak Akhir Tahun

OJK Sebut Investor Domestik Naik 6,4 Juta Sejak Akhir Tahun

BMRI dan BBCA Teratas, Ini Saham Banyak Dilepas Asing Seminggu Terakhir

BMRI dan BBCA Teratas, Ini Saham Banyak Dilepas Asing Seminggu Terakhir

Saham PANR Turun 13 Persen Lebih Siap Bagikan Dividen 3.000 per Lot

Saham PANR Turun 13 Persen Lebih Siap Bagikan Dividen 3.000 per Lot