Minggu, 24 Mei 2026

Sentimen Domestik Tekan IHSG, Terpuruk ke Level 6.094

Sentimen Domestik Tekan IHSG, Terpuruk ke Level 6.094
IHSG Merosot ke Level 6.094. (Foto: babelinsight.id)

JAKARTA – Pasar saham Indonesia masih berada dalam tekanan berat. Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) kembali terpuruk sebesar 223,55 poin atau 3,54% ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis (21/5/2026). 

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif IHSG di tengah mayoritas bursa Asia yang justru mengalami penguatan.

Berbanding terbalik dengan Indonesia, indeks saham di kawasan Asia Pasifik mencatatkan kenaikan yang signifikan. Indeks Kospi Korea Selatan melesat sebesar 8,42% menuju level 7.815, sementara Nikkei 225 Jepang menguat 3,14% ke level 61.684. 

Baca Juga

Emas Global Stagnan di Tengah Penurunan Harga Minyak dan Dolar AS

Di wilayah Asia Tenggara, IHSG bahkan menjadi indeks dengan performa paling buruk sepanjang tahun 2026, dengan penurunan menyentuh 29,51% secara year to date.

Analis menilai bahwa tekanan terhadap IHSG saat ini lebih banyak disebabkan oleh sentimen domestik ketimbang faktor eksternal. 

Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas, Cindy Alicia Ramadhania, menjelaskan bahwa para pelaku pasar saat ini masih menunggu hasil evaluasi FTSE Russell serta MSCI terhadap pasar modal Indonesia.

Pasar sekarang tengah menanti pengumuman evaluasi kuartalan FTSE Global Equity Index Series (GEIS) pada Jumat (22/5). 

Sementara untuk bulan Juni mendatang, perhatian para investor tertuju pada keputusan MSCI mengenai pembekuan sejumlah saham dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, berpandangan bahwa persoalan antara BEI dan MSCI menjadi akar utama tekanan pasar di sepanjang tahun ini. 

Menurut penilaiannya, masalah transparansi data memicu kecemasan seputar potensi penurunan kualitas pasar modal Indonesia di mata para investor global.

Di samping itu, pelemahan nilai tukar rupiah dan keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% turut memperparah sentimen pasar. 

Kebijakan tersebut dinilai mengindikasikan meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi sekaligus memperdalam tekanan di pasar saham.

Kekhawatiran para investor juga kian memuncak setelah pemerintah menggulirkan rencana pembentukan badan ekspor komoditas. 

Kebijakan ini melahirkan kecemasan bagi pelaku pasar terkait potensi adanya pembatasan margin bagi emiten di sektor batu bara serta minyak sawit.

Bahkan, kebijakan baru tersebut ikut menjadi perhatian bagi lembaga pemeringkat global Moody’s Ratings dan S&P. 

Kedua lembaga tersebut menilai bahwa langkah sentralisasi ekspor komoditas berpotensi memicu distorsi pasar dan memberikan dampak negatif terhadap sektor pertambangan maupun peringkat kredit Indonesia.

Dari sisi teknikal, Cindy memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan tren pelemahannya jika tidak mampu bertahan di atas level support 6.081. Apabila tekanan terus berlanjut, IHSG diproyeksikan akan menguji area 5.882.

William bahkan memproyeksikan pergerakan IHSG bisa merosot lebih dalam lagi hingga ke kisaran 5.400 jika sentimen negatif tidak kunjung mereda. Menurutnya, pemulihan pasar akan sangat bergantung pada hasil evaluasi dari MSCI.

“Kalau MSCI sudah tidak membekukan indeks, optimisme pasar bisa kembali,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai peluang untuk rebound masih terbuka lebar asalkan IHSG sanggup bertahan di atas level 6.092.

Melalui skenario tersebut, IHSG memiliki potensi untuk bergerak menuju area 6.250. Namun, apabila pergerakannya menembus ke bawah level 6.000, IHSG berisiko masuk ke dalam zona support kritis di angka 5.900.

Alrich menilai kondisi pasar saat ini sangat sensitif terhadap ketidakpastian kebijakan. 

Anggapan bahwa pemerintah terlalu intervensif terhadap mekanisme pasar dinilai bisa meningkatkan risk premium Indonesia sekaligus mendorong investor asing untuk mengurangi eksposur mereka di pasar domestik.

Oleh karena itu, para investor direkomendasikan untuk bersikap lebih selektif serta defensif dengan berfokus pada saham-saham yang berfundamental kuat, memiliki arus kas yang stabil, valuasi yang relatif murah, serta tidak terlalu sensitif terhadap ketidakpastian kebijakan.

Ibtihal

Ibtihal

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Aksi Investor Kakap: Lo Kheng Hong Miliki 5,12 Persen Saham SIMP

Aksi Investor Kakap: Lo Kheng Hong Miliki 5,12 Persen Saham SIMP

BNI Sekuritas Rekomendasikan Sektor Konsumsi Jadi Pilihan Investasi

BNI Sekuritas Rekomendasikan Sektor Konsumsi Jadi Pilihan Investasi

vestasi Dana Pensiun Lesu, Imbal Hasil Anjlok di Awal  Tahun 2026

vestasi Dana Pensiun Lesu, Imbal Hasil Anjlok di Awal Tahun 2026

IHSG Rawan Melemah, Simak Rekomendasi Saham MNC Sekuritas

IHSG Rawan Melemah, Simak Rekomendasi Saham MNC Sekuritas

Charoen Pokphand (CPIN) Sebar Dividen Rp180 Per Saham 12 Juni Mendatang

Charoen Pokphand (CPIN) Sebar Dividen Rp180 Per Saham 12 Juni Mendatang