Penjualan Tembus Rp1,1 Triliun, IRRA Pilih Tahan Laba untuk Modal

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 09 Juni 2026
Penjualan Tembus Rp1,1 Triliun, IRRA Pilih Tahan Laba untuk Modal
Penjualan Tembus Rp1,1 Triliun, IRRA Fokus Perluas Distribusi dan Kemitraan. (Foto: Ilustrasi)

JAKARTA – Perusahaan publik bidang peralatan medis PT Itama Ranoraya Tbk. (IRRA) menetapkan untuk menempatkan mayoritas keuntungan bersih tahun buku 2025 sebagai laba ditahan demi menyokong perluasan bisnis sekaligus melebarkan sayap rantai distribusi alat kesehatan di Indonesia. 

Ketetapan tersebut direstui lewat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan pada Jumat (5/6/2026). 

 Perusahaan berhasil mengumpulkan laba bersih senilai Rp65,53 miIiar di sepanjang tahun 2025.

Direktur Utama IRRA Heru Firdausi Syarif menerangkan bahwa dari total keuntungan itu, senilai Rp1 miliar diplot sebagai dana cadangan, sedangkan sisa laba bersih sebesar Rp64,53 miliar diputuskan menjadi laba ditahan yang bakal dimanfaatkan seutuhnya sebagai modal operasional perusahaan.

"Penggunaan modal kerja tersebut ditujukan untuk memperkuat likuiditas operasional, membiayai pengembangan bisnis strategis, serta mendukung agenda ekspansi perusahaan dalam beberapa tahun mendatang," ujarnya dalam keterangannya, Senin (8/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selaras dengan langkah strategis itu, IRRA telah merancang tiga titik fokus utama pada 2026. Pertama, mendongkrak volume penjualan dan memperluas jaringan pos distribusi di bermacam wilayah.

Kedua, memperlebar kemitraan strategis bersama pihak swasta, instansi pemerintah, serta principal baru demi memperkokoh portofolio lini produk. 

Ketiga, memacu pemasaran produk Alat Kesehatan Dalam Negeri (AKD) kepunyaan grup perusahaan sebagai wujud dari program substitusi impor sekaligus pengembangan teknologi medis.

Heru mengimbuhkan bahwa keluwesan organisasi menjadi aspek krusial demi merespons dinamika pasar yang bergulir dengan cepat.

"Kondisi industri saat ini menuntut kami untuk bergerak lebih cepat. Melalui strategi ini, manajemen ingin memastikan perseroan tidak hanya responsif terhadap peluang baru, tetapi juga memiliki pondasi operasional yang siap menghadapi kebutuhan di lapangan," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meninjau aspek kinerja, IRRA membukukan angka penjualan bersih senilai Rp1,1 triliun pada 2025 atau merosot naik 12,55% bila dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut dibarengi dengan kenaikan laba bersih sebesar 23,03% secara tahunan menjadi Rp65,53 miliar dari posisi Rp53,3 miliar pada periode tahun 2024.

Kenaikan tingkat profitabilitas ini dipicu oleh efisiensi operasional serta pengoptimalan rantai pasok yang konsisten. 

Rasio margin laba bersih perusahaan pun merangkak naik ke level 5,96%, sejalan dengan total aset yang kini menyentuh Rp2,43 triliun.

Lini Diagnostik In Vitro tampil menjadi penyumbang omset terbesar bagi pendapatan dengan total penjualan mencapai Rp 693,48 miliar.

Berikutnya, lini Alat Kesehatan Elektromedik Steril menyumbang porsi Rp347,94 miIiar, Alat Kesehatan Non-Elektromedik mengucurkan Rp52,88 miliar, serta produk kesehatan suportif lainnya senilai Rp5,91 miliar.

Melangkah ke paruh pertama tahun 2026, pihak manajemen mengukur bahwa tingkat permintaan akan alat kesehatan steril serta instrumen pendeteksi penyakit masih memperlihatkan kecenderungan pertumbuhan yang positif.

Berbekal topangan laba ditahan yang dipertebal sebagai modal kerja, perusahaan merasa optimistis bahwa target operasional serta bisnis di sepanjang tahun ini dapat direalisasikan sesuai blueprint yang ada.

Di samping merestui tata cara pemanfaatan laba bersih, agenda RUPST juga menetapkan pemindahan lokasi kantor pusat perusahaan menuju ke ITS Tower Lantai 21, Jakarta Selatan sebagai langkah kolektif untuk menaikkan efektivitas operasional serta menunjang dinamika bisnis yang kian berkembang luas.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua