BI Pacu Kredit Pertanian dan Hilirisasi demi Jaga Ketahanan Pangan

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 11 Juni 2026
BI Pacu Kredit Pertanian dan Hilirisasi demi Jaga Ketahanan Pangan
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Ricky P. Gozali. (Foto: net)

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyatakan komitmen penuhnya dalam memperkokoh ketahanan pangan sebagai langkah menjaga stabilitas perekonomian, mengontrol laju inflasi, serta memproteksi kemampuan belanja masyarakat.

Deputi Gubernur BI, Ricky P Gozali memaparkan bahwa ketahanan pangan merupakan pilar utama bagi perwujudan ekonomi yang kokoh, berkembang, dan kompetitif.

Oleh sebab itu, BI terus memacu penyaluran kredit serta pembiayaan pada bidang pertanian, sektor industri pengolahan, dan hilirisasi pangan lewat pemanfaatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

"Bank Indonesia juga turut mendorong produktivitas sektor pangan, memperlancar distribusi, dan menjaga stabilitas harga melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS)," ujar Ricky dalam seminar bertajuk Ketahanan Pangan untuk Indonesia Emas di Jakarta, Rabu (10/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan penjelasan Ricky, beraneka ragam dinamika global pada masa sekarang menghadirkan tantangan konkret bagi ketahanan pangan di dalam negeri.

Tantangan tersebut berkisar dari fluktuasi harga komoditas global, kebijakan pembatasan ekspor oleh beberapa negara, pembengkakan biaya logistik, sampai kenaikan ongkos impor pangan dan alat produksi tani lantaran tekanan pada nilai tukar rupiah.

"Kondisi ini perlu menjadi perhatian dalam pengendalian inflasi. Penguatan ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga stabilitas perekonomian.Dengan tekanan harga yang tetap terkendali, daya beli masyarakat dapat terlindungi dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga," tuturnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria menyampaikan bahwa inovasi teknologi serta penemuan varietas unggulan merupakan solusi utama dalam mengantisipasi meroketnya harga pangan yang dipicu oleh cuaca ekstrem.

Ia menilai, komoditas pangan yang masuk dalam kategori volatile food sangat sensitif terhadap pergeseran musim serta iklim. Demi menyiasati persoalan itu, BRIN telah menciptakan bermacam varietas padi unggul berkapasitas produksi di atas 10 ton per hektare yang memiliki ketahanan terhadap banjir, kekeringan, serta area lahan salin.

"Ketersediaan varietas unggul yang tahan cuaca ekstrem diharapkan dapat menstabilkan pasokan komoditas pokok dan mencegah lonjakan harga," kata Arif, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Kerja Stabilisasi Pasokan Pangan Badan Pangan Nasional, Yudhi Harsatriadi Sandyatma memaparkan bahwa bermacam program intervensi terus diintensifkan lewat kolaborasi antara pihak pemerintah dan BI.

Langkah koordinasi ini diwujudkan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID). Sampai dengan awal Juni 2026, pihak pemerintah telah mengoperasikan lebih dari 5.200 kali Gerakan Pangan Murah pada 36 provinsi dan menjalankan 2.890 Kios Pangan demi memastikan keterjangkauan harga barang kebutuhan pokok bagi warga.

Sektor dunia usaha pun ikut memberikan sokongan. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pangan Kadin Indonesia, Mulyadi Jayabaya memberikan penegasan bahwa pihak swasta siap memosisikan diri sebagai mitra yang aktif dalam memperkukuh ketahanan pangan di tanah air.

Pelaku usaha dipandang perlu memacu penguatan rantai pasok dalam negeri serta penyelarasan regulasi antara pihak pemerintah pusat dan daerah demi membangun iklim investasi yang semakin kondusif pada sektor pangan.

"Kami datang membawa solusi, investasi, dan kesiapan untuk bergerak bersama," ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua