Harga CPO Turun 1,67 Persen, Dibayangi Ancaman El Nino di Malaysia

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 15 Juni 2026
Harga CPO Turun 1,67 Persen, Dibayangi Ancaman El Nino di Malaysia
Ilustrasi CPO. (Istimewa)

JAKARTA - Nilai jual minyak sawit mentah (CPO) kembali mengalami penurunan pada akhir pekan. 

Merujuk data Refinitiv, kontrak CPO acuan menyudahi perdagangan di angka 4.475 ringgit Malaysia per ton pada sesi transaksi Kamis (12/6/2026), atau melemah 1,67% bila dibandingkan hari sebelumnya. Secara akumulasi mingguan, harga CPO menyusut 2,7% dari posisi 4.601 ringgit Malaysia per ton pada 4 Juni. 

Penurunan itu terjadi usai pasar menerima tekanan akibat merosotnya harga minyak mentah dunia serta minyak nabati kompetitor di pasar global.

Harga minyak Brent di pekan ini merosot ke level paling rendah dalam jangka waktu lebih dari tiga bulan. Situasi tersebut mengikis daya pikat minyak nabati untuk dijadikan bahan baku biodiesel. 

Pada waktu yang sama, harga minyak kedelai di Bursa Chicago dan minyak sawit di Dalian pun bergerak melandai sehingga menghambat ruang penguatan CPO.

Menilik dari sektor permintaan, data pengiriman ekspor Malaysia sebetulnya terpantau masih relatif bagus. Estimasi survei kargo menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia sepanjang 1-10 Juni meningkat kisaran 3,5%-4,9% dibandingkan periode yang sama di bulan lalu. 

Namun, para pelaku pasar cenderung lebih mencermati perkembangan pasokan ke depan.

Fokus pelaku pasar saat ini terarah pada risiko cuaca di kawasan Asia Tenggara. Pemerintah Malaysia memberikan peringatan bahwa fenomena El Nino yang mulai muncul bulan ini berpotensi mereduksi hasil panen komoditas agraris sebesar 8%-10% pada tahun ini. 

Volume curah hujan di beberapa daerah bahkan diproyeksikan merosot hingga 40%-60%.

Peringatan itu memperoleh perhatian besar mengingat Malaysia memegang status sebagai produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia. Histori El Nino 2015-2016 masih dijadikan acuan oleh pasar. 

Pada momen tersebut, temperatur udara sempat melewati 37 derajat Celsius dan total produksi minyak sawit Malaysia anjlok hingga 18%.

Pihak otoritas Malaysia telah mempersiapkan strategi mitigasi lewat pemantauan cuaca secara berkala sepanjang waktu serta pelaksanaan operasi hujan buatan. Kendati begitu, pasar komoditas biasanya memberikan respons lebih kilat daripada realisasi produksi nyata di lapangan. 

Risiko penyusutan hasil panen mulai diantisipasi sejak dini lantaran dampak dari cuaca kering umumnya baru tampak beberapa bulan selepas fenomena El Nino berjalan.

Pada sisi yang lain, data industri menunjukkan persediaan minyak sawit Malaysia bertambah untuk bulan kedua secara beruntun pada Mei. Faktor tersebut menjadi alasan mengapa harga jual belum mereaksi ancaman El Nino secara masif. 

Stok saat ini dinilai masih cukup memadai sehingga pasar belum dihadapkan pada kecemasan kelangkaan barang dalam jangka pendek.

Untuk jangka waktu transisi, harga CPO bergerak di antara dua sentimen. Pelemahan harga energi dan minyak nabati kompetitor memberikan tekanan dari aspek permintaan, sementara risiko El Nino memicu potensi penurunan produksi di salah satu negara produsen terbesar dunia. 

Dinamika cuaca dalam beberapa bulan mendatang bakal menjadi indikator yang paling disorot oleh pelaku pasar.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua