Suku Bunga Tinggi Tekan Emas Semester II/2026 ke Bawah USD 3.900

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 01 Juli 2026
Suku Bunga Tinggi Tekan Emas Semester II/2026 ke Bawah USD 3.900
Ilustrasi harga emas yang diprediksi turun akibat kebijakan moneter ketat The Fed dan penguatan dolar AS. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Nilai komoditas emas global diprediksi masih mengalami tekanan pada paruh kedua 2026, sebelum akhirnya bangkit kembali pada tahun 2027. 

Mengutip Kitco, harga emas di pasar spot diperdagangkan menyusut 0,22% pada sesi perdagangan Selasa (30/6/2026) menuju angka US$ 4.006,70 per troy ounce. 

Sepanjang transaksi berjalan, nilai logam mulia tersebut bergerak pada kisaran US$ 3.944,00 sampai US$ 4.064,10 per troy ounce. Posisi ini mengindikasikan emas masih bertahan di atas area sokongan psikologis US$ 4.000 yang sempat teruji pada pekan lalu, walaupun belum berhasil melewati batas resistance yang diperlukan demi mengonfirmasi pemulihan harga. 

Melalui riset paling anyar, Kepala Riset Komoditas TD Securities, Bart Melek, mengingatkan bahwa nilai emas berisiko merosot hingga ke bawah posisi US$3.900 per troy ounce sebelum menyentuh titik paling rendah dalam siklus koreksi pasar bearish sekarang ini. 

Kendati demikian, Melek berpendapat penurunan harga emas bakal menjadi kesempatan beli yang taktis bagi penanam modal lantaran tren bullish jangka panjang komoditas ini masih jauh dari kata usai. 

Menurut pandangan Melek, faktor risiko paling masif untuk harga emas dalam periode pendek tetap berasal dari pergerakan harga minyak yang diproyeksikan bakal terus menyulut tekanan inflasi.

“Dengan gangguan di Selat Hormuz yang menggerus persediaan ke level terendah dalam sejarah, risiko utamanya adalah pasar minyak mentah yang saat ini berada dalam kondisi oversold dapat mengalami rebound tajam,” kata Melek seperti dilansir Kitco, Rabu (1/7/2026). 

Ia memproyeksikan harga minyak jenis Brent masih berpeluang melonjak ke rentang US$ 90 hingga US$ 110 per barel. Situasi itu bakal memicu kenaikan ekspektasi inflasi serta memperkokoh kecenderungan kebijakan moneter yang tetap ketat, sehingga menambah biaya kepemilikan (carry cost) sekaligus biaya peluang (opportunity cost) untuk para pemodal emas. 

Walaupun proses negosiasi damai sudah dimulai, konflik di kawasan Timur Tengah dianggap masih jauh dari penyelesaian. Iran dan Amerika Serikat terpantau masih saling meluncurkan aksi balasan, sementara harga minyak Brent saat ini ditransaksikan di atas US$73 per barel atau terangkat lebih dari 1% dalam sehari. 

Melek mengimbuhkan bahwa andai saja kesepakatan damai dapat dicapai dan distribusi pasokan minyak melewati Selat Hormuz kembali lancar, pasar masih memerlukan waktu demi menstabilkan keadaan serta menghimpun kembali level cadangan stok guna mencukupi permintaan yang tetap tinggi. 

“Dengan hubungan terbalik antara harga emas terhadap kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS, harga energi yang bertahan tinggi berpotensi mendorong pelemahan lanjutan pada harga emas dalam beberapa bulan mendatang,” ungkap Melek. 

Pelaku pasar bahkan dapat mulai mengalkulasikan potensi terjadinya kelangkaan bahan bakar di berbagai penjuru dunia. Walaupun distribusi kembali berjalan normal hari ini, hambatan ketersediaan pasokan tersebut kemungkinan akan tetap muncul.

Di pihak lain, Head of Base and Precious Metals Strategy J.P. Morgan Gregory Shearer memaparkan peralihan komunikasi The Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) teranyar telah mengakibatkan pasar emas kehilangan daya dorong. Ancaman kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan lebih lama memicu minat penanam modal terhadap emas menjadi lesu. 

"The Fed yang hawkish telah mengubah jeda dalam tren bullish struktural emas menjadi pembekuan yang lebih dalam. Selama bayang-bayang kenaikan suku bunga masih menggantung, keterlibatan investor di pasar emas akan sangat terbatas," tuturnya. 

Pandangan senada mengenai komoditas emas turut diutarakan oleh Chief Market Strategist Asia Pacific JP Morgan Asset Management Tai Hui. 

Menurut pendapatnya, emas lebih tepat dipandang sebagai instrumen investasi guna menaikkan imbal hasil, bukan sebagai alat lindung nilai dari gejolak geopolitik. Penilaian itu mengemuka usai kinerja emas sepanjang konflik Iran dirasa tidak memenuhi ekspektasi sebagian pemodal. 

"Emas tidak dapat menjadi asset lindung nilai dari ketegangan geopolitik," jelasnya.

Proyeksi 2027

Meski masih dihadapkan pada bermacam risiko penurunan dalam jangka pendek, Melek merasa optimistis bahwa masa depan emas bakal kembali perkasa menuju tahun 2027. Ia mengestimasikan harga emas pada waktunya sanggup menembus angka US$ 5.300 per troy ounce. 

Redanya rintangan ekonomi serta aliran dana investasi yang sempat dipicu oleh konflik Iran nantinya akan berbalik menjadi pendorong positif bagi nilai emas. 

Pada saat bersamaan, menciutnya ekspektasi inflasi serta pergeseran arah kebijakan moneter The Fed yang berfokus kembali pada mandat penciptaan lapangan kerja secara maksimal, dibarengi peluang suntikan likuiditas demi menyeimbangkan dampak ekonomi akibat gejolak pasokan energi dan komoditas utama lainnya, bakal menyokong harga emas mencatatkan rekor baru. 

“Dengan utang pemerintah AS yang diperkirakan mendekati US$ 40 triliun dan defisit anggaran yang tetap tinggi, kekhawatiran terhadap represi finansial (financial repression) serta pelemahan nilai mata uang (currency debasement) berpotensi kembali mengemuka,” imbuhnya. 

Melek berargumen, kendati saat ini The Fed masih memperlihatkan posisi yang tegas dalam meredam inflasi, ia tidak melihat adanya sosok seperti Paul Volcker di dalam komite yang berani mengambil opsi ekstrem untuk benar-benar menghentikan inflasi. Menurutnya, situasi ini justru dapat memicu kembali tingginya permintaan terhadap emas sebagai aset aman (safe haven).

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua