Permintaan Emas Kuat, Prospek Hartadinata (HRTA) Cerah hingga 2026

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 01 Juli 2026
Permintaan Emas Kuat, Prospek Hartadinata (HRTA) Cerah hingga 2026
Emas PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA). Foto: Hartadinata Abadi.

JAKARTA - Proyeksi performa operasional PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dinilai tetap menjanjikan hingga sisa tahun 2026. 

Besarnya animo terhadap emas selaku aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakstabilan global diprediksi tetap menjadi pilar utama performa emiten pengolahan sekaligus ritel logam mulia tersebut.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengungkapkan, peran emas selaku aset safe haven diproyeksikan bertahan kuat selaras dengan masih tingginya tensi geopolitik dunia.

 Situasi ini dinilai mengalirkan angin segar bagi HRTA yang mempunyai lini bisnis terintegrasi dari hulu hingga hilir.

"Dengan kapasitas produksi yang terintegrasi dan penetrasi ritel yang kuat, HRTA berada di posisi strategis untuk mengonversi tingginya harga emas domestik menjadi margin keuntungan yang optimal," ujar Nafan, Senin (29/6/2026).

Menurut Nafan, ekspansi jaringan toko juga bakal kian memperkokoh prospek perseroan. HRTA membidik penambahan 15 outlet baru pada tahun ini sehingga akumulasi outlet yang dikelola menyentuh 100 unit, naik dari 85 outlet pada akhir triwulan I-2026. 

Ketika melakukan pencatatan perdana di Bursa Efek Indonesia pada 2017, HRTA tercatat baru mengoperasikan 12 outlet.

Nafan menilai penambahan outlet bakal melebarkan pangsa pasar domestik sekaligus menaikkan aksesibilitas publik terhadap produk emas maupun perhiasan. 

Lewat karakteristik bisnis yang amat bertumpu terhadap jaringan distribusi, ekspansi itu diyakini mampu memaksimalkan volume penjualan secara terpadu dari aspek pengolahan sampai ritel.

Di samping disokong oleh perluasan outlet, Nafan mengingatkan bahwa raihan HRTA pada triwulan I-2026 pun masih merefleksikan fundamental yang kokoh, sehingga bertransformasi menjadi modal positif guna menyokong pertumbuhan hingga pengujung tahun. 

HRTA membukukan omzet senilai Rp 20,16 triliun atau melejit 196,96% secara tahunan (YoY). Sementara itu, laba bersih menyentuh Rp 433,49 miliar atau terkerek 189,48% YoY.

Dari aspek stimulus, Nafan memaparkan, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, mencakup dinamika pada jalur pelayaran Selat Hormuz serta ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran, tetap menjaga nilai emas dunia bertahan di atas kisaran US$ 4.000 per ons troi. Situasi tersebut berpeluang mendongkrak harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dari komoditas HRTA.

Selain itu, pembentukan ekosistem Bullion Bank domestik turut menjadi kans baru bagi perseroan. Selaku salah satu pemain emas terintegrasi paling masif di Indonesia, HRTA dinilai berpeluang bertindak menjadi rekan strategis pada pembentukan ekosistem bank emas nasional. 

Nafan menyebut, kolaborasi strategis HRTA bersama korporasi tambang besar, selevel Danusa Tambang serta Agincourt Resources, dapat menyokong stabilitas pasokan bahan mentah sekaligus memitigasi risiko kelangkaan emas untuk keperluan produksi.

Kendati demikian, ada sederet risiko yang wajib dicermati oleh pemodal. Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berisiko menaikkan ongkos pengadaan bahan baku lantaran transaksi emas global memanfaatkan mata uang dolar AS. 

Selain itu, sekiranya inflasi dunia kembali bergejolak dan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan rezim suku bunga tinggi, daya pikat emas selaku aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) berisiko didera koreksi jangka pendek.

Risiko lainnya bersumber dari nilai emas yang terus merangkak naik. Berdasarkan penuturan Nafan, harga emas domestik yang telah menembus kisaran Rp 2,6 juta per gram berpeluang menekan daya beli publik, khususnya untuk sektor perhiasan. 

Situasi ini dapat memicu pelanggan menunda agenda belanja atau beralih menuju komoditas dengan kadar emas yang lebih rendah.

Pada ranah internal, ekspansi outlet yang masif pun wajib diimbangi lewat pengelolaan struktur keuangan yang pruden. Nafan memberikan sorotan pada posisi kewajiban utang HRTA yang menyentuh kisaran Rp 10,1 triliun pada triwulan I-2026. 

Oleh sebab itu, Nafan pada saat ini masih menyarankan sikap wait and see terhadap saham HRTA.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua