Wall Street Jelang Libur: Dow Jones Cetak Rekor, Saham Chip Rontok

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 03 Juli 2026
Wall Street Jelang Libur: Dow Jones Cetak Rekor, Saham Chip Rontok
Ilustrasi Wall Street, bursa saham AS New York Stock Exchange. (Foto: UNSPLASH)

NEW YORK - Pasar saham Wall Street menunjukkan pergerakan yang variatif di mana indeks Dow Jones melonjak di atas 1 persen hingga menembus rekor penutupan paling tinggi menjelang libur panjang akhir pekan. 

Tren penguatan ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi, sehingga menepis kecemasan pasar terkait potensi lonjakan suku bunga.

Di pihak lain, koreksi tajam yang melanda saham-saham sektor produsen chip menjadi beban bagi indeks Nasdaq, sedangkan untuk indeks S&P 500 ditutup bergerak stagnan. 

Pada perdagangan hari Kamis (2/7/2026), indeks Dow Jones Industrial Average mendarat menguat sebesar 594,83 poin atau sekitar 1,14 persen menuju posisi 52.900,07.

Sementara itu, indeks S&P 500 terangkat tipis 0,01 poin menuju level 7.483,24 dan indeks Nasdaq Composite merosot senilai 207,36 poin atau sekitar 0,80 persen ke posisi 25.832,67. 

Indeks Dow Jones sukses membukukan tren kenaikan selama empat pekan beruntun, yang sekaligus menjadi rangkaian penguatan terlama sejak bulan Oktober 2024.

Melalui capaian tersebut, sepanjang pekan ini indeks Dow Jones menanjak sekitar 2 persen, S&P 500 menguat 1,8 persen, serta Nasdaq terangkat 2,1 persen.

 Aktivitas pasar modal Amerika Serikat dipastikan bakal diliburkan pada hari Jumat dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan data ketenagakerjaan non-pertanian Amerika Serikat, roda ekonomi di sana hanya mampu menambah 57.000 lapangan kerja pada bulan lalu, angka yang merosot jauh dari perkiraan para ekonom yang memproyeksikan penambahan sebesar 110.000. 

Sementara itu, tingkat pengangguran berada di level 4,2 persen, sejalan dengan proyeksi awal di angka 4,3 persen.

Laporan sektor tenaga kerja ini hadir setelah munculnya rangkaian penambahan lapangan kerja yang tergolong kokoh belakangan ini. 

Berdasarkan indikator CME FedWatch, ekspektasi terkait kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Federal Reserve langsung menyusut pasca-rilis data tersebut.

Menatap pertemuan kebijakan pada bulan September mendatang, probabilitas kenaikan suku bunga menyusut menjadi 55 persen dari posisi sebelumnya yang sempat menyentuh 64,1 persen. Laporan sektor pekerjaan "tidak berarti kekhawatiran inflasi telah berakhir," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

"Ini hanya mengurangi tekanan pada Fed untuk menaikkan suku bunga dalam jangka pendek," sebagaimana dilansir dari sumber berita. 

Para pelaku pasar sebelumnya sempat dilanda kecemasan terkait laju inflasi, terlebih setelah adanya lonjakan drastis pada harga minyak dunia di masa awal berkecamuknya perang Iran.

Di sisi lain, saham Apple meroket hingga 4,8 persen dan menjadi penyokong bagi performa ketiga indeks acuan utama. 

Berdasarkan laporan dari Nikkei Asia, pihak Apple tengah menyusun rencana untuk meluncurkan lima tipe perangkat iPhone teranyar.

Bertolak belakang dengan capaian tersebut, indeks sektor semikonduktor berakhir merosot sedalam 5,4 persen pada perdagangan hari Kamis, yang menandai kejatuhan tajam selama dua hari berturut-turut. 

Nilai saham Nvidia terkoreksi turun sebesar 1,4 persen, sementara saham SanDisk anjlok hingga 14,1 persen.

"Investor kemungkinan mengambil keuntungan dari saham chip setelah kenaikan yang kuat tahun ini," sebagaimana dilansir dari sumber berita. 

Kendati demikian, indeks sektor semikonduktor tercatat masih membukukan pertumbuhan sekitar 78 persen sepanjang tahun berjalan ini.

Pada perdagangan sesi tersebut, nilai saham Tesla merosot sedalam 7,5 persen meskipun emiten kendaraan listrik ini merilis data pengiriman untuk kuartal kedua yang melampaui estimasi. 

Saham Tesla sendiri terpantau sudah menguat signifikan sepanjang pekan ini sebelum laporan tersebut resmi dipublikasikan.

Di jajaran saham-saham lain yang menderita pelemahan, saham Bending Spoons mencatatkan penurunan sebesar 11,3 persen, tepat sehari sesudah perusahaan pemilik Vimeo tersebut sempat meroket hingga 40 persen pada momen debut perdananya di bursa Nasdaq.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua