Harga CPO Lanjut Turun Akibat Melemahnya Permintaan India

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Sabtu, 04 Juli 2026
 Harga CPO Lanjut Turun Akibat Melemahnya Permintaan India
Pekerja menunjukkan buah kelapa sawit usai dipanen. (Foto: ANTARA)

JAKARTA – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali bergerak turun pada Jumat (3/7/2026), yang sekaligus menandai kemerosotan selama dua minggu berturut-turut. 

Penurunan ini disebabkan oleh penguatan mata uang ringgit serta merosotnya nilai minyak nabati di Bursa Dalian, China, sehingga menekan sentimen para pelaku pasar.

Mengacu pada data BMD saat penutupan Jumat (3/7/2026), kontrak berjangka CPO untuk periode Juli 2026 menyusut 6 Ringgit Malaysia menjadi 4.439 Ringgit Malaysia per ton. 

Sementara itu, kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2026 merosot 20 Ringgit Malaysia ke angka 4.458 Ringgit Malaysia per ton.

Di sisi lain, kontrak berjangka CPO untuk September 2026 mengalami koreksi sebesar 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.480 Ringgit Malaysia per ton. 

Untuk kontrak berjangka CPO Oktober 2026 turun tajam 27 Ringgit Malaysia ke level 4.505 Ringgit Malaysia per ton.

Selanjutnya, kontrak berjangka CPO November 2026 terpangkas sebesar 27 Ringgit Malaysia menjadi 4.533 Ringgit Malaysia per ton. 

Sedangkan untuk kontrak berjangka CPO Desember 2026 ikut melemah 27 Ringgit Malaysia menjadi 4.559 Ringgit Malaysia per ton.

Berdasarkan laporan dari Tradingview, pergerakan transaksi perdagangan cenderung berjalan terbatas akibat penutupan pasar Chicago dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (AS).

Para pelaku pasar terpantau mengambil langkah waspada sembari menunggu rilis beberapa data krusial terkait suplai dan permintaan minyak nabati yang dijadwalkan terbit pada pekan depan.

Dalam perhitungan mingguan, nilai jual CPO diproyeksikan mengalami penurunan sekitar 1,5%, yang menjadi tren kemerosotan dalam dua minggu beruntun.

Faktor penekan utama bersumber dari menyusutnya angka permintaan dari India, yang berstatus sebagai negara pengimpor minyak kelapa sawit terbesar di dunia. 

Laporan menunjukkan bahwa volume impor minyak sawit oleh India pada Juni jatuh ke level paling rendah dalam kurun waktu 14 bulan terakhir.

Kemerosotan ini dipicu oleh lesunya tingkat penyerapan di pasar domestik India serta kian tipisnya disparitas harga antara CPO dengan komoditas minyak nabati kompetitor, sehingga meredam minat beli.

Kendati demikian, laju penurunan harga CPO ini mampu diredam oleh apresiasi harga minyak mentah dunia yang mendongkrak daya saing biodiesel berbasis sawit, ditambah dengan membaiknya kinerja permintaan ekspor.

Catatan dari lembaga survei kargo memperlihatkan bahwa volume ekspor minyak sawit asal Malaysia untuk rentang waktu 1–25 Juni mengalami kenaikan di kisaran 10,6% hingga 11,1% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan Mei.

Sentimen suportif lainnya datang dari dalam negeri Indonesia, di mana program mandatori biodiesel B50 telah resmi diimplementasikan mulai tanggal 1 Juli 2026. 

Regulasi baru tersebut diproyeksikan bakal mendongkrak volume pemakaian minyak sawit di pasar domestik, sehingga memperkuat prospek permintaan global untuk jangka menengah.

Walaupun masih dibayangi tekanan jangka pendek imbas melandainya serapan dari pasar India, pergerakan pasar tetap memantau peluang kenaikan konsumsi dari industri biodiesel serta pemulihan performa ekspor sebagai instrumen penyokong harga CPO di masa mendatang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua