Gapki Catat Nilai Ekspor Sawit April 2026 Tembus USD 3,38 Miliar

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 09 Juli 2026
Gapki Catat Nilai Ekspor Sawit April 2026 Tembus USD 3,38 Miliar
Pekerja menata kelapa sawit saat panen. (Foto: net)

JAKARTA — Sektor industri minyak sawit tanah air meneruskan tren pertumbuhan yang positif sepanjang empat bulan pertama tahun 2026. 

Komponen produksi, penyerapan pasar domestik, beserta volume ekspor secara kompak membukukan pertumbuhan, di sisi lain ketersediaan stok nasional mulai merosot seiring dengan semakin tingginya penyerapan di pasar lokal maupun pasar internasional. 

Kondisi ini membuktikan bahwa permintaan terhadap komoditas minyak sawit masih terhitung sangat kuat, baik demi mencukupi kebutuhan pangan maupun sektor energi.

Di sudut lain, menyusutnya ketersediaan stok dianggap bisa menjadi stimulus pertahanan bagi nilai jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dalam kurun beberapa bulan ke depan, khususnya jika aspek produksi mulai terhambat akibat ancaman cuaca kering pada paruh kedua tahun ini. 

Bersandarkan pada laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), perolehan produksi CPO pada April 2026 menyentuh angka 4,48 juta ton, alias naik sebesar 1,73% bila dikomparasikan dengan realisasi pada Maret yang berada di angka 4,40 juta ton. 

Perolehan produksi minyak inti sawit (palm kernel oil atau PKO) dibukukan merosot tipis menjadi 416.000 ton dari angka 424.000 ton pada bulan sebelumnya. 

Walakin, secara menyeluruh total produksi untuk CPO bersama PKO tetap merangkak naik sebesar 1,70% menuju angka 4,90 juta ton. 

Untuk hitungan kumulatif selama periode Januari–April 2026, akumulasi produksi menyentuh angka 20,46 juta ton atau melesat sebanyak 13,43% dibanding rentang waktu yang sama di tahun kemarin yang berada di level 18,03 juta ton.

Permintaan di pasar domestik pun memperlihatkan kecenderungan yang tetap solid. Sepanjang April, penyerapan minyak sawit nasional menyentuh 2,14 juta ton atau naik sebesar 1,23% jika disandingkan dengan bulan sebelumnya yang berada di level 2,11 juta ton. 

Lonjakan tersebut utamanya distimulasi oleh sektor biodiesel yang senantiasa menyedot pasokan dalam volume yang lebih masif. Penyerapan biodiesel merangkak naik 7,67% menjadi 1,13 juta ton bila disandingkan dengan angka 1,05 juta ton pada Maret. 

Sementara itu, penyerapan untuk sektor industri oleokimia ikut terangkat 6,79% menuju angka 173.000 ton. 

Kebalikannya, pemanfaatan minyak sawit demi pemenuhan pangan justru menghadapi penurunan sebesar 7,36% menjadi 831 ribu ton dari posisi sebelumnya yang mencapai 897 ribu ton. 

Secara kumulatif sampai dengan April, tingkat konsumsi lokal menyentuh angka 8,66 juta ton atau naik sebesar 6,06% dikomparasikan dengan rentang waktu yang sama pada tahun lalu.

Pada pasar global, tingkat permintaan sawit pun memperlihatkan grafik kenaikan di pasar internasional. 

Besaran volume ekspor untuk produk minyak sawit pada April melonjak sebanyak 28,09% menjadi 2,77 juta ton disandingkan dengan bulan Maret yang berada di angka 2,168 juta ton. Kenaikan ini berlangsung di hampir semua kelompok lini produk. 

Nilai pengapalan minyak sawit olahan terangkat menuju level 2,04 juta ton dari angka 1,50 juta ton. Ekspor CPO naik menjadi 153.000 ton dari level 96.000 ton, volume ekspor produk oleokimia naik menuju angka 486.000 ton dari posisi 468.000 ton, sedangkan untuk pengiriman minyak inti sawit olahan naik menuju angka 97.000 ton dari level 94.000 ton. 

Secara akumulasi kumulatif selama Januari–April, besaran volume ekspor menyentuh angka 11,32 juta ton atau tumbuh sebanyak 20,26% disandingkan dengan periode yang sama pada tahun kemarin. 

Permintaan paling masif berasal dari beberapa pasar utama seperti China, Afrika, India, Timur Tengah, Bangladesh, Pakistan, Amerika Serikat, serta Uni Europe. 

Sebaliknya, volume pengiriman ke Rusia dan Malaysia dibukukan mengalami penyusutan jika disandingkan dengan bulan sebelumnya.

Selaras dengan melonjaknya volume pengapalan, nilai ekspor dari produk sawit pada periode April 2026 terangkat menuju level US3,38miliardariangkaUS2,61 milar pada Maret, alias tumbuh sebanyak 29,50%. 

Sepanjang rentang waktu Januari–April 2026, nilai transaksi ekspor menembus angka US13,04miliar,melesatsebanyak20,5210,82 miliar pada periode yang sama di tahun kemarin. 

Kenaikan tersebut ditopang oleh kombinasi pertumbuhan volume ekspor serta harga rata-rata minyak sawit yang bertengger di kisaran US1.408 per ton CIF Rotter dam pada rentang Januari–April 2026, angka in iterhitung lebih tinggi disandingkan dengan posisi US1.211 per ton pada masa yang sama di tahun sebelumnya.

Dengan besaran stok awal April di angka 2,56 juta ton, volume produksi sebesar 4,90 juta ton, penyerapan pasar lokal sebanyak 2,14 juta ton, beserta volume ekspor di kisaran 2,77 juta ton, maka sisa stok pada akhir April 2026 dibukukan berada di angka 2,55 juta ton, alias turun tipis jika disandingkan dengan posisi pada akhir Maret yang berada di level 2,56 juta ton. 

Dengan proyeksi permintaan domestik yang berpotensi senantiasa merangkak naik, khususnya dari penerapan kewajiban biodiesel, serta aktivitas ekspor yang kembali bergairah, para pelaku industri memprediksi keseimbangan pada pasar minyak sawit akan tetap berada dalam kondisi yang relatif ketat. 

Situasi tersebut dinilai berpeluang besar dalam mempertahankan prospek nilai jual CPO tetap positif untuk jangka menengah, terlebih lagi apabila aspek produksi mulai menghadapi tantangan akibat dinamika fenomena El Niño pada penghujung tahun ini.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua