Sinergi BNI Pulihkan Ekosistem Teluk Pangpang Demi Geliat Ekonomi Pesisir Banyuwangi

Sinergi BNI Pulihkan Ekosistem Teluk Pangpang Demi Geliat Ekonomi Pesisir Banyuwangi
Senin, 02 Februari 2026 | 10:24:20 WIB

JAKARTA - Upaya penyelamatan lingkungan kini tidak lagi sekadar menanam pohon, melainkan membangun fondasi kesejahteraan bagi masyarakat yang mendiaminya. Di ujung timur Pulau Jawa, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

(BNI) tengah membuktikan bahwa pemulihan ekosistem dan penguatan daya beli warga bisa berjalan beriringan. Melalui program rehabilitasi mangrove di Teluk Pangpang, Banyuwangi, BNI memproyeksikan wajah baru pesisir yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim sekaligus mandiri secara finansial.

Hingga penghujung tahun 2025, inisiatif yang menjadi bagian dari pilar Inclusion & Resilience dalam tanggung jawab sosial perusahaan ini telah menunjukkan progres yang signifikan. Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas kondisi pesisir Teluk Pangpang yang sempat kritis akibat hantaman abrasi, alih fungsi lahan menjadi tambak secara masif, hingga praktik penebangan liar yang merusak tatanan alam.

Restorasi Lingkungan Berbasis Nilai Bersama

Program yang direncanakan berlangsung selama tiga tahun, mulai Agustus 2024 hingga Agustus 2027 ini, bukan sekadar proyek seremoni. BNI mengadopsi konsep Creating Shared Value (CSV), sebuah strategi bisnis yang menekankan bahwa kemajuan perusahaan harus selaras dengan kemajuan sosial dan lingkungan di sekitarnya. Dengan pendekatan ini, rehabilitasi tidak berhenti pada tahap penanaman, tetapi mencakup siklus hidup yang utuh mulai dari pembibitan yang teliti hingga pemeliharaan jangka panjang.

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menekankan pentingnya keberlanjutan dalam setiap jengkal langkah yang diambil perusahaan. Dalam keterangannya, beliau menggarisbawahi bahwa fokus utama BNI adalah menciptakan dampak yang dapat dirasakan hingga lintas generasi.

“BNI berkomitmen menjalankan program TJSL yang memberikan dampak nyata dan berkelanjutan, khususnya dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir,” ungkap Okki dalam pernyataan tertulisnya pada Jumat (30/1/2026).

Pernyataan ini mencerminkan visi perbankan modern yang tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga peduli pada kesehatan planet. Di Teluk Pangpang, targetnya jelas memulihkan benteng alami daratan dari ancaman air laut yang kian naik.

Dampak Ekologis dan Mitigasi Perubahan Iklim

Secara teknis, kembalinya rimbun mangrove di Teluk Pangpang membawa angin segar bagi keanekaragaman hayati. Hutan bakau yang kembali sehat berfungsi sebagai filter alami yang meningkatkan kualitas air laut di sekitar Banyuwangi. Efek domino positifnya pun mulai terlihat; habitat asli bagi biota laut seperti ikan lemuru yang menjadi kebanggaan daerah, hingga kepiting soka, kini perlahan pulih. Bahkan, kawasan ini kembali menjadi persinggahan favorit bagi burung-burung migrasi.

Lebih jauh lagi, BNI memosisikan proyek ini sebagai bagian dari kontribusi global dalam menekan emisi gas rumah kaca. Mangrove dikenal sebagai penyerap karbon (carbon sink) yang jauh lebih efektif dibandingkan hutan daratan biasa. Hal ini membuat inisiatif BNI sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada poin SDG 13 mengenai Aksi Iklim, SDG 14 terkait ekosistem laut, serta SDG 15 yang berfokus pada kehidupan di darat.

Melalui restorasi ini, Teluk Pangpang dipersiapkan menjadi tameng alami bagi pemukiman warga dari ancaman abrasi yang selama ini menghantui produktivitas lahan mereka.

Pemberdayaan Masyarakat dan Inklusi Gender

Keberhasilan sebuah program lingkungan sangat bergantung pada siapa yang menjaganya. Menyadari hal tersebut, BNI menggandeng Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Baret sebagai ujung tombak di lapangan. Namun, integrasi sosial yang dilakukan BNI melangkah lebih jauh dengan melibatkan kelompok-kelompok yang sering kali terpinggirkan, yakni kaum perempuan dan generasi muda pesisir.

Keterlibatan aktif elemen masyarakat ini bertujuan untuk memupuk rasa kepemilikan (sense of ownership). Jika masyarakat merasa memiliki dan mendapatkan manfaat langsung dari hutan mangrove tersebut, maka pengawasan terhadap penebangan ilegal akan muncul secara organik dari dalam komunitas itu sendiri.

Bagi BNI, masyarakat lokal bukan sekadar objek dari program, melainkan mitra strategis. Dengan melibatkan pemuda, regenerasi penjaga lingkungan dapat dipastikan tetap berjalan meski program secara formal telah berakhir nantinya. Pendidikan mengenai konservasi berbasis masyarakat ditanamkan melalui berbagai pelatihan intensif guna meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di wilayah tersebut.

Transformasi Ekonomi Lewat Eduwisata dan Pembibitan

Inti dari keberlanjutan program ini terletak pada bagaimana lingkungan yang sehat mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi warga. BNI telah merancang tiga intervensi utama dalam aspek ekonomi. Pertama, pengembangan konsep eduwisata mangrove. Teluk Pangpang tidak hanya akan menjadi hutan lindung, tetapi juga destinasi wisata edukatif yang mampu menarik wisatawan untuk belajar mengenai ekosistem pesisir.

Kedua, BNI memperkuat unit pembibitan mangrove sebagai sumber pendapatan alternatif. Bibit-bibit berkualitas yang dihasilkan oleh masyarakat dapat menjadi komoditas ekonomi yang bernilai tinggi. Ketiga, revitalisasi infrastruktur pendukung yang menunjang mobilitas sosial dan ekonomi warga sekitar.

Okki Rushartomo kembali menegaskan bahwa integrasi antara ekologi dan ekonomi adalah kunci utama. “Melalui rehabilitasi mangrove ini, BNI ingin memastikan bahwa upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat, sehingga tercipta manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang,” jelasnya.

Membangun Masa Depan Pesisir yang Tangguh

Ke depan, BNI berkomitmen untuk menjadikan model rehabilitasi di Banyuwangi ini sebagai cetak biru bagi aksi-aksi lingkungan di wilayah lain. Transformasi Teluk Pangpang menjadi bukti nyata bahwa sektor perbankan memiliki peran krusial dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan nasional.

Dengan berakhirnya program pada 2027 mendatang, diharapkan Teluk Pangpang telah bertransformasi menjadi kawasan pesisir yang mandiri. Hutan mangrove yang lebat tidak hanya akan melindungi daratan dari ombak, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi masyarakat Banyuwangi. Sinergi antara korporasi, masyarakat, dan alam ini diharapkan menjadi warisan berharga bagi ketahanan ekosistem di masa depan.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah