Revitalisasi TPA Jatibarang Mengubah Gunung Sampah Menjadi Solusi Energi Nasional yang Strategis
JAKARTA - Pemerintah Kota Semarang tengah mempersiapkan langkah revolusioner dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Meski secara finansial proyek ini tidak memberikan pemasukan langsung berupa rupiah ke kas daerah, dampak ekologis yang dihasilkan jauh lebih bernilai.
Proyek ini diproyeksikan mampu "memutihkan" kembali lahan seluas 90 hektare di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang yang selama ini terbebani oleh jutaan ton limbah domestik.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan bahwa orientasi utama pemerintah bukan pada keuntungan materiil, melainkan pada keberlanjutan lahan dan kesehatan lingkungan jangka panjang. Dengan volume sampah yang terus membengkak, PSEL menjadi satu-satunya jalan keluar yang rasional untuk mencegah krisis lahan pembuangan di Ibu Kota Jawa Tengah tersebut.
Prioritas Pemulihan Lahan dan Penghapusan Jutaan Ton Limbah
Dalam pandangan Pemkot Semarang, keberhasilan proyek PSEL tidak diukur dari dividen yang masuk ke Pendapatan Asli Daerah (PAD). Fokus utamanya adalah transformasi lahan. Selama puluhan tahun, TPA Jatibarang telah menjadi penampung utama sampah warga Semarang dengan akumulasi yang mencapai angka fantastis.
"Tapi kita dapat benefit bahwa 3 juta ton sampah yang mining, yang kayak tambang itu, habis. Kemudian setiap hari 1.000 (ton sampah) kiriman itu habis. Jadi dibayangkan bahwa kita nanti akan punya 90 hektare tanah di Jatibarang sana kosong," ujar Agustina saat memberikan keterangan usai peresmian Koperasi Kelurahan Merah Putih Sampangan, Jumat (30/1/2026).
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa nilai aset berupa 90 hektare lahan yang kembali bersih jauh melampaui keuntungan finansial jangka pendek. Lahan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai keperluan kota setelah terbebas dari gunungan sampah yang selama ini menyerupai area pertambangan limbah.
Urgensi Operasional PSEL demi Menghindari Krisis Daya Tampung
Kebutuhan akan teknologi PSEL di Semarang sudah masuk dalam kategori mendesak. Berdasarkan data teknis, PSEL membutuhkan pasokan setidaknya 1.000 ton sampah per hari sebagai bahan baku konversi energi. Angka ini selaras dengan produksi sampah harian Kota Semarang yang berkisar di angka 800 hingga 1.200 ton.
Agustina memaparkan kalkulasi matematis yang cukup mengkhawatirkan jika proyek ini terus tertunda. Dengan asumsi produksi sampah 1.000 ton per hari, dalam setahun Semarang akan menimbun sekitar 365 ribu ton sampah. Dalam dua tahun, jumlahnya melonjak hingga lebih dari 700 ribu ton. Sementara itu, stok sampah yang sudah menggunung (ekskavasi/mining) di TPA Jatibarang saat ini telah mencapai angka 3 juta ton.
"PSEL ini harus jalan, tidak bisa menunggu. Semakin menunggu, semakin tumpukan sampahnya semakin besar. Walaupun kita menambah 11 hektare, tidak cukup ini. Kemungkinan besar nanti dalam kurun waktu satu tahun akan penuh juga," tegasnya. Penambahan lahan 11 hektare yang dilakukan Pemkot dianggap hanya solusi sementara yang akan segera mencapai batas maksimalnya jika pola pengolahan masih menggunakan cara konvensional.
Sinergi Antarwilayah dan Kesiapan Infrastruktur Pendukung Semarang
Menyadari besarnya skala proyek ini, Pemkot Semarang tidak bergerak sendiri. Berbagai aspek teknis mulai dari penyediaan lahan, unit armada truk pengangkut, hingga koordinasi lintas wilayah telah dipersiapkan dengan matang. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah menjalin kerja sama dengan daerah tetangga, yakni Kabupaten Kendal, untuk menjamin stabilitas pasokan sampah jika diperlukan.
Proses pengadaan dan penunjukan pelaksana proyek kini berada di tangan Danantara. Pemerintah Kota Semarang saat ini dalam posisi siaga untuk mendampingi pemenang tender yang akan mengelola teknologi tersebut.
"Sekarang tinggal menunggu dari Danantara. Danantara akan proses-proses di sana, penunjukan, dan lain sebagainya. Begitu ada yang menang, baru nanti tahapan kami lagi mendampingi pemenang yang ditunjuk oleh Danantara," jelas Agustina. Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat realisasi teknologi waste-to-energy yang telah lama direncanakan.
Target Groundbreaking dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Modern
Meskipun TPA Jatibarang saat ini sudah menerapkan sistem sanitary landfill, metode tersebut memiliki keterbatasan ruang dan waktu. Proses penguburan sampah membutuhkan rotasi lahan yang memakan waktu lama, minimal satu tahun untuk lahan yang sama bisa digunakan kembali. Oleh karena itu, kehadiran PSEL dianggap sebagai substitusi teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Jika seluruh proses birokrasi dan penunjukan di Danantara berjalan sesuai rencana, pembangunan infrastruktur fisik PSEL di TPA Jatibarang dijadwalkan akan dimulai pada April 2026. Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk konstruksi hingga operasional penuh adalah sekitar 18 bulan setelah peletakan batu pertama (groundbreaking).
Melalui proyek ini, Semarang berharap dapat menjadi pionir dalam pembersihan lahan skala besar melalui teknologi energi terbarukan. Transformasi dari TPA tradisional menuju pusat pengolahan energi ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan masalah sampah, tetapi juga mengembalikan fungsi lahan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat luas di masa depan.