BMKG Memprediksi Delapan Puluh Empat Persen Wilayah Jawa Barat Hujan Menengah

BMKG Memprediksi Delapan Puluh Empat Persen Wilayah Jawa Barat Hujan Menengah
Senin, 02 Februari 2026 | 14:17:05 WIB

JAKARTA - Memasuki dasarian pertama bulan Februari 2026, masyarakat di Tatar Pasundan diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dinamis. Berdasarkan analisis terbaru, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Jawa Barat akan mengalami hujan dengan kriteria hujan menengah 50-150 milimeter pada dasarian awal 1-10 Februari 2026.

Fenomena ini dipicu oleh aktivitas atmosfer yang cukup aktif, yang berpotensi meningkatkan intensitas air hujan di berbagai titik, mulai dari wilayah pesisir utara hingga pegunungan di selatan.Menurut Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, mayoritas wilayah di Jawa Barat atau 84 persen akan didominasi oleh hujan kategori menengah.

Cakupan wilayah ini sangat luas, meliputi Kota dan Kabupaten Bogor, Depok, sebagian Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, sebagian Cirebon, Sukabumi, Cianjur, sebagian besar Purwakarta, Bandung Raya, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, Banjar, serta Ciamis selatan. Dengan dominasi hujan menengah ini, masyarakat diharapkan tetap siaga menghadapi potensi genangan dan penurunan jarak pandang saat berkendara.

Analisis Daerah Berisiko Curah Hujan Tinggi dan Status Siaga

Meskipun hujan kategori menengah mendominasi, terdapat titik-titik tertentu yang mendapatkan perhatian khusus karena potensi curah hujannya yang jauh lebih masif. BMKG mencatat sekitar 13 persen wilayah bercurah hujan tinggi, yaitu di Bekasi utara, Purwakarta timur, Sumedang, Majalengka, Cirebon tengah, Kuningan, dan Ciamis utara. Pada wilayah-wilayah tersebut, intensitas hujan diprakirakan bercurah hujan tinggi 200–300 milimeter per dasarian.

Kondisi ini menuntut kesiapan ekstra dari pemerintah daerah dan warga setempat. Adapun daerah yang diminta waspada terhadap curah hujan tinggi, menurut BMKG, yaitu Kabupaten Bekasi, Karawang, Sumedang, Cirebon, dan Ciamis, sedangkan yang perlu siaga adalah Majalengka dan Kuningan.

Di sisi lain, hanya terdapat 3 persen daerah diprakirakan bercurah hujan rendah 0-50 milimeter per dasarian, yaitu di selatan Cianjur. Kontrasnya perbedaan intensitas hujan ini menunjukkan betapa beragamnya kondisi geografis dan pengaruh atmosfer di Jawa Barat saat ini.

Faktor Dinamika Atmosfer dan Pertumbuhan Awan Konvektif

Terjadinya peningkatan curah hujan ini bukanlah tanpa alasan ilmiah. Prakirawan cuaca dari Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Diana Hertanti, menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor pendorong di lapisan udara.

Ia mengatakan dinamika atmosfer diprakirakan masih mendukung potensi suplai uap air dan pertumbuhan awan konvektif serta peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Jawa Barat, di antaranya suhu muka laut yang relatif hangat di sekitar perairan Indonesia. Suhu laut yang hangat ini menjadi "bahan bakar" utama bagi pembentukan awan hujan.

Selain faktor laut, pola sirkulasi angin juga memegang peranan penting. Pola belokan angin dan daerah konvergensi masih berpotensi terbentuk di wilayah Jawa Barat. Konvergensi atau pertemuan massa air ini memicu penumpukan awan di wilayah tertentu secara intens.

“Gelombang atmosfer diprakirakan aktif di sebagian Jawa Barat pada awal dan akhir pekan nanti,” kata Diana lewat keterangan tertulis, Ahad, 1 Februari 2026. Kondisi labilitas atmosfer yang berada pada kategori labil ringan hingga kuat semakin meningkatkan potensi terbentuknya awan konvektif pada skala lokal yang seringkali membawa hujan lebat secara mendadak.

Kalender Potensi Hujan Lebat dan Cuaca Ekstrem Sepekan

Bagi masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi, BMKG memberikan rincian jadwal potensi hujan sedang hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang yang dapat terjadi pada skala lokal dan berdurasi singkat selama sepekan, 2-8 Februari 2026.

Pada tanggal 2 Februari, hampir seluruh Jawa Barat termasuk Bekasi, Bogor, hingga Pangandaran terpantau berisiko. Memasuki 3 Februari, fokus risiko bergeser ke wilayah tengah seperti Depok, Bandung, hingga Ciamis. Sementara pada 4-5 Februari, wilayah Purwakarta, Cianjur, Sukabumi, dan Cirebon harus tetap berhati-hati.

Memasuki akhir pekan, potensi cuaca ekstrem tidak mereda. Pada Jumat 6 Februari hingga Sabtu 7 Februari, wilayah Bogor, Cimahi, Sumedang, hingga Tasikmalaya diprediksi masih mengalami hujan lebat disertai angin. Sedangkan pada 8 Februari di wilayah Bekasi, Depok, Cianjur, Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, Ciamis tetap masuk dalam zona waspada. Pola hujan singkat namun dengan intensitas "sangat lebat" ini menjadi ciri khas dari awan konvektif yang didukung oleh labilitas atmosfer saat ini.

Mitigasi Bencana Hidrometeorologi dan Imbauan Keselamatan

Mengingat tingginya potensi hujan sedang hingga sangat lebat, risiko terjadinya bencana hidrometeorologi menjadi ancaman nyata. BMKG mengimbau masyarakat dan instansi terkait untuk tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologis, seperti hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.

Masyarakat di kawasan perbukitan diminta untuk memantau kondisi tanah, sementara warga di daerah aliran sungai perlu mewaspadai kenaikan debit air yang tiba-tiba. Penting bagi setiap individu untuk memantau informasi cuaca secara berkala melalui saluran resmi BMKG guna menghindari risiko yang tidak diinginkan. Kesigapan dalam menghadapi anomali cuaca di awal Februari ini menjadi kunci utama dalam meminimalisir kerugian materiil maupun korban jiwa akibat dampak cuaca ekstrem di Jawa Barat.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah