Update Harga Sembako Jawa Timur 2 Februari 2026 Cabai Rawit Melambung
JAKARTA - Dinamika ekonomi di sektor pangan Jawa Timur kembali menunjukkan pergerakan yang signifikan pada awal Februari ini. Berdasarkan pantauan terbaru, sejumlah komoditas esensial mengalami tren kenaikan harga yang cukup terasa bagi dompet rumah tangga. Fenomena fluktuasi ini menjadikan aktivitas memantau harga pasar sebagai rutinitas yang tidak boleh diabaikan oleh masyarakat.
Dengan memahami pergeseran angka di pasar, warga diharapkan mampu mengatur strategi belanja harian secara lebih bijak agar kestabilan pengeluaran tetap terjaga di tengah situasi pasar yang tidak menentu.
Laporan dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur menunjukkan bahwa pada Senin, 2 Februari 2026, lonjakan paling mencolok terjadi pada kelompok hortikultura, khususnya cabai, serta beberapa produk olahan susu dan daging tertentu. Sementara itu, di sisi lain, belum terlihat adanya penurunan harga yang cukup signifikan untuk mengimbangi kenaikan tersebut.
Rincian Harga Bahan Pokok Utama di Pasar Jawa Timur
Sembilan bahan pokok atau sembako tetap menjadi primadona pengawasan karena merupakan fondasi gizi dan kebutuhan dasar rumah tangga. Komoditas ini mencakup beras, gula, minyak goreng, daging, telur, susu, bawang, gas elpiji, hingga garam. Sebagai panduan belanja Anda hari ini, berikut adalah daftar harga rata-rata komoditas di wilayah Jawa Timur:
Kelompok Beras dan Gula:
- Beras Premium: Rp 14.876/kg
- Beras Medium: Rp 12.918/kg
- Gula Kristal Putih: Rp 16.587/kg
Kelompok Minyak Goreng:
- Minyak Goreng Curah: Rp 18.673/kg
- Minyak Goreng Kemasan Premium: Rp 20.640/liter
- Minyak Goreng Kemasan Sederhana: Rp 17.387/liter
- Minyak Goreng Minyakita: Rp 16.390/liter
Kelompok Daging dan Telur:
- Daging Sapi Paha Belakang: Rp 119.548/kg
- Daging Ayam Ras: Rp 36.080/kg
- Daging Ayam Kampung: Rp 69.913/kg
- Telur Ayam Ras: Rp 27.442/kg
- Telur Ayam Kampung: Rp 45.841/kg
Analisis Kenaikan Tajam Harga Cabai dan Produk Susu
Tren kenaikan harga hari ini paling dirasakan pada komoditas cabai rawit yang menjadi bumbu wajib di dapur masyarakat Jatim. Harga cabai rawit merah meroket naik sebesar Rp 2.527 atau sekitar 4,08 persen, sehingga kini menyentuh angka Rp 64.405/kg. Tidak hanya rawit, varian cabai lainnya juga mengekor; cabai merah keriting naik Rp 574 (1,99 persen) menjadi Rp 29.374/kg, dan cabai merah besar naik Rp 459 (1,72 persen) menjadi Rp 27.204/kg.
Selain bumbu dapur, produk susu dan protein tertentu juga mengalami penyesuaian harga ke atas. Susu kental manis merek Bendera mengalami kenaikan sebesar Rp 223 (1,79 persen) menjadi Rp 12.667 per kaleng 370 gr. Hal serupa terjadi pada susu bubuk merek Bendera yang naik Rp 223 (1,79 persen) menjadi Rp 42.518 per dos 400 gr.
Di sektor daging, ayam kampung mengalami kenaikan harga sebesar Rp 885 atau 2,12 persen menjadi Rp 69.913/kg. Bahkan komoditas kecil seperti garam bata pun tak luput dari tren ini dengan kenaikan Rp 98 atau sebesar 5,55 persen menjadi Rp 1.866.
Faktor Multidimensional di Balik Pergeseran Harga Pangan
Ketidakstabilan harga sembako tidak terjadi secara instan, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor fundamental yang saling berkaitan. Salah satu pemicu utama adalah hukum permintaan dan penawaran; jika permintaan meningkat namun pasokan terbatas, maka harga secara otomatis akan terkerek naik.
Faktor cuaca ekstrem dan bencana alam juga memegang peranan krusial, terutama bagi komoditas pertanian seperti cabai dan bawang, di mana kegagalan panen dapat memangkas stok pasar secara drastis.
Selain faktor alam, kebijakan pemerintah terkait tarif impor, subsidi, serta regulasi pajak turut memberi dampak langsung. Biaya produksi yang membengkak akibat kenaikan harga pupuk, bahan baku, hingga upah pekerja juga menjadi alasan para pedagang menyesuaikan harga jual.
Tidak ketinggalan, faktor makroekonomi seperti inflasi dan fluktuasi nilai tukar mata uang (kurs) sangat berpengaruh pada bahan pokok yang masih bergantung pada jalur impor. Masalah distribusi, seperti kendala logistik dan transportasi, juga seringkali menjadi sumbatan yang memicu kelangkaan di tingkat pasar tradisional.
Pentingnya Pengawasan Pasar demi Stabilitas Ekonomi Rumah Tangga
Mengingat harga sembako bersifat dinamis dan dapat berbeda-beda di setiap pasar kabupaten/kota, pengawasan yang konsisten menjadi kunci bagi pemerintah dan masyarakat. Bagi konsumen, mengetahui harga rata-rata Jawa Timur seperti yang tercantum di atas sangat membantu untuk melakukan perbandingan harga saat berbelanja di pasar lokal. Misalnya, harga bawang merah saat ini berada di rata-rata Rp 33.845/kg, bawang putih Rp 32.805/kg, dan gas elpiji di kisaran Rp 19.891.
Kenaikan harga pada kebutuhan dasar seperti garam halus yang berada di angka Rp 9.217/kg serta kelompok minyak goreng yang masih cukup tinggi menuntut masyarakat untuk lebih cermat dalam menyusun skala prioritas.
Berbagai faktor yang mempengaruhi harga ini memerlukan pengawasan serta kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas pasar. Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah yang responsif dan perilaku konsumen yang cerdas, diharapkan gejolak harga pangan di Jawa Timur dapat lebih terkendali sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global.