Pertamina Hulu Energi Jaga Kedaulatan Energi Nasional Lewat Inovasi Teknologi Canggih

Pertamina Hulu Energi Jaga Kedaulatan Energi Nasional Lewat Inovasi Teknologi Canggih
Senin, 02 Februari 2026 | 15:11:04 WIB

JAKARTA - Di balik dinamika transisi energi global, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) justru semakin memperkokoh posisinya sebagai benteng pertahanan energi Indonesia. Sepanjang tahun 2025, Subholding Upstream Pertamina ini berhasil membuktikan ketangguhannya dengan mencatatkan produksi minyak dan gas bumi yang menembus angka psikologis 1,03 juta barel setara minyak per hari (BOEPD).

Prestasi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan hasil dari keberanian mengadopsi teknologi pionir yang mampu membangkitkan kembali potensi lapangan-lapangan tua di tanah air.

Meski realisasi produksi tahun 2025 tercatat sedikit di bawah pencapaian tahun sebelumnya yang berada di angka 1,045 juta BOEPD, performa PHE tetap stabil dengan rincian produksi minyak sebesar 557 ribu barel per hari (bph) dan gas bumi sebesar 2,76 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD).

Keberhasilan ini menjadi sinyal positif bahwa di tengah tantangan penurunan alami cadangan, efisiensi operasional dan ketajaman strategi eksplorasi mampu menjadi kunci keberlanjutan pasokan energi nasional.

Agresivitas Eksploitasi dan Eksplorasi Guna Memperkuat Cadangan Nasional

Sepanjang tahun 2025, PHE melakukan langkah-langkah luar biasa dalam aspek teknis di lapangan. Hal ini dibuktikan dengan realisasi pemboran eksploitasi sebanyak 886 sumur, serta pengerjaan workover pada 1.288 sumur. Tidak hanya itu, perusahaan juga sangat aktif dalam kegiatan well service yang mencapai 37.259 pekerjaan. Semua aktivitas ini bertujuan untuk memastikan sumur-sumur yang ada tetap beroperasi secara optimal dan produktif.

Di sisi eksplorasi, PHE tidak berhenti melakukan pencarian cadangan baru demi masa depan energi Indonesia. Perusahaan berhasil melaksanakan survei seismik 2D sepanjang 2.931 kilometer serta survei seismik 3D seluas 855 kilometer persegi.

Guna mendukung keberlanjutan cadangan migas, pemboran eksplorasi juga dilakukan sebanyak 20 sumur. Hasilnya sangat signifikan, di mana penemuan sumber daya migas kategori 2C mencapai 1.097 juta barel setara minyak (MMBOE). Kontribusi terbesar berasal dari sumur Migas Non-Konvensional (MNK) di area Aman Trough, Wilayah Kerja (WK) Rokan, sementara penambahan cadangan terbukti (P1) tercatat sebesar 313,7 MMBOE.

Inovasi Teknologi Multistage Fracturing Sebagai Pionir di Indonesia

Salah satu kunci keberhasilan Pertamina dalam menekan laju penurunan produksi alami pada lapangan-lapangan tua adalah penerapan teknologi mutakhir. Di Wilayah Kerja (WK) Rokan, Subholding Upstream Pertamina menerapkan teknologi Multistage Fracturing (MSF) pada sumur KB525 dan KB570.

Terobosan ini menempatkan Pertamina sebagai pionir dalam penggunaan teknologi MSF di industri hulu migas Indonesia, yang terbukti efektif dalam meningkatkan produktivitas sumur di formasi batuan yang menantang.

Hermansyah Y Nasroen, Corporate Secretary Subholding Upstream Pertamina, menegaskan bahwa capaian ini adalah buah dari efisiensi operasional. “Pencapaian produksi dan penambahan cadangan ini mencerminkan komitmen kami untuk terus menjaga keberlanjutan energi nasional. Di tengah tantangan industri, kami tetap fokus pada optimalisasi lapangan, percepatan proyek strategis, dan peningkatan kinerja eksplorasi,” ujar Hermansyah Y Nasroen.

Strategi ini terbukti ampuh, di mana PHR Zona 4 Regional Sumatera bahkan berhasil membukukan rekor produksi minyak tertinggi hingga 30 ribu barel minyak per hari (BOPD).

Keberhasilan Proyek Strategis Onstream dan Pencapaian Target Produksi

Tahun 2025 juga ditandai dengan selesainya sejumlah proyek strategis yang mulai beroperasi (onstream). Beberapa proyek kunci tersebut di antaranya adalah Proyek Sisi Nubi Area of Interest 1-3-5 di Pertamina Hulu Mahakam (PHM), Proyek CEOR Lapangan Minas Area A Stage-1 oleh Pertamina Hulu Rokan (PHR), serta proyek Lapangan Gas Senoro Selatan yang dikelola PHE Tomori. Kehadiran proyek-proyek ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kapasitas produksi nasional.

Selain itu, PHE terus menggali potensi melalui program Put on Production and Exploration (POPE) di beberapa sumur seperti Astrea, Pinang East, dan Akasia Prima. Keberhasilan pemboran di struktur strategis seperti Lembak – Kemang – Tapus hingga Karangan – Tanjung Miring Barat turut memberikan kontribusi positif terhadap total output perusahaan.

Menurut Hermansyah, kolaborasi antara teknologi, mitra kerja, dan pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan potensi migas Indonesia yang masih besar.

Optimalisasi Sumur Eksplorasi PPC-01 Melampaui Target Awal

Menutup kalender operasional tahun 2025, prestasi gemilang kembali diukir melalui sumur eksplorasi PPC-01 di Struktur Padang Pancuran yang dioperasikan oleh PHE Jambi Merang. Sumur ini berhasil onstream dengan hasil yang melampaui ekspektasi awal. Hingga tanggal 26 Desember 2025, realisasi produksi sumur PPC-01 tercatat mencapai 451,42 BOPD. Angka ini secara signifikan melampaui target awal yang dipatok sebesar 400 BOPD.

Keberhasilan di penghujung tahun ini memberikan optimisme baru bagi Pertamina untuk terus memacu kegiatan eksplorasi di masa depan. Sebagai Subholding Upstream, PHE berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan lapangan migas guna memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga.

Langkah-langkah strategis ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi saat ini, tetapi juga untuk menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah