Akselerasi Pembentukan BUMN Padat Karya Guna Memperluas Serapan Tenaga Kerja Nasional

Akselerasi Pembentukan BUMN Padat Karya Guna Memperluas Serapan Tenaga Kerja Nasional
Selasa, 03 Februari 2026 | 10:11:15 WIB

JAKARTA - Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Pemerintah Indonesia kini tengah menimbang langkah strategis untuk memperkuat struktur ketenagakerjaan domestik. Salah satu wacana yang mengemuka adalah percepatan pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor padat karya.

Langkah ini dipandang bukan sekadar ekspansi bisnis negara, melainkan sebuah intervensi krusial untuk menyediakan jaring pengaman sosial melalui ketersediaan lapangan kerja yang masif bagi masyarakat luas.

Solusi Konkrit Bagi Mayoritas Angkatan Kerja Pendidikan Rendah

Urgensi pembentukan BUMN padat karya ini didasari oleh realitas demografis tenaga kerja Indonesia yang cukup menantang. Pengamat ketenagakerjaan sekaligus Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, memberikan dukungannya terhadap rencana tersebut. Beliau menilai bahwa sektor seperti industri tekstil dan alas kaki memiliki daya serap yang sangat tinggi bagi masyarakat dengan latar belakang pendidikan menengah ke bawah.

Mengacu pada data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), terungkap fakta bahwa lebih dari 50% angkatan kerja di tanah air merupakan lulusan SD hingga SMP. Kelompok ini seringkali kesulitan untuk bersaing dalam pasar kerja modern yang didominasi oleh industri padat modal dan teknologi tinggi.

"Sektor padat karya memang sangat dibutuhkan, karena 53% angkatan kerja kita masih lulusan SMP ke bawah yang tentunya (apabila) mereka juga diharapkan untuk berkompetisi dengan para sarjana dengan skill yang cukup besar dan sebagainya, akan sangat tidak mampu," ujar Timboel.

Keberpihakan Pemerintah dalam Menjembatani Kesenjangan Kompetensi

Kehadiran BUMN padat karya diharapkan menjadi jawaban atas ketimpangan antara kualifikasi tenaga kerja yang tersedia dengan kebutuhan industri. Timboel menekankan bahwa pemerintah tidak boleh membiarkan angkatan kerja ini berjuang sendiri tanpa wadah yang memadai. Menurutnya, percepatan realisasi BUMN di sektor tekstil akan memberikan ruang bernapas bagi jutaan pencari kerja yang selama ini terpinggirkan oleh syarat kompetensi tinggi.

"Oleh sebab itu memang keberpihakan pemerintah untuk menjaring para pekerja angkatan kerja kita yang memang mayoritas lulusan SMP ke bawah itu harus dilakukan, seiring dengan peningkatan skill-nya," tambah Timboel.

Strategi ini dianggap lebih realistis dibandingkan hanya mengandalkan sektor padat modal yang secara alami hanya mampu menyerap tenaga kerja spesialis dalam jumlah terbatas. Dengan adanya BUMN khusus, pemerintah memiliki kontrol langsung untuk memastikan penyerapan tenaga kerja berjalan optimal di berbagai daerah.

Sinergi Peningkatan Skill dan Intervensi Teknologi Masa Depan

Meskipun fokus utama adalah industri padat karya, bukan berarti aspek kualitas diabaikan. Timboel menekankan bahwa penciptaan lapangan kerja ini harus berjalan beriringan dengan program peningkatan kompetensi yang berkelanjutan. Tujuannya adalah agar tenaga kerja Indonesia tidak terjebak pada pekerjaan kasar selamanya, tetapi memiliki kemampuan yang bisa ditingkatkan seiring perkembangan zaman.

Intervensi pemerintah menjadi kunci agar manfaat dari BUMN ini berdampak panjang bagi ekonomi lokal dan nasional. Timboel berpendapat bahwa persiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang matang akan memudahkan transisi industri jika suatu saat beralih ke teknologi yang lebih maju.

"Sehingga kalau pun ada (industri) padat modal dan teknologi, kita sudah menyiapkan sumber daya manusia atau SDM-nya. Harus ada intervensi dari pemerintah," tegasnya. Hal ini menunjukkan bahwa BUMN padat karya juga berperan sebagai kawah candradimuka bagi para pekerja.

Strategi Menghadapi Gejolak Global dan Dukungan Finansial Jumbo

Rencana pembentukan BUMN tekstil ini bukanlah wacana tanpa dasar. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto pada pertengahan Januari 2026. Sektor tekstil dan garmen sengaja dipilih sebagai "garda terdepan" karena industri ini dinilai paling rentan sekaligus paling berpotensi dalam menghadapi risiko kebijakan tarif dari negara-negara mitra dagang besar seperti Amerika Serikat.

Untuk merealisasikan visi besar ini, pemerintah telah menyiapkan amunisi finansial yang tidak main-main. Melalui BPI Danantara, dana segar sebesar US$ 6 miliar telah disiapkan sebagai modal awal. Alokasi dana tersebut nantinya tidak hanya digunakan untuk rekrutmen massal, tetapi juga untuk pengadaan barang modal yang efisien, penerapan teknologi baru yang tepat guna, serta penguatan strategi ekspor agar produk tekstil BUMN mampu bersaing di pasar mancanegara.

Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan Lewat Sektor Riil

Pada akhirnya, percepatan pembentukan BUMN padat karya diharapkan mampu menciptakan efek domino positif bagi perekonomian nasional. Dengan terserapnya jutaan tenaga kerja lulusan SMP ke bawah, daya beli masyarakat di tingkat akar rumput akan meningkat secara otomatis. Hal ini akan memperkuat fundamental ekonomi domestik dari sisi konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan PDB Indonesia.

Melalui komitmen yang kuat antara regulator, pengamat, dan eksekutor di lapangan, BUMN padat karya diharapkan dapat segera berdiri dan beroperasi. Dukungan penuh dari berbagai elemen seperti BPJS Watch menunjukkan bahwa ada harapan besar agar proyek ini tidak hanya menjadi wacana administratif, melainkan solusi nyata atas tantangan pengangguran dan kemiskinan di Indonesia.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah