Studi Terbaru Ungkap Bersepeda Lebih Ampuh Cegah Risiko Demensia Daripada Berjalan

Studi Terbaru Ungkap Bersepeda Lebih Ampuh Cegah Risiko Demensia Daripada Berjalan
Selasa, 03 Februari 2026 | 13:23:42 WIB

JAKARTA - Selama ini, jalan kaki sering kali dianggap sebagai aktivitas fisik paling praktis untuk menjaga kesehatan di usia senja. Namun, sebuah temuan mengejutkan dari para peneliti di Inggris mulai menggeser paradigma tersebut. Berdasarkan riset terbaru, aktivitas yang dikategorikan sebagai "perjalanan aktif" (active travel), terutama bersepeda, terbukti memberikan perlindungan yang jauh lebih kuat bagi otak manusia dibandingkan sekadar berjalan kaki biasa.

Penelitian ini membedah hubungan antara moda transportasi harian dengan kesehatan kognitif jangka panjang. Hasilnya menunjukkan bahwa cara kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain bukan hanya soal efisiensi waktu, melainkan juga investasi besar untuk menangkal penyakit degeneratif seperti Alzheimer. Penemuan ini menyoroti pentingnya intensitas dan jenis gerakan dalam mempertahankan volume otak seiring bertambahnya usia.

Analisis Risiko Demensia Berdasarkan Moda Perjalanan Masyarakat Urban

Dalam studi yang dipublikasikan melalui JAMA Network Open, para ahli melakukan pengamatan mendalam untuk memetakan bagaimana gaya hidup dalam melakukan perjalanan memengaruhi risiko demensia. Riset ini membagi kasus menjadi dua kelompok besar: demensia onset dini (sebelum usia 65 tahun) dan demensia onset lanjut (diagnosis pada usia 65 tahun ke atas).

Untuk mendapatkan data yang akurat, para peneliti mengklasifikasikan kebiasaan mobilitas peserta ke dalam empat kategori utama. Pertama adalah kategori nonaktif, yang mencakup penggunaan kendaraan pribadi atau transportasi umum. Kedua adalah mereka yang murni berjalan kaki.

Ketiga, kategori berjalan kaki campuran yang mengombinasikan langkah kaki dengan moda transportasi mesin. Terakhir adalah kategori bersepeda serta bersepeda campuran, yang melibatkan penggunaan sepeda sebagai sarana mobilitas utama maupun pendukung.

Keunggulan Bersepeda dalam Menekan Angka Penyakit Alzheimer Secara Signifikan

Hasil yang diperoleh memberikan gambaran yang kontras antara berjalan kaki dan bersepeda. Berdasarkan data yang dihimpun, individu yang rutin bersepeda atau menggabungkan bersepeda dengan moda transportasi lain memiliki profil risiko demensia yang jauh lebih rendah secara keseluruhan. Temuan ini sangat menonjol pada kasus demensia di usia lanjut.

Angka statistik menunjukkan perbedaan yang mencolok. Misalnya, menggunakan kombinasi berjalan kaki mengurangi risiko demensia secara keseluruhan sebesar 6%. Angka ini tampak kecil jika dibandingkan dengan manfaat bersepeda atau menggabungkan bersepeda dengan metode lain yang mampu menurunkan risiko hingga 19%.

Bahkan, pada kelompok usia muda, aktivitas bersepeda atau bersepeda campuran tampak memberikan perlindungan luar biasa dengan mengurangi risiko demensia sebesar 40%. Data ini menunjukkan bahwa tuntutan fisik dan koordinasi yang lebih kompleks saat bersepeda memberikan stimulus yang lebih kuat bagi otak.

Dampak Perjalanan Aktif Terhadap Volume Materi Abu-abu di Otak

Salah satu bagian paling menarik dari studi ini adalah ketika para peneliti meninjau hasil pemindaian otak para peserta. Ternyata, kebiasaan bersepeda berkaitan erat dengan kesehatan struktural otak. Ditemukan bahwa bersepeda dan menggabungkan bersepeda dengan metode perjalanan lain dikaitkan dengan sedikit peningkatan volume materi abu-abu (GMV) di bagian-bagian tertentu otak.

Penelitian ini mencatat peningkatan volume tersebut terjadi di hipokampus, sebuah wilayah krusial yang bertanggung jawab atas fungsi memori dan navigasi spasial. Sebaliknya, data menunjukkan fakta unik bahwa berjalan kaki dan menggabungkan berjalan kaki dengan moda perjalanan lain dikaitkan dengan volume materi abu-abu dan putih yang sedikit lebih kecil di beberapa area. 

Bahkan, catatan penelitian menunjukkan berjalan kaki saja tampaknya sedikit meningkatkan risiko penyakit Alzheimer sebesar 14%, tetapi bersepeda atau bersepeda campuran membantu mengurangi risikonya sebesar 22%.

Mengintegrasikan Gerakan Aktif ke Dalam Rutinitas Harian Demi Kesehatan

Memahami bagaimana perjalanan aktif memengaruhi risiko demensia dapat memicu perubahan berarti dalam kehidupan sehari-hari. Penemuan ini tidak berarti bahwa berjalan kaki menjadi tidak bermanfaat, namun memberikan perspektif baru bahwa intensitas yang sedikit lebih tinggi, seperti bersepeda, memberikan proteksi saraf yang lebih optimal. Perubahan kecil dalam cara kita bermobilitas dapat memberikan dampak jangka panjang yang masif bagi kesehatan mental.

Baik itu berjalan kaki ke toko terdekat, bersepeda ke tempat kerja, atau menikmati jalan-jalan santai di taman, perubahan sederhana ini dapat memberikan manfaat jangka panjang. Para ahli menyarankan masyarakat untuk mulai mengintegrasikan lebih banyak variasi gerakan dalam rutinitas untuk mendukung kesehatan otak. 

Dengan mengalihkan beberapa perjalanan pendek dari kendaraan bermotor ke sepeda, kita tidak hanya berkontribusi pada lingkungan, tetapi juga secara aktif membangun benteng pertahanan bagi otak kita sendiri.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah