Pemerintah Matangkan Rencana Makan Bergizi Gratis Menyasar Lansia Usia 75 Tahun

Pemerintah Matangkan Rencana Makan Bergizi Gratis Menyasar Lansia Usia 75 Tahun
Rabu, 04 Februari 2026 | 10:13:34 WIB

JAKARTA - Fokus program kesejahteraan nasional kini mulai merambah ke kelompok masyarakat yang paling membutuhkan perhatian khusus, yakni para lanjut usia (lansia). 

Pemerintah melalui sinergi antara Kementerian Sosial (Kemensos) dan Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menggodok skema perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Jika sebelumnya program ini identik dengan sektor pendidikan, kini arah kebijakan diperluas untuk menjamin asupan nutrisi para lansia, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Langkah strategis ini diambil untuk memastikan bahwa tidak ada warga negara yang tertinggal dalam mendapatkan akses pangan sehat, khususnya bagi mereka yang secara fisik sudah tidak lagi produktif. Program ini menjadi bukti kehadiran negara dalam menjaga kualitas hidup warga senior di seluruh penjuru tanah air.

Prioritas Utama Bagi Lansia Berusia di Atas 75 Tahun yang Sebatang Kara

Dalam tahap awal implementasinya, pemerintah telah menetapkan kriteria penerima manfaat yang sangat spesifik guna memastikan bantuan tepat sasaran. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa sasaran utama adalah kelompok usia senja yang tinggal tanpa pendampingan keluarga.

"Saya sudah berkoordinasi dengan Kepala BGN, Prof Dadan, untuk mematangkan rencana makan bergizi gratis untuk lansia yang usianya di atas 75 tahun dan tinggal sendirian. Kalau alokasinya sudah habis nanti baru di bawah 75 tahun," ujar Gus Ipul saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan. 

Penetapan batas usia 75 tahun ini didasari atas pertimbangan kerentanan fisik dan kebutuhan nutrisi yang lebih mendesak bagi kelompok umur tersebut.

Sinergi Data dan Eksekusi Melalui Satuan Pelayanan Pelayanan Gizi

Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada akurasi data kemiskinan dan persebaran lansia. Oleh karena itu, Gus Ipul menjelaskan bahwa pihaknya kini tengah melakukan pendataan intensif di berbagai daerah untuk memetakan calon penerima manfaat secara presisi. 

Data yang terkumpul nantinya akan menjadi basis kerja bagi Badan Gizi Nasional dalam mengeksekusi pendistribusian makanan.

"Jadi di SPPG yang ada di sekitar itu juga nanti melayani lansia dan penyandang disabilitas sesuai dengan data yang kami miliki atau data yang kami serahkan," ujar Gus Ipul.

Satuan Pelayanan Pelayanan Gizi (SPPG) yang tersebar di wilayah-wilayah akan berfungsi sebagai dapur umum sekaligus pusat distribusi, memastikan bahwa makanan yang diantarkan tetap dalam kondisi segar dan memenuhi standar gizi yang ditetapkan.

Skema Pendistribusian Langsung ke Rumah Melalui Pendamping Lansia Terlatih

Salah satu tantangan terbesar dalam program MBG untuk lansia adalah mobilitas penerima manfaat yang terbatas. Berbeda dengan pelajar yang berkumpul di sekolah, para lansia harus mendapatkan pelayanan langsung di tempat tinggal masing-masing. 

Pemerintah telah menyiapkan skema pendistribusian yang melibatkan tenaga pendamping profesional.Gus Ipul menjelaskan bahwa saat ini tenaga pendamping masih dalam tahap pelatihan dan asesmen. Namun, pemerintah tidak akan menunggu hingga pelatihan selesai sepenuhnya untuk memulai aksi nyata.

"Kita awali dengan pelatihan-pelatihan dulu tapi sebelum mereka misalnya belum selesai mengikuti pelatihan, ya kita akan menggunakan tenaga-tenaga yang mengirim ke rumah-rumah lansia dan penyandang disabilitas," jelas Mensos. 

Pengantaran langsung ke rumah ini menjadi krusial agar program ini benar-benar menyentuh mereka yang sulit bergerak atau mengalami kendala fisik.

Integrasi Anggaran dan Pembagian Tugas Antar Lembaga Pemerintah

Mengenai aspek pembiayaan, pemerintah telah menetapkan pembagian tugas yang jelas antara Kementerian Sosial dan Badan Gizi Nasional untuk menghindari tumpang tindih kewenangan. Gus Ipul memastikan bahwa anggaran utama untuk penyediaan makanan sepenuhnya berasal dari kantong BGN.

"Anggarannya nanti kita jadikan satu di BGN, sementara kami menyiapkan yang mengantarkan, yang merawat," tegas Gus Ipul. 

Dengan pembagian ini, Kemensos akan fokus pada aspek manajerial di lapangan, mulai dari pemutakhiran data hingga pengelolaan sumber daya manusia yang bertugas sebagai pengantar dan perawat. 

Kolaborasi antar-lembaga ini diharapkan mampu menciptakan sistem jaring pengaman sosial yang solid dan berkelanjutan bagi para lansia dan penyandang disabilitas di masa depan.

Upaya pemerintah dalam mematangkan rencana MBG ini menunjukkan bahwa investasi terbaik suatu negara memang terletak pada pemenuhan gizi rakyatnya, tanpa memandang usia. 

Program ini bukan sekadar bantuan pangan, melainkan bentuk penghormatan negara terhadap para lansia agar mereka dapat menjalani masa tua dengan layak dan sehat.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah