Disdik Palangka Raya Serahkan Teknis Makan Bergizi Gratis Selama Ramadan Kepada Sekolah

Disdik Palangka Raya Serahkan Teknis Makan Bergizi Gratis Selama Ramadan Kepada Sekolah
Jumat, 06 Februari 2026 | 09:29:36 WIB

JAKARTA - Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Dinas Pendidikan (Disdik) mengambil langkah adaptif terkait pelaksanaan program unggulan nasional, Makan Bergizi Gratis (MBG), selama bulan suci Ramadan tahun 2026. Menyadari adanya perubahan pola konsumsi dan aktivitas fisik siswa yang menjalankan ibadah puasa, otoritas pendidikan setempat memutuskan untuk memberikan kewenangan penuh atau otonomi teknis kepada masing-masing satuan pendidikan. 

Langkah ini diambil agar esensi pemenuhan gizi tetap terjaga tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah yang dijalankan oleh para peserta didik.Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani, menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi sekolah dalam menyesuaikan waktu dan mekanisme pembagian makanan. 

"Terkait teknis pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan puasa, sepenuhnya kita serahkan kepada pihak sekolah masing-masing untuk mengaturnya," ujar Jayani dalam keterangannya di Palangka Raya. Penyerahan wewenang ini diharapkan dapat melahirkan inovasi distribusi yang lebih relevan dengan kebutuhan lokal di tiap sekolah.

Penyesuaian Waktu Distribusi Makanan Bergizi Menjelang Waktu Berbuka Puasa Siswa

Salah satu opsi yang muncul dalam skema fleksibilitas ini adalah pengalihan waktu distribusi makanan. Jika pada hari biasa program MBG dilaksanakan pada jam makan siang sekolah, maka selama Ramadan, makanan dapat dibagikan mendekati waktu pulang sekolah. 

Hal ini memungkinkan siswa untuk membawa pulang paket makanan bergizi tersebut untuk dijadikan menu berbuka puasa di rumah bersama keluarga. Strategi ini dinilai lebih efektif dibandingkan membagikan makanan di pagi atau siang hari yang justru berisiko tidak segar saat dikonsumsi saat magrib.

Jayani menjelaskan bahwa sekolah memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi demografis dan kebutuhan siswanya. Dengan menyerahkan teknis kepada sekolah, diharapkan tidak ada makanan yang terbuang percuma (food waste). 

"Sekolah bisa mengatur apakah makanan dibagikan saat jam pulang agar bisa dibawa pulang untuk berbuka, atau ada mekanisme lain yang disepakati bersama orang tua murid," tambahnya. Fleksibilitas ini menjadi kunci agar program strategis pemerintah tetap berjalan selaras dengan kearifan lokal dan tradisi keagamaan yang kental di Palangka Raya.

Menjaga Kualitas Nutrisi Dan Higienitas Paket Makanan Di Masa Transisi

Meskipun teknis distribusi diserahkan kepada sekolah, Dinas Pendidikan tetap memberikan rambu-rambu ketat mengenai kualitas asupan yang diberikan. Kandungan gizi harus tetap memenuhi standar yang telah ditetapkan, mencakup karbohidrat, protein, sayuran, dan buah-buahan. Hal ini menjadi krusial karena selama berpuasa, tubuh siswa membutuhkan asupan nutrisi yang berkualitas untuk mengembalikan energi yang hilang setelah seharian beraktivitas di sekolah tanpa makan dan minum.

Pihak sekolah diminta untuk tetap berkoordinasi dengan penyedia katering atau unit pelaksana teknis yang ditunjuk guna memastikan makanan diolah dengan higienis. Mengingat waktu distribusi yang mungkin bergeser ke sore hari, ketahanan makanan menjadi perhatian utama. 

Jayani menekankan bahwa pengawasan internal sekolah harus ditingkatkan agar paket makanan tetap dalam kondisi layak konsumsi saat sampai di tangan siswa. "Kualitas gizi tidak boleh berkurang sedikit pun, meski waktunya disesuaikan. Kita ingin anak-anak tetap mendapatkan nutrisi terbaik untuk mendukung pertumbuhan mereka," tegasnya.

Sinergi Antara Pihak Sekolah Dan Orang Tua Selama Program Ramadan

Keberhasilan penyesuaian program MBG selama Ramadan ini sangat bergantung pada komunikasi yang efektif antara pihak sekolah dan orang tua murid. Dinas Pendidikan mendorong sekolah untuk melakukan sosialisasi terlebih dahulu mengenai perubahan jam pembagian makanan ini. 

Hal ini penting agar orang tua dapat menyesuaikan penyediaan menu berbuka di rumah dengan paket gizi yang didapatkan anak dari sekolah. Sinergi ini akan menciptakan efisiensi pengeluaran rumah tangga sekaligus memastikan anak mendapatkan asupan ganda yang sehat.

Selain itu, sekolah juga diharapkan dapat mengakomodasi siswa yang tidak menjalankan ibadah puasa agar tetap mendapatkan hak makan siangnya secara wajar di lingkungan sekolah. Jayani mengingatkan pentingnya sikap toleransi dalam pelaksanaan teknis ini. 

"Prinsipnya adalah keadilan dan kebermanfaatan. Sekolah harus memastikan baik siswa yang berpuasa maupun yang tidak, tetap terlayani dengan baik melalui pengaturan jadwal yang tepat," tuturnya. Pola komunikasi dua arah ini akan menjadi fondasi kuat dalam menjaga kelancaran program selama satu bulan penuh.

Optimisme Keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis Bagi Generasi Emas

Penerapan program Makan Bergizi Gratis di Palangka Raya selama Ramadan diharapkan menjadi percontohan manajemen krisis dan adaptasi kebijakan yang baik. Dengan memberikan kepercayaan kepada sekolah, Dinas Pendidikan optimis bahwa program ini akan semakin dicintai oleh masyarakat karena bersifat solutif dan tidak kaku. 

Pemerintah kota berkomitmen untuk terus mengevaluasi pelaksanaan di lapangan agar setiap kendala teknis dapat segera diatasi.Harapan besarnya adalah melalui konsistensi pemberian makanan bergizi, angka kecukupan gizi anak di Palangka Raya tetap terjaga meski dalam kondisi berpuasa. 

"Kita ingin mencetak generasi emas yang sehat dan cerdas. Bulan Ramadan bukanlah penghalang, justru menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian kita terhadap nutrisi anak-anak," tutup Jayani. Dengan koordinasi yang solid, program MBG di Palangka Raya diyakini akan memberikan dampak positif jangka panjang bagi kesehatan dan prestasi akademik siswa di wilayah tersebut.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah