Minuman Jamu Coro Khas Demak Tetap Jadi Primadona Menu Berbuka Puasa

Minuman Jamu Coro Khas Demak Tetap Jadi Primadona Menu Berbuka Puasa
Jumat, 27 Februari 2026 | 12:39:24 WIB

JAKARTA - Kelestarian kuliner tradisional di tengah serbuan minuman kekinian kembali terbukti dengan eksisnya jamu coro di Kabupaten Demak. Minuman berbahan rempah ini tetap menjadi buruan utama masyarakat setempat untuk membatalkan puasa di setiap sore Ramadan. Sensasi hangat dan khasiatnya yang luar biasa membuat jamu tradisional ini sulit digantikan oleh tren minuman modern lainnya.

Warisan Budaya Kuliner Demak

Jamu coro dikenal sebagai minuman khas Demak yang telah ada sejak masa kejayaan Kerajaan Demak. Keberadaannya bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan simbol sejarah yang terus dirawat oleh masyarakat pesisir Jawa Tengah tersebut. Jamu ini diracik sedemikian rupa dari campuran rempah pilihan seperti jahe, merica, dan pemanis alami dari gula jawa.

Perpaduan bahan-bahan tersebut menghasilkan cita rasa yang unik serta memberikan sensasi hangat seketika saat menyentuh tenggorokan. Selain menyegarkan setelah seharian menahan haus, jamu coro juga dipercaya dapat membantu memulihkan stamina bagi mereka yang baru saja berbuka. Kandungan rempahnya sangat efektif untuk menghangatkan tubuh dan mengembalikan energi yang hilang selama menjalankan ibadah puasa.

Tradisi Penjualan Turun Temurun

Latif, seorang penjual jamu coro di kawasan Jalan Bhayangkara, Demak, mengatakan usaha ini telah dijalankannya secara turun-temurun sejak neneknya. Ia merupakan generasi yang konsisten menjaga keaslian resep agar rasa yang dihasilkan tetap autentik bagi para pelanggan setianya. Selama bulan Ramadan, ia mulai membuka lapaknya setiap hari mulai pukul 14.30 WIB hingga menjelang waktu Magrib.

Kesetiaan Latif dalam menjajakan minuman tradisional ini membuahkan hasil yang manis karena selalu habis diserbu oleh para pembeli. “Alhamdulillah, setiap Ramadan selalu ramai. Dalam sehari bisa terjual ratusan porsi,” ujar Latif di Demak, Kamis, 26 Februari 2026. Antusiasme warga ini menunjukkan bahwa minat terhadap produk lokal yang sehat masih sangat tinggi di tengah masyarakat.

Harga Terjangkau Pelanggan Setia

Salah satu faktor yang membuat minuman ini tetap eksis adalah harganya yang sangat bersahabat bagi semua kalangan. Harga jamu coro yang terjangkau, berkisar Rp3.000 hingga Rp4.000 per porsi, turut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas. Dengan biaya yang relatif murah, warga sudah bisa menikmati segelas minuman hangat yang kaya akan manfaat kesehatan.

Hal ini menyebabkan mayoritas pembeli adalah pelanggan tetap yang rutin membeli jamu coro setiap kali bulan puasa tiba. Mereka rela antre demi mendapatkan sajian tradisional ini sebagai pelengkap menu takjil di meja makan rumah mereka. Kehadiran pembeli loyal ini menjadi bukti bahwa kualitas rasa jamu coro tidak pernah berubah meski waktu terus berganti.

Testimoni Kesegaran Jamu Tradisional

Salah seorang pembeli, Dwi Teguh, mengaku memilih jamu coro karena rasanya yang khas dan manfaatnya bagi tubuh. Ia merasa ada perbedaan yang signifikan antara mengonsumsi minuman instan dengan minuman yang kaya akan rempah alami ini. “Rasanya hangat dan pas diminum saat buka puasa. Selain itu, ini minuman tradisional yang jarang ditemui,” katanya dengan penuh semangat.

Pernyataan tersebut mencerminkan kerinduan masyarakat akan sajian yang asli dan mampu memberikan efek positif bagi kesehatan fisik. Jamu coro tidak hanya memuaskan lidah dengan rasa manis pedas jahe, tetapi juga memberikan ketenangan di perut. Inilah yang membuat banyak warga di Demak menjadikan jamu coro sebagai menu wajib saat berbuka puasa.

Eksistensi di Tengah Gempuran Zaman

Keberadaan jamu coro di tengah persaingan minuman kekinian membuktikan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat di masyarakat. Meskipun banyak pilihan minuman baru yang bermunculan, keaslian rasa dari rempah-rempah alami tetap memiliki daya pikat yang kuat. Masyarakat Demak seolah memiliki ikatan batin dengan jamu ini sebagai bagian dari identitas lokal mereka.

Momentum Ramadan dinilai sebagai kesempatan untuk terus menjaga dan melestarikan warisan kuliner khas Demak agar tidak hilang ditelan zaman. Upaya para penjual seperti Latif dan antusiasme pembeli seperti Dwi Teguh adalah kunci utama pelestarian budaya ini. Dengan terus mengonsumsi jamu coro, kita turut menjaga kekayaan cita rasa Nusantara agar tetap hidup bagi generasi mendatang.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah