JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 135,57 poin atau minus 1,98 persen ke posisi 6.723 pada Rabu (13/5) yang lalu.
Nilai transaksi yang dibukukan investor mencapai Rp19,79 triliun dengan volume saham yang ditransaksikan sebanyak 38,94 miliar lembar.
Sepanjang pekan kemarin, indeks saham terpantau melemah selama tiga hari perdagangan penuh. Kondisi tersebut membuat performa indeks melorot hingga 5,20 persen selama sepekan lalu.
Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad mengonfirmasi bahwa aktivitas perdagangan di bursa saham ditutup pada zona merah selama kurun waktu 11 hingga 13 Mei 2026 kemarin.
Dampaknya, nilai kapitalisasi pasar bursa menyusut 4,68 persen dari posisi Rp12.406 triliun menjadi Rp11.825 triliun pada minggu lalu.
Selaras dengan itu, rata-rata volume transaksi harian pun merosot 22,01 persen dari sebelumnya 45,86 miliar menjadi 35,76 miliar lembar saham.
Di samping itu, rata-rata nilai transaksi harian ikut terpangkas 18,78 persen menjadi Rp18,82 triliun dari semula Rp23,05 triliun.
Penurunan juga melanda rata-rata frekuensi transaksi harian sebesar 0,56 persen, yakni dari 2,55 juta kali transaksi menjadi 2,53 juta kali transaksi pada akhir pekan lalu.
"Adapun investor asing hari ini mencatatkan nilai jual bersih Rp1,531 triliun dan sepanjang tahun 2026 ini, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp40,823 triliun," katanya, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber.
Melihat kondisi tersebut, bagaimana prediksi arah pergerakan IHSG untuk satu minggu ke depan?
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai laju IHSG pada perdagangan Senin (18/5) berpotensi bergerak bervariasi (mixed) dengan kecenderungan melemah dalam rentang terbatas.
Dirinya memproyeksikan IHSG akan bermain di area support 6.645 dan resistance 6.840.
"Pasar akan dipengaruhi sentimen keputusan RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI yang diperkirakan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen seiring upaya menjaga stabilitas rupiah yang sudah berada di level Rp17.590 per dolar AS," ujar Oktavianus, Minggu (17/5).
Ia berpendapat bahwa pelaku pasar kemungkinan hanya akan memberikan respons yang biasa saja terhadap kebijakan Bank Indonesia tersebut, mengingat IHSG sudah mengalami tekanan yang cukup besar sepanjang pekan lalu.
Bukan hanya itu, Audi menyebut ketegangan di Selat Hormuz masih menjadi pusat perhatian para investor.
Sampai saat ini, eskalasi konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda ataupun adanya langkah nyata menuju perdamaian, sehingga harapan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai masih sangat kecil.
Situasi geopolitik tersebut ikut memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga menyentuh US$109 per barel atau terkerek naik 3,35 persen. Ketidakpastian global ini diprediksi masih akan direspons secara negatif oleh pelaku pasar.
Faktor luar lainnya datang dari aksi tata ulang portofolio (reposisi) para pemodal menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai penghapusan beberapa saham dari indeksnya.
Keputusan ini dinilai berisiko memberikan tekanan tambahan bagi pergerakan sejumlah saham terkait.
Lewat analisis teknikal yang dilakukan, Oktavianus pun membagikan beberapa saham potensial yang layak dicermati.
Pertama, ada saham PT Rukun Raharja Tbk atau RAJA yang pada pekan lalu ditutup melonjak 5,52 persen ke angka 4.400. Ia memproyeksikan RAJA berpeluang melaju ke level 4.700 pada pekan ini.
Kedua, saham PT RMK Energy Tbk atau RMKE yang bertengger di posisi 3.300 setelah menguat 2,80 persen pada pekan lalu. Oktavianus memprediksi RMKE mampu mengejar target ke level 3.720 untuk minggu ini.
Di sisi lain, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan bahwa indeks saham domestik masih berisiko melanjutkan koreksinya dalam sepekan ke depan, dengan estimasi area support di 6.510 dan resistance di 6.917.
Ia menuturkan bahwa pergerakan pasar ke depan bakal dipengaruhi oleh kombinasi sentimen dari dalam maupun luar negeri.
Menurut pandangannya, para pemodal masih terus memantau dinamika konflik di Timur Tengah yang berisiko memicu volatilitas di pasar finansial global.
Selain itu, aksi lepas saham dan keluarnya modal asing (outflow) dari pasar domestik diproyeksikan masih terus berjalan akibat dari rebalancing indeks MSCI.
Dari koridor domestik, pasar tengah menanti pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia yang diproyeksikan bertahan di angka 4,75 persen.
"Investor masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, tekanan jual dan outflow dari IHSG terkait rebalancing MSCI, serta rilis BI rate yang diperkirakan tetap di level 4,75 persen," katanya.
Herditya menyambung bahwa pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap menjadi poin krusial yang diperhatikan investor karena dampaknya yang besar pada psikologis pasar keuangan dalam negeri.
Oleh karena itu, ia menyarankan pelaku pasar untuk memperhatikan saham-saham dari perusahaan yang direkomendasikannya.
Herditya menyodorkan saham PT Darma Henwa Tbk atau DEWA yang menguat 2,11 persen ke level 484 pada pekan lalu. Dirinya memperkirakan DEWA bisa menembus level 595 pada pekan ini.
Berikutnya, ada saham PT Indika Energy Tbk atau INDY yang bertengger di posisi 3.070 pada akhir pekan kemarin. Ia memproyeksikan INDY berpotensi menuju level 3.440 di minggu ini.
Terakhir, Herditya juga mengunggulkan saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk atau WIFI yang mendarat di level 2.250 pada penutupan pekan lalu. Ia meramal WIFI memiliki peluang naik ke level 2.710 untuk pekan ini.
Catatan Redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.