Jelang Iduladha, Harga Cabai di Jabar Naik tapi Pasokan Aman
- Senin, 18 Mei 2026
BANDUNG — Nilai jual sejumlah bahan pangan pokok di wilayah Jawa Barat mulai merangkak naik mendekati Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha 2026.
Salah satu jenis komoditas yang menjadi pemicu utama lonjakan tersebut ialah cabai, yang harganya melambung lantaran tersendatnya pasokan dari wilayah pusat produksi.
Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat mendata bahwa nilai jual untuk cabai rawit merah serta cabai merah besar melonjak di atas 5% jika disandingkan dengan pekan lalu.
Baca JugaHarga Daging Sapi di Mimika Stabil Rp 145 Ribu Jelang Idul Adha
Walau terjadi lonjakan, pihak pemerintah memberikan jaminan bahwa stok pangan bagi warga tetap berada pada posisi aman.
Kepala DKPP Jawa Barat, Linda Al Amin, memaparkan bahwa secara keseluruhan nilai jual bahan pangan di wilayah Jawa Barat terhitung cukup stabil. Kendati demikian, sejumlah komoditas hortikultura mulai merangkak naik karena tingkat produksi yang menyusut dan melonjaknya angka permintaan mendekati Iduladha.
“Secara umum, harga pangan relatif stabil, tetapi ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan cukup signifikan, seperti cabai rawit merah dan cabai merah besar,” ujarnya pada Jumat (15/5/2026).
Merujuk pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) per 15 Mei 2026, nilai jual cabai rawit merah pada tingkat konsumen di Jawa Barat sudah menyentuh Rp75.872 per kilogram atau melonjak 11,32% dari pekan sebelumnya.
Angka tersebut sudah melewati Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah di angka Rp40.000–Rp57.000 per kilogram.
Berada di posisi 33,11% di atas batas acuan, komoditas ini pun masuk dalam list kategori waspada pada indikator stabilitas harga pangan.
Sementara itu, nilai jual cabai merah besar melonjak 10,38% ke angka Rp55.338 per kilogram. Di sisi lain, harga untuk cabai merah keriting naik sebesar 3,26% ke angka Rp47.551 per kilogram dan posisinya masih berada di dalam batas HAP konsumen.
Linda memaparkan bahwa lonjakan nilai jual cabai ini dipicu oleh menyusutnya pasokan dari wilayah sentra produksi yang disebabkan oleh cuaca kemarau serta serangan hama tanaman.
“Kenaikan harga aneka cabai disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari sentra produksi, faktor cuaca kemarau, serta terjadi serangan penyakit patek serta layu fusarium yang mengganggu produksi dan produktivitas,” katanya.
Bukan hanya itu, pembengkakan ongkos distribusi karena adanya penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) beserta melonjaknya permintaan mendekati Iduladha ikut memicu kenaikan harga di pasar.
“Meningkatnya biaya distribusi yang disebabkan adanya kenaikan BBM serta meningkatnya permintaan menjelang HBKN Iduladha turut memengaruhi harga,” tambahnya.
Pada sudut pandang lain, DKPP memberikan kepastian bahwa sampai saat ini belum ditemukan indikasi kelangkaan pangan pokok di Jawa Barat.
Berdasarkan data neraca pangan April 2026 dari 27 kabupaten/kota, segala kebutuhan warga masih dapat terpenuhi, baik lewat hasil produksi lokal maupun suplai antardaerah.
“Ketersediaan pangan strategis di Jawa Barat tidak mengalami kelangkaan. Kebutuhan masyarakat Jawa Barat dapat terpenuhi baik dari produksi dalam daerah maupun adanya pasokan dari luar Jawa Barat,” ujar Linda.
Dia mengakui bahwa ketahanan simpanan stok untuk beberapa komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai rawit tergolong rendah.
Kendati demikian, situasi tersebut masih bisa ditanggulangi lewat pasokan yang didatangkan dari Jawa Tengah serta Jawa Timur.
Merujuk pada data PIHPS Nasional, selain komoditas cabai, beberapa bahan pangan lainnya pun ikut mengalami lonjakan harga.
Bawang merah ukuran sedang melonjak hingga 51,35% ke angka Rp70.150 per kilogram, bawang putih ukuran sedang terkerek 39,95% ke angka Rp54.650 per kilogram, dan telur ayam ras segar naik sebanyak 33,92% menjadi Rp41.850 per kilogram.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026











