Update Harga Minyak Dunia Melonjak ke Level Tertinggi dalam Dua Pekan

Selasa, 19 Mei 2026 | 10:45:39 WIB
Harga minyak dunia bergerak menguat pada perdagangan. (Foto: kompas.com)

JAKARTA - Harga minyak mentah global meroket tajam hingga menyentuh angka tertinggi dalam dua minggu terakhir pada sesi perdagangan Senin (18/5/2026). 

Lonjakan harga ini dipicu oleh kecemasan pelaku pasar atas potensi tersendatnya pasokan minyak akibat eskalasi konflik di Iran.

Melansir laporan Reuters via Investor Daily, minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli terkerek naik sebesar US$ 2,84 atau berkisar 2,6 persen, dan menyentuh posisi US$ 112,10 per barel saat penutupan. Ini menjadi rekor harga penutupan paling tinggi bagi Brent semenjak tanggal 4 Mei.

Pada saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni naik signifikan sebesar US$ 3,24 atau 3,1 persen menuju angka US$ 108,66 per barel. Posisi penutupan ini menjadi yang tertinggi bagi WTI semenjak tanggal 7 April.

Pergerakan harga komoditas energi tersebut terpantau sangat fluktuatif mendekati masa kedaluwarsa kontrak WTI Juni pada hari Selasa. 

Di sepanjang sesi perdagangan Senin, harga WTI bahkan sempat melejit di atas US$ 4 per barel, walau kemudian sempat berbalik merosot lebih dari US$ 2.

Ketakutan pasar internasional utamanya berakar dari risiko pemblokiran jalur distribusi di Selat Hormuz. 

Selat ini dikenal sebagai jalur krusial bagi logistik energi global yang mengakomodasi sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia.

Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol mengungkapkan bahwa persediaan minyak komersial dunia terus menipis dalam waktu cepat. 

Kondisi ini dipicu oleh dampak konflik yang berkepanjangan serta penutupan akses perairan di Selat Hormuz.

Menurut Birol, kebijakan penggelontoran cadangan strategis memang sanggup menambah suplai berkisar 2,5 juta barel per hari ke pasar internasional. 

Namun, dia menegaskan bahwa cadangan tersebut tidak akan mencukupi untuk menopang kebutuhan dalam jangka panjang.

Di tengah ketegangan itu, gejolak pasar sempat agak mereda menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda rencana serangan ke Iran yang semula dijadwalkan pada hari Selasa. 

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, turut mengabarkan bahwa AS mulai membuka kemungkinan untuk menghapus sanksi minyak Iran selama tahapan negosiasi berjalan.

Pakistan selaku penengah perdamaian dilaporkan telah meneruskan draf proposal terbaru dari Iran kepada pihak AS. 

Kendati kondisi gencatan senjata saat ini dinilai masih sangat rentan, diplomasi di antara kedua belah pihak belum membuahkan perkembangan yang signifikan.

Mengenai situasi ini, Donald Trump sempat menyebut situasi gencatan senjata yang ada sekarang sedang bertahan di ujung tanduk.

Badan analisis Capital Economics mengingatkan risiko fatal apabila Selat Hormuz tidak kembali beroperasi dalam beberapa minggu ke depan. 

Perekonomian global diproyeksikan bakal mengalami perlambatan yang lebih dalam yang dibarengi dengan lonjakan inflasi.

Capital Economics memprediksi angka inflasi di Inggris dan kawasan euro berpeluang menembus tingkat 5 hingga 6 persen. 

Konsekuensinya, jajaran bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve, berpotensi kuat untuk mengerek kembali suku bunga acuan mereka.

Efek negatif dari mahalnya biaya energi pun mulai nampak pada kelesuan ekonomi di China. Data resmi dari pemerintah setempat memperlihatkan output industri dan angka penjualan ritel di negara itu melemah sepanjang bulan April akibat tingginya harga energi serta lesunya daya beli domestik.

Situasi ekonomi ini akhirnya berimbas pada volume pengolahan minyak mentah di China yang merosot ke titik terendah sejak Agustus 2022. 

Kemerosotan ini sejalan dengan menurunnya produktivitas kilang di negara yang berstatus sebagai konsumen minyak terbesar kedua di dunia tersebut.

Terkini