Wall Street Jatuh, Indeks Nasdaq Ambrol 4 Persen Akibat Suku Bunga
JAKARTA – Pasar saham Wall Street ditutup melemah pada Jumat (5/6/2025) yang mencatatkan koreksi paling dalam sejak Oktober tahun kemarin.
Situasi ini disebabkan oleh penurunan pada saham-saham sektor teknologi yang sensitif terhadap suku bunga serta saham emiten chip, menyusul lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat pascarilis laporan data tenaga kerja bulan Mei.
Merujuk pada data dari laman Investing pada Sabtu (6/6/2026), ketegangan konflik di Timur Tengah pun semakin memanas sesudah Hizbullah menolak gencatan senjata dengan Israel dan Lebanon.
Transaksi saham di Amerika Serikat pada minggu pertama Juni diakhiri dengan kerugian. Kondisi ini diperparah oleh minimnya kemajuan menuju perdamaian di Iran, terhentinya tren positif yang disokong oleh kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya spekulasi mengenai dongkrak suku bunga.
Indeks S&P 500 mengalami penurunan 2,6 persen ke posisi 7.384,59 poin, sementara indeks Dow Jones Industrial Average merosot 1,4 persen ke level 50.866,78 poin.
Adapun indeks NASDAQ Composite yang didominasi sektor teknologi mendapat tekanan besar, yaitu ambles 4,2 persen ke level 25.709,43 poin, yang menjadi kinerja harian paling buruk sejak awal April 2025.
Para pelaku pasar memfokuskan perhatian penuh pada laporan data tenaga kerja Mei yang dirilis Jumat demi membaca arah kebijakan moneter mendatang.
Berdasarkan catatan Biro Statistik Tenaga Kerja AS, penambahan jumlah lapangan kerja di sektor non-pertanian menyentuh 172 ribu sepanjang bulan kemarin, angka ini melampaui estimasi awal yang berada di angka 85 ribu.
Tingkat pengangguran bertahan stabil di posisi 4,3 persen. Di sudut lain, total pertumbuhan tenaga kerja non-pertanian untuk bulan Maret dan April ikut direvisi naik sebesar 93 ribu.
Data tersebut dipublikasikan seusai berbagai indikator pasar tenaga kerja pekan ini memperlihatkan bahwa aspek lapangan kerja dalam mandat ganda Federal Reserve masih aman, sementara fokus utama saat ini bergeser pada isu inflasi.
Tingginya harga minyak dan tekanan harga yang terus merangkak naik kemungkinan membuat opsi pemangkasan suku bunga tidak lagi menjadi prioritas.
Bahkan, para pelaku pasar merespons data tersebut dengan meningkatkan prediksi peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Spekulasi kenaikan suku bunga juga mengikis minat terhadap obligasi pemerintah, di mana aksi lepas oleh investor menyebabkan kenaikan pada imbal hasil Treasury.
Nilai mata uang dolar ikut menguat, mengingat suku bunga tinggi biasanya akan meningkatkan daya tarik dolar AS. Menurut instrumen CME FedWatch, pasar saat ini sudah memperhitungkan kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin hingga akhir tahun.
Laporan ini keluar di tengah masa transisi kepemimpinan The Fed dari Jerome Powell menuju Kevin Warsh. Presiden Donald Trump sendiri sudah berulang kali mendesak agar suku bunga diturunkan sejak awal masa jabatannya.
"Beberapa bulan yang lalu, opini yang berlaku adalah bahwa Federal Reserve akan menghadapi dilema yang tidak nyaman yang mempertentangkan kedua bagian dari mandat ganda mereka. Laporan hari ini menghilangkan konflik apa pun antara mandat tersebut. Jika pasar tenaga kerja kuat dan kebuntuan di Selat Hormuz terus menimbulkan tekanan harga, itu menghilangkan hambatan untuk kenaikan suku bunga," kata Steve Sosnick, kepala strategi di Interactive Brokers, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
"Kemarin, harga kontrak berjangka Fed Funds memperkirakan peluang kenaikan suku bunga hingga Desember sebesar 67 persen. Sekarang harga kontrak berjangka tersebut memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 100 persen ditambah 7 persen peluang kenaikan tambahan sebelum akhir tahun. Hal ini meningkatkan suku bunga Fed Funds efektif sekitar 11 basis poin, yang sepenuhnya tercermin dalam imbal hasil obligasi Treasury 2 tahun," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Lonjakan imbal hasil tersebut ikut membebani pasar saham, terutama saham teknologi yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga, yang sebelumnya sudah mengalami tekanan setelah sempat membukukan reli yang luar biasa.