Pasar Volatil, Perusahaan Diminta Gunakan IPO untuk Transformasi
JAKARTA – Situasi ketidakpastian dan fluktuasi pasar keuangan yang masih membayangi saat ini dipandang tidak semestinya membuat korporasi mengurungkan niat untuk melantai di bursa.
Sebaliknya, situasi pasar yang penuh tantangan justru bisa dipergunakan untuk mengokohkan fondasi bisnis dan mematangkan kesiapan menuju penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO).
CEO SW Indonesia, Michell Suharli, mengutarakan bahwa mutu korporasi akan menjadi elemen primer yang menetapkan keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang, terlepas dari situasi pasar yang tengah naik turun.
"Market challenge is temporary. Business quality is permanent. Kualitas perusahaanlah yang akan menentukan keberlanjutan jangka panjang," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (11/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut Michell, fase persiapan IPO tidak semata-mata berhubungan dengan langkah mengumpulkan modal dari pasar saham saja.
Fase tersebut semestinya menjadi katalis bagi korporasi untuk memantapkan tata kelola perusahaan, sistem kendali internal, serta profesionalisme jajaran manajemen.
Ia berpendapat, IPO semestinya dimaknai sebagai bagian dari strategi eskalasi dan transformasi bisnis, bukan cuma sekadar langkah korporasi demi memperoleh kucuran dana.
"Perusahaan yang mempersiapkan IPO dengan baik akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk tumbuh secara berkelanjutan dan menghadapi berbagai dinamika bisnis di masa depan," jelasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di tengah ekosistem bisnis yang kian menuntut keterbukaan dan akuntabilitas, para pemodal saat ini juga kian selektif dalam mengalokasikan modal mereka.
Bukan hanya peluang pertumbuhan yang dicermati, melainkan juga mutu tata kelola korporasi serta kapasitas manajemen dalam mengendalikan risiko.
Vice Director of Listed Company Development Bursa Efek Indonesia (BEI), Listyorini Dian Pratiwi, mengutarakan bahwa implementasi tata kelola perusahaan yang sehat menjadi salah satu elemen krusial untuk mempertahankan kelangsungan usaha sekaligus mendongkrak daya pikat di hadapan pemodal.
"Investor akan lebih tertarik pada perusahaan yang memiliki pertumbuhan dan tata kelola yang kuat. Oleh karena itu, perusahaan tercatat perlu terus memperhatikan penerapan tata kelola perusahaan yang baik," ujar Dian, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di samping aspek tata kelola, Dian menitikberatkan krusialnya menciptakan komunikasi yang efektif dengan para pemodal lewat fungsi investor relations.
Penyaluran informasi yang terbuka dan tepat waktu terkait performa maupun capaian korporasi dapat memupuk kepercayaan pemodal terhadap prospek bisnis emiten.
Lewat langkah tersebut, kematangan IPO saat ini tidak lagi sebatas menggenapi regulasi pencatatan saham di bursa.
Korporasi juga diwajibkan mempunyai sistem pelaporan yang terbuka, tata kelola yang kokoh, serta kapasitas mengendalikan risiko secara patuh.
Kriteria tersebut dipandang kian krusial di tengah situasi pasar yang masih diselimuti ketidakpastian.
Hal itu sekaligus menjadi elemen primer yang dikaji oleh para pemodal dalam menetapkan pilihan investasi mereka.