Prediksi Rupiah Senin: Berpotensi Menguat ke Rp17.910 per Dolar AS
JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat ke rentang Rp17.910 sampai Rp17.970 per dolar AS pada Senin (6/7/2026).
Sementara untuk sepekan ke depan, rupiah diperkirakan berada di rentang Rp17.850 sampai Rp18.100 per dolar AS. Berdasarkan data TradingView, rupiah ditutup menguat 44 poin ke level Rp17.945 per dolar AS dalam perdagangan Jumat (3/7/2026).
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) melemah 0,14% ke 100,70.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa perkembangan konflik Timur Tengah masih menjadi sentimen yang memengaruhi gerak rupiah.
"Investor terus memantau negosiasi antara Washington dan Teheran setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia percaya Iran telah menyetujui hampir semua yang AS butuhkan. Ini menandakan kepercayaan bahwa diskusi bergerak ke arah yang benar," kata Ibrahim, Jumat (3/7/2026).
Di sisi lain, ada laporan yang menyatakan bahwa pihak Iran menolak proposal untuk melepaskan klaimnya atas Selat Hormuz sebagai imbalan atas pelepasan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan.
"Sinyal yang beragam membuat risiko geopolitik tetap menjadi perhatian para pedagang, bahkan ketika kekhawatiran akan gangguan langsung terhadap pasokan minyak mentah Teluk terus mereda," jelas dia.
Saat ini, sambungnya, pasar terus mengamati perkembangan lebih lanjut dalam negosiasi AS-Iran, arus minyak mentah, dan tanda-tanda pemulihan permintaan setelah libur akhir pekan AS untuk mendapatkan arah baru bagi harga minyak dunia.
Sementara untuk sentimen domestik, pasar sedang mencermati laporan terbaru tentang kinerja penerimaan pajak. Ibrahim menjelaskan, dalam laporan OECD Revenue Statistics in Asia and the Pacific 2026, penerimaan dari kelompok pajak atas penghasilan, laba, dan keuntungan modal (taxes on income, profits and capital gains) praktis tidak mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya.
Data OECD menunjukkan penerimaan pajak penghasilan hanya naik dari Rp1.061,24 triliun pada 2023 menjadi Rp1.061,94 triliun pada 2024. Kenaikannya hanya sekitar Rp700 miliar atau setara 0,07% secara tahunan.
"Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan total penerimaan pajak Indonesia. Pada periode yang sama, total penerimaan pajak meningkat dari Rp2.517,66 triliun menjadi Rp2.620,67 triliun, atau bertambah sekitar Rp103 triliun," jelasnya.
Atas sejumlah sentimen yang menyertai pasar, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah akan menguat pada perdagangan Senin (6/7) pekan depan.