Strategi MI Hadapi Volatilitas Reksadana Saham di Semester II-2026
JAKARTA – Rapor kinerja reksadana saham terpantau masih berada di bawah tekanan hingga penutupan Juni 2026 seiring belum pulihnya pasar saham dalam negeri.
Kendati demikian, sejumlah manajer investasi tetap optimis bahwa prospek reksadana saham berpeluang merangkak naik pada semester II-2026, dengan catatan sentimen makroekonomi mulai mereda dan kondisi pasar kembali kondusif.
Berdasarkan data dari Infovesta, performa reksadana saham sampai dengan Juni 2026 membukukan penurunan sedalam 21,87 persen secara year-to-date (YtD). Dalam kalkulasi bulanan atau month-to-month (MoM), kinerja reksadana saham juga tercatat masih terkoreksi sebesar 5,11 persen.
Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi, mengutarakan bahwa pelemahan pada reksadana saham ini masih didominasi oleh pengaruh koreksi yang menimpa pasar saham domestik sejak awal tahun ini.
"Sentimen utamanya berasal dari masih tingginya ketidakpastian global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, arus dana asing yang belum stabil, serta meningkatnya perhatian investor global terhadap kualitas dan likuiditas pasar modal Indonesia," ujar Reza, sebagaimana dilansir dari berita sumber, Jumat (3/7/2026).
Menurut pandangan Reza, kendati MSCI tetap mengategorikan Indonesia ke dalam kelompok Emerging Market, para pemodal global masih memantau ketat beberapa aspek krusial, seperti transparansi bursa, volume likuiditas, hingga realisasi reformasi di pasar modal. Situasi ini memicu para pelaku pasar untuk bertindak lebih waspada, sehingga dinamika pemulihan pasar saham berjalan lebih lambat daripada perkiraan semula.
Strategi HPAM Hadapi Tekanan Pasar
Guna menyikapi dinamika tersebut, Henan Putihrai Asset Management menerapkan kebijakan pengelolaan portofolio dengan prinsip yang lebih selektif.
Pihak perseroan mendahulukan penempatan dana pada saham-saham berfundamental kokoh, memiliki tingkat likuiditas tinggi, serta ditopang oleh model bisnis yang dinilai resilien di tengah impitan ekonomi dan gejolak pasar.
Langkah taktis tersebut terlihat dari performa produk HPAM Syariah Ekuitas yang mencatatkan penurunan relatif lebih minim ketimbang rata-rata industri.
Sampai dengan Juni 2026, reksadana tersebut hanya terkoreksi 4,57 persen secara YtD dan menyusut 2,28 persen secara MoM.
Bila merujuk pada fund fact sheet, komposisi portofolio HPAM Syariah Ekuitas didominasi oleh instrumen saham dengan porsi mencapai 91 persen.
Di samping itu, sekitar 8 persen aset dialokasikan pada instrumen deposito berjangka, dan sisanya 1 persen ditempatkan dalam bentuk kas atau setara kas. Dari aspek sektoral, alokasi terbesar reksadana ini disalurkan ke sektor industri dengan porsi 28,8 persen.
Diikuti oleh sektor lainnya sebesar 23,2 persen, sektor bahan baku 21,1 persen, sektor barang konsumen primer 18,7 persen, serta sektor perbankan yang mengantongi porsi 9 persen.
Sementara itu, lima saham yang memegang porsi kepemilikan paling besar di dalam portofolio ini meliputi SRTG dengan persentase 15 persen, MTEL sebesar 13,8 persen, PRDA sebanyak 8,8 persen, SSIA senilai 8,5 persen, dan FORE sebesar 7,1 persen.
Di samping ketat melakukan seleksi emiten, HPAM juga mempertahankan fleksibilitas dalam pengelolaan pos kas serta secara dinamis menata ulang komposisi portofolio demi merespons perkembangan pasar.
"Kami tidak hanya mengejar peluang pertumbuhan, tetapi juga tetap mengedepankan pengelolaan risiko agar volatilitas portofolio dapat terjaga," kata Reza, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Prospek Reksadana Saham Semester II 2026
Reza mengestimasi bahwa prospek instrumen reksadana saham pada paruh kedua tahun 2026 akan menunjukkan performa yang lebih positif ketimbang paruh pertama tahun ini.
Penurunan harga yang sudah terlampau dalam dinilai telah membuat valuasi dari sejumlah saham menjadi berada pada level yang kian atraktif, terutama bagi kalangan investor yang berorientasi jangka menengah hingga panjang.
Walau begitu, dirinya menilai bahwa fase pemulihan pasar ini tidak akan berjalan secara kilat. Fluktuasi pasar ke depan masih bakal disetir oleh pelbagai faktor, seperti stabilitas kurs rupiah, kembalinya aliran dana pemodal asing, eksekusi reformasi di pasar modal, hingga arah kebijakan suku bunga di level global.
"Semester II masih akan diwarnai volatilitas. Namun peluang pemulihan mulai terbuka apabila sentimen makroekonomi dan kondisi pasar membaik," jelasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Strategi Investasi di Tengah Volatilitas
Untuk menghadapi situasi pasar yang masih fluktuatif ini, Reza mengimbau para pemodal agar menyesuaikan taktik berinvestasi mereka dengan profil risiko serta target finansial masing-masing.
Bagi pemegang profil risiko yang cenderung konservatif, instrumen reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap dipandang tetap menjadi opsi yang memikat karena menawarkan aspek stabilitas dengan tingkat risiko yang terukur di tengah ketidakpastian situasi pasar.
Di sisi lain, kalangan investor yang mempunyai horizon investasi jangka menengah sampai panjang dapat mengoptimalkan momentum koreksi pasar ini untuk mengumpulkan unit secara bertahap pada produk reksadana saham atau reksadana campuran.
"Strategi yang lebih tepat bukan berpindah sepenuhnya ke instrumen berisiko rendah, tetapi melakukan diversifikasi portofolio secara seimbang agar tetap memperoleh stabilitas sekaligus menangkap peluang pertumbuhan saat pasar mulai pulih," tutup Reza, sebagaimana dilansir dari berita sumber.