Harga Minyak Brent dan WTI Anjlok 2 Persen akibat Sentimen Inflasi
JAKARTA — Nilai jual minyak global merosot kisaran 2 persen pada penutupan transaksi Kamis (9/7/2026) waktu setempat atau Jumat (10/7/2026) pagi WIB.
Penurunan ini didorong oleh kecemasan pelaku pasar atas lonjakan inflasi serta kelesuan ekonomi yang berpotensi menekan tingkat penyerapan minyak dunia, walaupun risiko tersendatnya distribusi dari kawasan Timur Tengah masih terus membayangi.
Perselisihan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran hingga kini masih menghambat operasional penuh Selat Hormuz, sebuah rute maritim krusial yang sebelum masa perang menyalurkan kurang lebih 20 persen dari total pasokan minyak global.
Melansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent terpangkas 1,72 dollar AS atau 2,2 persen menuju posisi 76,30 dollar AS per barrel.
Di waktu yang sama, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menyusut 1,44 dollar AS atau 2 persen ke level 72,08 dollar AS per barrel.
Padahal sehari sebelumnya, Brent sukses bertengger di titik tertinggi sejak 19 Juni 2026, sedangkan WTI mengamankan posisi tertingginya sejak 22 Juni 2026.
Meninjau wilayah Timur Tengah, angkatan bersenjata Iran mengeksekusi gempuran ke fasilitas militer AS di beberapa negara Teluk pada Kamis, sebagai respons atas serangan udara AS ke area pesisir selatan dan provinsi bagian timur Iran.
Aksi saling serang ini kian memperberat jalannya kesepakatan gencatan senjata yang sejatinya telah bergulir selama tiga pekan.
Pada saat yang bersamaan, Iran melangsungkan prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di Mashhad setelah rentetan upacara penghormatan selama satu minggu.
Khamenei wafat pada hari pertama pecahnya perang yang bermula pada 28 Februari 2026.
Beberapa insiden ledakan dikabarkan masih terdengar di sejumlah titik wilayah Iran, termasuk kawasan Bushehr yang merupakan lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir milik negara tersebut.
Kendati demikian, pihak Macquarie Group memprediksi bahwa peningkatan eskalasi tersebut tidak akan bergulir lama.
"Kami memperkirakan ketegangan terbaru di Timur Tengah antara AS dan Iran hanya akan berlangsung relatif singkat karena kedua negara dibatasi oleh realitas ekonomi dan politik yang mereka hadapi," kata ahli strategi energi global Macquarie Group, Vikas Dwivedi.
Sementara itu, Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, berpendapat bahwa Iran mulai memperlihatkan iktikad untuk meredakan perselisihan.
"Setelah dua hari melakukan serangan, Iran tampaknya mulai melakukan komunikasi untuk meredakan permusuhan dan kemungkinan kembali ke meja perundingan," ujar Yawger.
Para pelaku pasar pun terus memperhatikan situasi ekonomi global yang tengah fluktuatif. Di negara AS, angka pengajuan tunjangan pengangguran mengalami penurunan pada pekan lalu, mengindikasikan sektor ketenagakerjaan di sana masih relatif kokoh.
Dokumen hasil pertemuan Federal Reserve pada pertengahan Juni memperlihatkan bahwa para otoritas moneter semakin mencemaskan laju inflasi, sedangkan Presiden The Fed New York John Williams mengutarakan bahwa dirinya tidak memproyeksikan harga energi bakal melonjak secara berkelanjutan hingga penghujung tahun, meski pergolakan di Timur Tengah belum usai.
Di China, inflasi harga produsen pada Juni melesat ke level tertingginya dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Fenomena ini memperberat tekanan bagi sektor manufaktur di tengah masih lesunya tingkat permintaan domestik.
Sementara di benua Eropa, pihak militer Ukraina mengklaim telah berhasil menggempur belasan kapal tanker kepunyaan Rusia di Laut Azov dengan memanfaatkan drone.
Aksi gempuran tersebut menjadi bagian dari skenario untuk mengacaukan suplai bahan bakar bagi pasukan Rusia sekaligus mengisolasi kawasan Crimea yang sedang diduduki oleh Moskow.