Harga Emas Naik 1 Persen di Tengah Ketegangan AS dan Iran

Ilustrasi, emas batangan. (Foto: sempsajp.com)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 10 Juli 2026 | 10:40:57 WIB

NEW YORK - Nilai tukar emas global merangkak naik melampaui 1 persen pada penutupan transaksi Kamis (9/7/2026) waktu setempat atau Jumat (10/7/2026) pagi WIB. 

Apresiasi ini terjadi seiring munculnya aksi beli saat harga murah (bargain hunting) pasca komoditas logam mulia ini sempat merosot ke titik terendahnya dalam satu minggu terakhir. 

Di sisi lain, para penanam modal juga terus memantau dengan cermat dinamika perselisihan yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Melansir dari Reuters, harga emas di pasar spot terangkat 1,3 persen menuju posisi 4.130,58 dollar AS per ons, setelah pada hari sebelumnya jatuh ke level paling rendah sejak 1 Juli. 

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk periode pengiriman Agustus mencatatkan penguatan sebesar 1,4 persen ke angka 4.140,80 dollar AS per ons.

"Ada beberapa bargain hunter yang terjadi setelah penurunan kemarin. Dalam jangka pendek, faktor utama yang menggerakkan harga emas adalah The Fed," ujar Analis Pasar Senior StoneX Bob Haberkorn.

Ia menambahkan, seandainya bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) mengambil langkah yang cenderung melonggar (dovish) terkait kebijakan suku bunga, maka harga emas serta perak memiliki peluang untuk merangkak naik. 

Sebaliknya, apabila The Fed memberikan sinyal mengenai urgensi kenaikan suku bunga lanjutan, kedua instrumen logam mulia tersebut kemungkinan besar bakal berada dalam posisi tertekan.

Meninjau aspek geopolitik, angkatan bersenjata Iran mengeksekusi serangan yang menyasar fasilitas militer AS di beberapa negara Teluk, sebagai respons atas gempuran udara AS ke area pesisir selatan dan provinsi bagian timur Iran. 

Dinamika tersebut memperberat tekanan terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sejatinya baru bergulir selama tiga pekan. 

Pasalnya, perang yang memicu lonjakan harga energi berpotensi melahirkan tekanan inflasi baru dan mempertebal prediksi akan adanya kenaikan suku bunga oleh jajaran bank sentral.

Walaupun emas jamak disorot sebagai aset lindung nilai (safe haven) dalam menghadapi inflasi, kebijakan pengerekan suku bunga pada umumnya menjadi beban bagi logam mulia tersebut lantaran mendongkrak daya pikat aset-aset lain yang menawarkan imbal hasil. 

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, para pelaku pasar saat ini memproyeksikan adanya peluang sekitar 62 persen bagi The Fed untuk mengerek suku bunga pada bulan September mendatang.

Dokumen hasil pertemuan The Fed pada bulan Juni juga mengindikasikan menebalnya kekhawatiran otoritas terhadap laju inflasi. 

Beberapa pembuat kebijakan menilai ada argumentasi kuat untuk menaikkan suku bunga sebelum pada akhirnya bank sentral menetapkan pilihan untuk mempertahankan tingkat suku bunga tetap stabil.

Para penanam modal sekarang tengah menantikan rilis data inflasi AS yang dijadwalkan meluncur pekan depan, di samping testimoni Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres demi memperoleh indikasi lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Sementara itu, pihak HSBC merevisi turun proyeksi rata-rata harga emas untuk periode 2026 menjadi 4.560 dollar AS per ons dari estimasi terdahulu di angka 4.864 dollar AS per ons. 

Untuk periode 2027, proyeksi juga dipangkas menuju level 4.925 dollar AS per ons dari perkiraan sebelumnya sebesar 5.000 dollar AS per ons.

Adapun pada bursa logam mulia kompetitor lainnya, harga perak di pasar spot tercatat menguat 3,4 persen menuju level 60,25 dollar AS per ons, platinum melaju 2,3 persen ke posisi 1.615,25 dollar AS per ons, dan paladium melonjak hingga 3,3 persen menjadi 1.253,25 dollar AS per ons.

Reporter: Ibtihal