Duka Petani Kopi Gayo Bertahan Hidup Pasca Kebun Emasnya Terkubur Longsor

EK
Selasa, 03 Februari 2026
Duka Petani Kopi Gayo Bertahan Hidup Pasca Kebun Emasnya Terkubur Longsor
Duka Petani Kopi Gayo Bertahan Hidup Pasca Kebun Emasnya Terkubur Longsor

JAKARTA - Dunia mengenal Dataran Tinggi Gayo sebagai surga bagi pecinta kopi arabika terbaik di jagat raya. Namun, bagi para petani yang menggantungkan seluruh hidupnya di sana, alam kini sedang menunjukkan wajah yang berbeda. Bencana hidrometeorologi hebat yang menerjang Pulau Sumatra pada November lalu telah menyisakan luka mendalam bagi industri kopi nasional. 

Belasan ribu hektare kebun yang dulunya hijau dan rimbun, kini berubah menjadi hamparan batu serta gelondongan kayu. Tak hanya menghancurkan mata pencaharian warga, krisis ini diprediksi akan memicu kelangkaan pasokan kopi arabika di pasar global yang bisa melambungkan harga di tingkat konsumen.

Di balik ancaman krisis ekonomi makro tersebut, terselip kisah-kisah pilu tentang bertahan hidup yang sangat personal. Salah satunya adalah kisah Sumiaji, seorang pria berusia 45 tahun yang kini harus menelan pil pahit kenyataan. 

Hidupnya yang dulu tertata lewat rutinitas panen kopi, kini berubah drastis menjadi perjuangan fisik yang melelahkan. Setiap hari, ia harus memanggul tiga jerigen bekas oli menggunakan dahan kayu hanya untuk mengambil air bersih demi kebutuhan domestik. Akses jalan menuju kebunnya di Kampung Paya Reje Temi Delem, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, masih terkunci oleh material longsor yang belum tersentuh alat berat.

Kehilangan Kebun Satu-satunya Harapan Penopang Hidup Keluarga Sumiaji

Bencana November itu tidak hanya membawa air dan tanah, tetapi juga menyapu bersih masa depan yang telah dibangun Sumiaji selama dua dekade. Dari satu hektare lahan yang ia miliki—yang sebelumnya ditanami kopi arabika Gayo, alpukat, hingga cabai—kini hanya tersisa sekitar 20 persen saja. 

Sekitar 500 batang kopi yang rata-rata telah berusia produktif antara lima hingga tujuh tahun hilang ditelan bumi. Bagi Sumiaji, kehilangan ini adalah kiamat kecil, mengingat ia memiliki tanggung jawab besar menghidupi tiga orang anak dan seorang istri yang sedang menderita serangan stroke.

Ketidakberdayaan ini terasa semakin mencekik karena status Sumiaji sebagai perantau asal Aceh Tamiang yang telah menetap sejak 1996. Tanpa kerabat dekat di tanah Gayo, ia praktis berdiri sendirian menghadapi duka ini. 

"Dampaknya, sulit mengatakan. Cuma kebun satu-satunya yang kita punya, cuma kopi harapan kami, yang lain enggak ada. Dan sekarang enggak ada lagi kebun kita bang, akibat longsor," ungkapnya dengan nada penuh keputusasaan. Kalimat tersebut menggambarkan betapa rapuhnya posisi petani kecil ketika berhadapan dengan murka alam yang tak terduga.

Pupusnya Pendapatan Jutaan Rupiah Saat Masa Panen Kopi Tiba

Ironi yang dialami Sumiaji terasa semakin menyakitkan karena bencana datang justru saat kebunnya sedang memasuki masa puncak panen. Sumiaji mengenang dengan jelas bagaimana pundi-pundi rupiah biasanya mengalir ke kantongnya untuk membiayai pengobatan istri dan sekolah anak-anaknya. Pada panen terakhir sebelum petaka terjadi, harga kopi sedang berada di posisi yang menguntungkan, yakni sekitar Rp200.000 per kaleng.

Dalam sekali masa panen, ia biasanya mampu mengumpulkan sekitar 50 kaleng hasil petikan. Dengan kalkulasi tersebut, Sumiaji setidaknya bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp7 juta per panen. 

Namun, angka-angka kesejahteraan itu kini tinggal kenangan yang terkubur di bawah tumpukan bebatuan. "Sekarang sudah tidak ada lagi," keluhnya. Hilangnya pendapatan tetap ini bukan hanya masalah angka, melainkan hilangnya martabat seorang kepala keluarga yang kini harus mencari jalan lain demi sesuap nasi di tengah puing-puing kebunnya.

Bertahan Sebagai Buruh Upahan Di Tengah Krisis Pasokan Kopi

Kehilangan kebun sendiri tidak membuat Sumiaji menyerah pada keadaan, meski ia harus turun kasta menjadi buruh upahan. Demi menyambung nyawa keluarganya, ia kini bekerja memetik kopi di lahan milik orang lain yang masih selamat dari terjangan bencana. 

Dalam tradisi masyarakat Gayo, pekerjaan ini dikenal dengan istilah ongkosen. Menjadi pemetik upahan adalah satu-satunya pilihan rasional yang tersisa bagi Sumiaji saat ini, meskipun hasilnya tentu jauh berbeda dibanding saat ia mengelola lahannya sendiri.

"Pokoknya selama rusak kebun saya, ongkosen mengutip. Ongkosen… pokoknya sehari-hari itulah, mengutip kopi di kebun tetangga," ujarnya. Rutinitas ini ia jalani setiap hari di bawah bayang-bayang trauma bencana yang masih segar di ingatan. Perjuangan Sumiaji mewakili ribuan petani Gayo lainnya yang kini harus bekerja lebih keras dengan hasil yang jauh lebih sedikit, sementara dunia luar mungkin segera merasakan dampak kenaikan harga kopi akibat berkurangnya pasokan dari dataran tinggi ini.

Ancaman Kelangkaan Kopi Gayo Dan Masa Depan Petani Aceh

Bencana di Sumatra ini telah memberikan sinyal peringatan keras bagi keberlanjutan industri kopi nasional. Dengan rusaknya belasan ribu hektare lahan, rantai pasok kopi arabika Gayo ke pasar internasional dipastikan terganggu. Kelangkaan ini bukan sekadar urusan nikmatnya secangkir kopi di meja kafe-kafe mewah, melainkan urusan keberlangsungan hidup ribuan petani seperti Sumiaji yang kehilangan aset utamanya.

Diperlukan perhatian khusus dari berbagai pihak untuk membantu pemulihan lahan dan rehabilitasi ekonomi bagi para pahlawan devisa ini.Kisah Sumiaji adalah pengingat bahwa di balik setiap biji kopi yang kita nikmati, ada peluh dan perjuangan hidup mati para petani. 

Harapan mereka kini bertumpu pada kecepatan penanganan infrastruktur jalan dan bantuan bibit untuk menanam kembali masa depan yang sempat hanyut. Bagi Sumiaji dan rekan-rekannya, kopi bukan sekadar komoditas, melainkan satu-satunya napas kehidupan yang mereka miliki di tanah Gayo yang kini tengah berduka.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua