Analisis Mendalam Kinerja Emiten Properti 2026, Peluang dan Tantangan Masih Ada
- Jumat, 03 April 2026
JAKARTA - Kinerja emiten properti diperkirakan menghadapi dinamika yang berat sepanjang 2026. Daya beli masyarakat yang masih rendah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi performa sektor ini.
Kinerja Beragam Emiten Properti 2025
Sepanjang 2025, kinerja emiten properti tercatat beragam antara satu dengan lainnya. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) membukukan penjualan dan pendapatan usaha Rp 12,61 triliun, naik 12,77% dibandingkan 2024.
Baca JugaWarga Wajib Tahu Cara Cepat Cek Penyaluran Bansos PKH dan BPNT 2026
Laba bersih CTRA tercatat Rp 2,66 triliun atau naik 25,24% YoY dari Rp 2,12 triliun. Sementara itu, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) meraih laba bersih Rp 1,14 triliun, naik 83,89% dari Rp 623,91 miliar.
Pendapatan PANI tumbuh 42% menjadi Rp 4,3 triliun berkat total aset Rp 50 triliun dan land bank 1.838 hektare. Presiden Direktur PANI Sugianto Kusuma optimistis kawasan PIK2 terus berkembang sebagai kota mandiri modern berskala besar.
PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mencatat pendapatan bersih Rp 7,11 triliun, naik 7% dibanding 2024 sebesar Rp 6,67 triliun. Corporate Secretary PWON Minarto Basuki menyebut pertumbuhan ini didukung oleh pendapatan berulang dari pusat perbelanjaan ritel yang meningkat 14%.
Laba bersih PWON juga tumbuh 14% dari Rp 2,42 triliun menjadi Rp 2,76 triliun. Sementara itu, ada emiten yang mencatatkan penurunan kinerja seperti SMRA, dengan pendapatan neto Rp 8,76 triliun turun 17,47% dari Rp 10,62 triliun.
Laba bersih SMRA juga menyusut 44,18% YoY menjadi Rp 766,55 miliar. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membukukan pendapatan Rp 12,78 triliun, turun 7,3% dari Rp 13,79 triliun, dan laba bersih turun 41,6% menjadi Rp 2,54 triliun.
Faktor Penyebab Perbedaan Kinerja
Perbedaan kinerja emiten properti 2025 disebabkan oleh waktu pengakuan pendapatan dan komposisi bisnis masing-masing. CTRA dan PWON memiliki pendapatan berulang alias recurring income dari mal dan hotel yang stabil.
Sementara SMRA bergantung pada penjualan residensial yang lebih sensitif terhadap fluktuasi daya beli dan kenaikan bunga. Selain itu, high-base 2024, kenaikan biaya bunga, dan tertundanya serah terima unit juga menekan laba beberapa emiten.
Kepala Riset KISI Muhammad Wafi menyebut, bauran produk dan porsi recurring income menjadi penentu kinerja. Kenaikan CTRA dan PWON didukung pendapatan stabil, PANI terdorong konsolidasi PIK2, sedangkan SMRA dan BSDE terdampak lag serah terima proyek.
Kevin Halim dari Maybank Sekuritas menambahkan, penurunan SMRA dan BSDE terjadi karena pengakuan pendapatan yang menurun dan high-base 2024. CTRA mengalami kenaikan laba karena aktivitas handover meningkat sepanjang 2025.
PWON mendapat keuntungan dari pendapatan recurring, sedangkan PANI terdorong oleh banyak backlog rumah yang dihandover. Aktivitas handover yang masif membuat pendapatan PANI terkerek naik di 2025.
Prospek Kinerja Properti 2026
Kinerja emiten properti 2026 masih prospektif, meski berat. Sentimen positif datang dari potensi penurunan suku bunga BI, perpanjangan insentif PPN DTP, dan pemulihan KPR yang mendorong marketing sales.
Namun, sentimen negatif tetap ada dari daya beli yang belum pulih, transmisi bunga KPR yang lambat, serta biaya konstruksi dan bunga yang masih tinggi. Kevin menyebut sektor ini masih berada dalam fase early recovery.
Emiten dengan bank tanah besar, pricing power kuat, dan recurring income seperti BSDE, CTRA, dan PWON berpotensi memimpin. Sementara emiten yang agresif ekspansi tanpa arus kas dari aset recurring cenderung pulih lebih lambat.
Saham sektor properti masih menarik karena diperdagangkan di bawah rata-rata historis. Sebagian saham sudah mulai rerating, terutama yang memiliki fundamental kuat dan proyek flagship.
Rekomendasi Saham dan Strategi Investor
Wafi menyarankan investor memerhatikan CTRA, BSDE, dan PANI yang memiliki prospek fundamental positif. Target harga masing-masing: CTRA Rp 1.400 per saham, BSDE Rp 1.200, dan PANI Rp 6.000 per saham.
Kevin menambahkan, BSDE dan SMRA tetap resilien karena memiliki flagship township. Permintaan di kota-kota flagship cenderung lebih stabil meski kondisi pasar properti menantang.
Secara valuasi, saham SMRA memiliki discount to RNAV mendekati 90%, menjadi kesempatan menarik untuk beli. Target harga rekomendasi lain: BSDE Rp 1.050, CTRA Rp 1.300, PWON Rp 580, SMRA Rp 334 per saham.
Nathasya Zallianty
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Cara Klaim BPJS Ketenagakerjaan Online 2026 Lebih Cepat Lewat Fitur Antrean
- Jumat, 03 April 2026
Harga Sembako di Jawa Timur Terus Naik dan Turun, Simak Perkembangan Terbarunya
- Jumat, 03 April 2026
Berita Lainnya
Panduan Lengkap Cek Status dan Tahapan Penerima KIP Kuliah Jalur SNBP 2026
- Jumat, 03 April 2026
BMKG Imbau Masyarakat Antisipasi Cuaca Ekstrem Hujan Lebat 3 April 2026
- Jumat, 03 April 2026
Terpopuler
1.
Super Mild Luncurkan Sampo Fokus Kesehatan Kulit Kepala
- 03 April 2026
2.
Jadwal Puasa Sunnah Bulan April 2026 Lengkap
- 03 April 2026
3.
4.
5 Cara Ampuh Menjaga Rambut Tetap Sehat Saat Tidur
- 03 April 2026
5.
Kenali Risiko dan Manfaat Ikan Lele untuk Kesehatan
- 03 April 2026












