Sabtu, 04 April 2026

Pelni Sulap Aset Menganggur Jadi Sumber Pendapatan Bisnis Baru

Pelni Sulap Aset Menganggur Jadi Sumber Pendapatan Bisnis Baru
Pelni Sulap Aset Menganggur Jadi Sumber Pendapatan Bisnis Baru

JAKARTA - Di tengah perubahan dinamika bisnis transportasi laut, perusahaan pelayaran milik negara mulai mencari cara baru untuk memperkuat sumber pendapatan.

Ketergantungan pada layanan angkutan laut bersubsidi membuat perusahaan perlu mencari alternatif strategi agar operasional tetap berjalan stabil sekaligus membuka peluang usaha baru.

Langkah tersebut kini dilakukan oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia atau Pelni. Perusahaan pelayaran pelat merah ini mulai memaksimalkan berbagai aset yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Aset-aset tersebut kini diarahkan menjadi sumber pendapatan tambahan melalui kerja sama komersial dengan berbagai pihak.

Baca Juga

DAMRI Buka Rute Baru Jogja, Semarang Lewati Borobudur Kota Lama

Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis angkutan laut yang berbasis subsidi pemerintah. Selama ini, layanan pelayaran Pelni sebagian besar berjalan melalui skema Public Service Obligation atau PSO yang memang ditujukan untuk menjaga konektivitas antarwilayah di Indonesia.

Direktur Usaha Angkutan Penumpang Pelni, Nuraini Dessy W, menjelaskan bahwa perusahaan mulai memetakan aset-aset yang masih menganggur agar dapat dimanfaatkan secara produktif.

“Sekitar 14 persen aset kami masih idle dan berpotensi untuk dikomersialkan. Kami sudah membuka peluang selebar-lebarnya untuk kerja sama bisnis,” ujar Dessy dalam taklimat media di Kantor Pelni Cabang Semarang, Jumat (3/4).

Strategi Pelni Mengoptimalkan Aset Yang Selama Ini Menganggur

Sebagai perusahaan transportasi laut nasional, Pelni tidak hanya memiliki armada kapal, tetapi juga berbagai aset darat yang tersebar di sejumlah daerah. Aset tersebut terdiri atas fasilitas operasional, gedung perkantoran, hingga lahan yang berpotensi dikembangkan secara komersial.

Menurut Nuraini Dessy W, total aset darat yang dimiliki perusahaan mencapai 158 unit. Dari jumlah tersebut, sebagian sudah digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan, sementara sebagian lainnya masih belum dimanfaatkan secara optimal.

Aset yang belum produktif inilah yang kini menjadi fokus pengembangan bisnis baru perusahaan. Dengan membuka peluang kerja sama kepada pihak luar, Pelni berharap aset tersebut dapat menghasilkan pemasukan tambahan bagi perusahaan.

Langkah ini juga menjadi upaya diversifikasi bisnis agar perusahaan tidak hanya bergantung pada sektor transportasi laut yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan.

Pengembangan Aset Komersial Di Berbagai Kota

Pada tahun 2026, Pelni menargetkan optimalisasi lima aset utama yang tersebar di sejumlah kota di Indonesia. Aset-aset tersebut berada di Medan, Padang, Semarang, Balikpapan, serta Ternate.

Perusahaan menargetkan seluruh aset tersebut dapat direalisasikan secara komersial dalam tahun ini. Artinya, aset tersebut akan digunakan oleh mitra usaha untuk kegiatan bisnis yang dapat menghasilkan pendapatan bagi perusahaan.

Bentuk kerja sama yang ditawarkan cukup beragam. Pelni membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memanfaatkan aset tersebut sebagai lokasi minimarket, kedai kopi berbasis Usaha Mikro Kecil dan Menengah, hingga perkantoran dan usaha makanan serta minuman.

“Kontribusinya memang belum terlalu besar karena selama ini kami masih bergantung pada PSO. Namun, ini menjadi langkah awal agar ke depan aset bisa lebih optimal dan pendapatan tidak ketergantungan pada PSO,” katanya.

Dengan strategi ini, perusahaan berharap aset yang sebelumnya tidak produktif dapat berubah menjadi sumber pemasukan baru.

Kolaborasi Dengan Investor Dan Pelaku Usaha

Dalam mengembangkan aset komersial, Pelni juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai mitra bisnis. Skema kerja sama yang diterapkan dirancang agar tetap efisien dan menarik bagi investor.

Salah satu pola yang diterapkan adalah penyewaan aset kepada mitra usaha. Dalam skema ini, pihak penyewa diberikan kesempatan untuk melakukan renovasi atau penyesuaian bangunan sesuai kebutuhan bisnis mereka.

Menurut Nuraini Dessy W, kebijakan tersebut dilakukan karena perusahaan memiliki keterbatasan anggaran untuk melakukan renovasi secara mandiri.

“Kami menyewakan aset, sementara renovasi menjadi tanggung jawab penyewa. Ini karena keterbatasan anggaran dari sisi kami,” tuturnya.

Di Semarang, misalnya, salah satu aset Pelni sudah dimanfaatkan menjadi Rumah Makan Padang Pagi Sore. Dalam waktu dekat, aset lain juga akan difungsikan sebagai kafe dengan nama The Braga.

Langkah ini menunjukkan bahwa aset perusahaan pelayaran juga memiliki potensi ekonomi di sektor usaha ritel dan kuliner.

Peluang Bisnis Baru Di Kapal Penumpang

Selain mengembangkan aset di darat, Pelni juga mulai melihat potensi komersial yang bisa dikembangkan di kapal penumpang. Ruang yang tersedia di kapal dinilai memiliki peluang untuk dimanfaatkan sebagai area usaha maupun media promosi.

Sejak 2025, perusahaan membuka peluang pemasangan iklan pada badan kapal maupun di area dalam kapal. Selain itu, perusahaan juga membuka kemungkinan menghadirkan tenant atau penyewa ruang usaha di atas kapal.

“ Kami juga membuka peluang untuk tenant di atas kapal. Jadi tidak hanya transportasi, tetapi juga ada sisi komersial yang bisa dikembangkan,” kata Dessy.

Sementara itu, Vice President Usaha Komersial Pelni, Berryl A. Insanul Firdaus, menilai optimalisasi aset merupakan langkah penting untuk menyeimbangkan struktur pendapatan perusahaan.

“Selama ini pendapatan masih didominasi sektor perkapalan. Padahal kami juga memiliki aset berupa tanah dan gedung yang harus dioptimalkan,” katanya.

Meski demikian, kontribusi dari pemanfaatan aset nonkapal masih tergolong kecil dibandingkan bisnis utama perusahaan. Dari total pendapatan sektor perkapalan yang mencapai sekitar Rp3 triliun, kontribusi dari aset darat dan bisnis nonkapal disebut masih belum menyentuh sepuluh persen.

“Untuk angkanya sebetulnya memang proporsinya kecil ketika dibandingkan dengan usaha perkapalan. Namun, kami membuka kerja sama untuk para mitra potensial agar aset bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata Berryl.

Melalui langkah ini, Pelni berharap berbagai aset yang dimiliki tidak hanya menjadi fasilitas pendukung operasional, tetapi juga dapat berkembang menjadi sumber pendapatan baru sekaligus memberikan peluang usaha bagi masyarakat di berbagai daerah.

Celo

Celo

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Update Rute Lengkap Dan Tarif Nontunai Trans Jogja Hari Ini

Update Rute Lengkap Dan Tarif Nontunai Trans Jogja Hari Ini

Jadwal KRL Jogja Solo Hari Ini Sabtu 4 April 2026, Simak Rutenya!!

Jadwal KRL Jogja Solo Hari Ini Sabtu 4 April 2026, Simak Rutenya!!

Jadwal Lengkap KRL Solo ke Jogja Sabtu 4 April 2026 Terbaru

Jadwal Lengkap KRL Solo ke Jogja Sabtu 4 April 2026 Terbaru

Jadwal Lengkap KA Bandara YIA Jogja Sabtu, 4 April 2026

Jadwal Lengkap KA Bandara YIA Jogja Sabtu, 4 April 2026

KA Prameks Kutoarjo Jogja Beroperasi Sabtu 4 April 2026 Ini Jadwalnya

KA Prameks Kutoarjo Jogja Beroperasi Sabtu 4 April 2026 Ini Jadwalnya