Saham Big Banks Kompak Menguat, BBRI Melonjak 9,03 Persen Sepekan
- Minggu, 10 Mei 2026
JAKARTA – Saham bank berkapitalisasi besar alias big banks kompak mengalami penguatan dalam perdagangan sepekan terakhir. Penguatan ini terjadi karena beberapa faktor, mulai dari rilis kinerja yang baik hingga adanya dukungan penempatan dana dari pemerintah.
Secara rinci, harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami kenaikan paling tinggi selama sepekan ini. Posisi tersebut disusul oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan kemudian PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Harga BBRI saat ini berada di level Rp 3.260 atau mengalami kenaikan sampai 9,03% dalam sepekan. Kenaikan harga BBRI ini juga sejalan dengan aksi beli bersih alias net buy dari investor asing sebesar Rp 776,24 miliar.
Baca JugaKB Bank Sebut PINISI Bank Indonesia Perkuat Fungsi Intermediasi Bank
Harga BBCA saat ini tercatat di level Rp 6.175 atau naik 5,56% sepekan. Meski harganya merangkak naik, BBCA dalam sepekan ini justru mengalami jual bersih atau net sell dari investor asing sebesar Rp 500,44 miliar.
Tak jauh berbeda, harga BMRI saat ini berada di Rp 4.630 atau naik 5,47% sepekan. BMRI mencatatkan net sell sebesar Rp 1,60 triliun. Sedangkan, harga BBNI saat ini berada di Rp 3.860 atau naik 3,76% sepekan, di mana BBNI berhasil memperoleh net buy sebesar Rp 69,28 miliar.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menilai bahwa pergerakan saham big banks dalam sepekan terakhir sangat dipengaruhi oleh rilis kinerja mereka untuk kuartal 1-2026.
Keempat big banks tersebut telah mengeluarkan laporan kinerja untuk kuartal 1-2026 dengan hasil pertumbuhan kinerja yang positif. Liza menyebut kinerja dari big banks negara, yaitu BBRI, BMRI, dan BBNI terlihat lebih agresif dibandingkan BBCA.
Liza menilai kinerja big banks pemerintah bisa lebih kencang karena penyaluran kreditnya lebih agresif. Hal ini dikarenakan mereka didorong untuk menyalurkan kredit ke program strategis pemerintah.
Selain itu, pemerintah juga membantu likuiditas mereka melalui penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 200 triliun yang berdampak positif pada penurunan biaya dana.
Dari sisi valuasi, Liza menyebut BBNI saat ini terlihat paling murah di antara kelompok big banks. Sementara itu, BMRI masih menjadi pilihan paling seimbang antara valuasi, kualitas aset, dan kestabilan pendapatan.
BBRI juga dinilai semakin menarik untuk dilirik karena pertumbuhan kredit UMKM yang kembali bangkit di industri. Jika tren pemulihan kredit ini terus berlanjut dan tekanan pencadangan mereda, Liza menilai BBRI cocok untuk diakumulasi jangka panjang.
Sedangkan, Liza menyebut BBCA masih menjadi patokan untuk pertumbuhan big banks. BBCA memiliki profil paling defensif dengan dana murah (CASA) yang melimpah, sehingga fundamental perusahaan ke depannya dapat terjaga aman.
"Secara keseluruhan, Kiwoom Research saat ini masih overweight pada BMRI dan BBNI karena kombinasi valuasi yang murah, dividen yield menarik, dan momentum earnings yang masih konsisten," kata, Sabtu (9/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026











