Harga Emas Dunia Turun 2 Persen, Tertekan Dolar dan Yield Obligasi AS
- Rabu, 20 Mei 2026
NEW YORK – Nilai emas internasional merosot hampir 2% pada sesi perdagangan Selasa (19/5/2026) dipicu oleh menguatnya posisi dolar Amerika Serikat (AS) serta meroketnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS di tengah kecemasan atas inflasi global yang masih melambung.
Nilai emas berakhir jatuh 1,84% menuju posisi US$ 4.482,05 per ons troi, setelah sempat terjerembap ke posisi paling rendah sejak 30 Maret. Sementara itu, emas berjangka AS untuk kontrak Juni berakhir merosot 1,59% menuju level US$ 4.485,4 per ons troi.
Analis Marex Edward Meir menyebutkan, peningkatan suku bunga riil pada bermacam-macam negara menjadi beban utama bagi komoditas logam mulia.
Baca JugaRekomendasi Teknikal Saham AMMN, INDF, dan HRTA Hari Ini 20 Mei 2026
“Penguatan dolar AS juga menjadi sentimen negatif bagi emas,” ujarnya dikutip dari Reuters.
Yield obligasi pemerintah AS untuk jangka waktu 10 tahun terpantau bertahan mendekati posisi paling tinggi dalam tempo di atas satu tahun. Pada saat bersamaan, indeks dolar AS menguat lantaran pelaku pasar memproyeksikan The Fed berpeluang mempertahankan kebijakan hawkish demi meredam gejolak inflasi yang disulut oleh lonjakan harga energi.
Kenaikan yield obligasi mengakibatkan biaya peluang (opportunity cost) untuk menggenggam emas yang tidak membagikan imbal hasil menjadi semakin besar.
Di samping itu, penguatan dolar AS mengakibatkan nilai komoditas berskala dolar menjadi lebih mahal bagi para pemilik mata uang asing lainnya.
Melonjaknya harga minyak mentah Brent imbas kecemasan suplai global turut memperlebar risiko inflasi dunia. Situasi tersebut mendorong otoritas bank sentral untuk menahan suku bunga pada level tinggi lebih lama demi meredam tekanan harga.
Kendati populer sebagai instrumen lindung nilai (hedging) terhadap inflasi, emas umumnya cenderung tertekan ketika kebijakan suku bunga tinggi berlangsung dalam periode yang lama. Pemodal sekarang melihat kans pemotongan suku bunga di sepanjang tahun 2026 kian menyempit, bahkan timbul prediksi akan adanya pengetatan moneter lanjutan pada akhir tahun.
Prospek Emas
Head of Commodity Strategy Saxo Bank Ole Hansen menganggap, proyeksi jangka pendek bagi emas masih menemui hambatan kendati faktor fundamental jangka panjang terpantau tetap kokoh.
“Jika tekanan harga energi mulai mereda, permintaan emas dari bank sentral berpotensi kembali menjadi pendorong utama,” tulisnya.
Pasar sekarang menanti rilis notulen rapat paling baru dari The Fed yang bakal dikeluarkan Rabu (20/5/2026) waktu setempat demi memperoleh indikasi rute kebijakan suku bunga selanjutnya.
Sementara itu, nilai perak spot jeblok 5,13% menuju posisi US$ 73,7 per ons setelah sempat menyentuh level paling rendah dalam dua minggu. Platinum ikut ambles 2,97% ke posisi US$ 1.926,97 dan paladium melemah 4,37% menuju angka US$ 1.362,11 per ons.
Bank investasi JPMorgan Chase memproyeksikan nilai platinum dapat menyentuh US$ 2.400 per ons pada kuartal IV-2026, sedangkan paladium diperkirakan bertengger di angka US$ 1.600 per ons pada jangka waktu yang sama.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026











