Aturan Ekspor Baru RI Terbit, Harga Kontrak CPO Turun Tajam

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Sabtu, 06 Juni 2026
Aturan Ekspor Baru RI Terbit, Harga Kontrak CPO Turun Tajam
Pekerja membongkar buah sawit dari sebuah truk di sebuah pabrik kelapa sawit. (Sumber Gambar: net)

JAKARTA – Harga kontrak minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) merosot pada perdagangan Jumat (5/6/2026). 

Penurunan ini dipicu oleh melemahnya harga komoditas minyak nabati di pasar China serta kekhawatiran para pelaku pasar terkait pemberlakuan sistem ekspor baru di Indonesia. Walaupun mengalami koreksi, nilai jual CPO secara mingguan masih mencatatkan pertumbuhan positif selama tiga pekan berturut-turut.

Berdasarkan pencatatan data BMD pada sesi penutupan Jumat (6/6/2026), nilai kontrak berjangka CPO untuk periode Juni 2026 menyusut sebesar 39 Ringgit Malaysia menjadi 4.492 Ringgit Malaysia per ton. 

Pada saat yang sama, kontrak berjangka CPO untuk periode Juli 2026 terpangkas 40 Ringgit Malaysia ke level 4.526 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, untuk kontrak berjangka CPO periode Agustus 2026 mengalami penurunan sebesar 47 Ringgit Malaysia menuju angka 4.554 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO periode September 2026 juga melemah 45 Ringgit Malaysia menjadi 4.584 Ringgit Malaysia per ton.

Adapun kontrak berjangka CPO untuk bulan Oktober 2026 berkurang 41 Ringgit Malaysia ke posisi 4.616 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan untuk kontrak berjangka CPO periode November 2026 merosot sebesar 39 Ringgit Malaysia menjadi 4.647 Ringgit Malaysia per ton.

Mengutip data dari Tradingview, Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, memaparkan bahwa penurunan harga ini dipicu oleh aksi jual massal pada kontrak minyak nabati di pasar China yang memberikan dampak negatif terhadap sentimen pasar.

"Pasar bergerak lebih lower karena aksi jual pada kontrak minyak nabati di China. Tekanan semakin besar akibat kekhawatiran akan meningkatnya penjualan CPO Indonesia menjelang penerapan penuh sistem ekspor baru," ujarnya.

Pemerintah Indonesia pada hari Jumat secara resmi telah mengeluarkan regulasi baru yang menempatkan aktivitas ekspor beberapa komoditas andalan, termasuk di antaranya minyak kelapa sawit, berada di bawah pengawasan langsung pemerintah pusat.

 Aturan ini dirancang guna mendongkrak pendapatan negara sekaligus menjaga ketahanan nilai tukar mata uang rupiah. 

Tahap transisi untuk kebijakan baru ini sudah dimulai per 1 Juni 2026, sedangkan pemberlakuan secara menyeluruh dijadwalkan berjalan pada awal tahun mendatang.

Kendati demikian, laju penurunan harga CPO mampu tertahan oleh adanya estimasi bahwa volume produksi di Malaysia akan lebih rendah untuk periode Mei 2026.

Direktur Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, menilai bahwa pasar masih mendapatkan sokongan dari prediksi penurunan hasil produksi yang berpotensi membatasi jumlah ketersediaan pasokan.

Dari pergerakan di pasar China, nilai kontrak minyak kedelai yang paling aktif diperdagangkan di Bursa Dalian terpantau turun sebesar 1,32%, sementara kontrak minyak sawit merosot lebih dalam hingga menyentuh angka 3,29%. Kondisi sebaliknya terjadi di Chicago Board of Trade (CBOT), di mana harga minyak kedelai justru menguat tipis sebesar 0,09%.

Secara umum, fluktuasi nilai jual CPO senantiasa mengekor tren pergerakan harga minyak nabati kompetitor karena seluruh produk tersebut saling bersaing ketat di pasar minyak nabati internasional.

Di samping itu, nilai tukar mata uang ringgit Malaysia dilaporkan melemah sebesar 0,37% terhadap dolar AS. 

Penyusutan nilai mata uang ini menjadikan harga jual CPO relatif lebih terjangkau bagi para pembeli global yang bertransaksi menggunakan mata uang asing, sehingga ikut membantu menahan kejatuhan harga lebih dalam.

Sementara itu, pergerakan harga minyak mentah dunia juga terpantau melemah setelah pihak Oman memberikan konfirmasi bahwa aktivitas operasional di Pelabuhan Mina al Fahal tetap berjalan normal, menyusul adanya laporan mengenai insiden ledakan di dekat area pemuatan pasokan minyak. 

Penurunan harga pada sektor minyak mentah ini menjadikan komoditas CPO kurang kompetitif untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel, yang pada akhirnya ikut memberikan tekanan terhadap sentimen pasar minyak sawit secara global.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua