Data Tenaga Kerja AS Kuat, Bursa Wall Street Turun Signifikan

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Sabtu, 06 Juni 2026
Data Tenaga Kerja AS Kuat, Bursa Wall Street Turun Signifikan
Data tenaga kerja Amerika Serikat lebih kuat dari perkiraan memicu reaksi campuran di Wall Street antara harapan ekonomi solid dan kekhawatiran suku bunga tinggi. (Foto; Agencies via China Daily)

JAKARTA – Pasar saham Amerika Serikat (AS) ditutup merosot tajam pada sesi perdagangan hari Jumat (5/6/2026) waktu setempat. 

Koreksi ini disebabkan oleh gelombang aksi jual pada saham sektor teknologi serta semikonduktor, menyusul publikasi data ketenagakerjaan AS yang berada di atas perkiraan, sehingga mendorong spekulasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Indeks Dow Jones Industrial Average membukukan penurunan sebesar 1,3%, sementara indeks S&P 500 mengalami koreksi 2,6%. Sejalan dengan itu, indeks Nasdaq Composite yang didominasi emiten teknologi mendapat tekanan paling berat dengan kejatuhan mencapai 4,1%.

Emiten teknologi bermodal besar menjadi motor utama penurunan bursa. Nvidia merosot 6,2%, disusul oleh Broadcom yang jatuh 7,9%, serta Micron Technology yang terjungkal hingga 13,3%, menjadikannya saham dengan kinerja paling jeblok di dalam indeks S&P 500. 

Di samping itu, emiten lainnya seperti Advanced Micro Devices (AMD), Intel, dan Meta Platforms ikut melemah. Meta sendiri mencatat penurunan 5,5% akibat merespons rumor terkait rencana emisi saham baru untuk membiayai infrastruktur kecerdasan buatan.

Sentimen kurang sedap di pasar timbul seusai Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan penambahan 172.000 lapangan kerja selama Mei 2026, sebuah performa yang berada jauh di atas prediksi para ekonom di level 88.000. 

Sementara itu, tingkat pengangguran dilaporkan bertahan stagnan di angka 4,3%.

Indikator tersebut mempertebal keyakinan penanam modal bahwa The Fed belum mempunyai alasan yang kokoh untuk mengendurkan kebijakan moneter mereka dalam jangka dekat. 

Para pelaku pasar bahkan mulai mengalkulasi kemungkinan adanya dongkrak suku bunga tambahan sebelum tahun 2026 usai. 

Merujuk data CME FedWatch, kans bagi The Fed untuk mengerek suku bunga tahun ini sudah melampaui 60%, sedangkan prediksi terhadap pemotongan suku bunga dipastikan hampir hilang seluruhnya.

"Harapan terhadap pemangkasan suku bunga The Fed secara efektif telah lenyap setelah laporan tenaga kerja yang kuat pagi ini," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Prospek suku bunga tinggi ini ikut mendongkrak tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury berdurasi 10 tahun merangkak naik ke posisi 4,54% dari 4,50%, dan tenor dua tahun melesat ke level 4,16% dari 4,04%. 

Di sisi lain, pergeseran investasi keluar dari sektor teknologi juga dipicu oleh kekhawatiran terhadap valuasi sektor kecerdasan buatan pascarilis laporan keuangan Broadcom pada awal minggu ini.

Pelemahan ini mengakibatkan indeks S&P 500 mencatatkan penurunan mingguan sebesar 2,5%, sekaligus menyudahi tren reli kenaikan yang sempat bertahan selama sembilan pekan berturut-turut. 

Situasi pasar pun ikut terimbas oleh volatilitas geopolitik menyangkut hubungan bilateral AS dan Iran. Kendati beredar kabar seputar fase akhir negosiasi, kecemasan akan macetnya perundingan tersebut masih membayangi para pemodal.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah jenis Brent terkoreksi 2% ke posisi US93,09 per barel, tetapi angka ini dinilai masih bertahan jauh diatas level US70 per barel sebelum pecahnya eskalasi konflik. 

Lonjakan harga energi selama beberapa bulan terakhir ini semakin memperberat tekanan inflasi, di mana indikator acuan The Fed memperlihatkan kenaikan harga menyentuh 3,8% secara tahunan per April 2026, yang menjadi rekor paling tinggi dalam dua tahun ke belakang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua