Bitcoin Merosot ke 61.650USD, Bayang-Bayang Bear Market Mengintai
JAKARTA – Nilai Bitcoin (BTC) merosot cukup dalam pada Rabu (10/6/2026) pagi, seiring dengan menguatnya tekanan jual sebelum rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
Sejumlah pengamat berpendapat bahwa pergerakan Bitcoin saat ini mulai memperlihatkan kesamaan dengan pola bear market yang sempat terjadi pada tahun 2018 dan 2022.
Mengacu pada data CoinMarketCap pukul 06.55 WIB, total kapitalisasi pasar kripto global menyusut 2,31 persen menjadi US$ 2,13 triliun.
Pada saat yang sama, harga Bitcoin (BTC) tergelincir 2,16 persen ke angka US$ 61.650 per koin atau setara Rp 1,12 miliar (asumsi kurs Rp 18.039 per dolar AS).
Indeks CoinDesk 20 yang melacak performa 20 aset kripto utama ikut terpangkas 2,27 persen.
Ethereum melorot 2,92 persen ke posisi US$ 1.639, Binance (BNB) melemah 1,44 persen menjadi US$ 592, XRP turun 2,55 persen ke US$ 1,13, Solana (SOL) merosot 2,63 persen menjadi US$ 64,96, dan Dogecoin (DOGE) terkoreksi 1,69 persen ke US$ 0,08.
Seperti yang dilaporkan CoinTelegraph, nilai Bitcoin (BTC) merosot mendekati titik terendahnya pekan ini di tengah tingginya tekanan jual menyusul penantian data inflasi Amerika Serikat (AS).
Beberapa analis pun memberikan peringatan bahwa tren Bitcoin saat ini menyerupai pola bear market yang pernah berlangsung pada 2018 dan 2022.
Berdasarkan data TradingView, nilai Bitcoin berkurang sekitar 1,2 persen dalam satu hari. Aset kripto dengan kapitalisasi terbesar di dunia ini gagal melewati titik resistance US$ 64.200 setelah mendapat penolakan dua kali (double rejection), sehingga berpotensi menguji kembali zona support psikologis di level US$ 60.000.
Trader dan analis kripto Michaël van de Poppe memaparkan bahwa level US$ 65.000 merupakan area krusial yang wajib dilewati agar Bitcoin bisa kembali ke jalur penguatan.
"Bitcoin masih tertahan di bawah US$ 65.000. Jika level tersebut berhasil ditembus, peluang kenaikan menuju kisaran US$ 72.000 hingga US$ 74.000 akan terbuka lebar," ujarnya melalui akun media sosial X, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut pandangannya, level US$ 65.000 dulunya adalah area support krusial pasca-koreksi dalam pada Februari lalu. Sekarang, zona tersebut telah berubah fungsi menjadi resistance yang wajib dilewati demi memastikan pemulihan harga.
Kendati begitu, Van de Poppe menganggap penurunan Bitcoin akhir-akhir ini terhitung berlebihan dan tidak sepenuhnya menggambarkan situasi fundamental pasar.
"Saya tidak berpikir pasar akan bertahan lama dalam kondisi ini karena aksi jual yang terjadi sebelumnya relatif tidak rasional," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sikap yang lebih waspada ditunjukkan oleh analis kripto Rekt Capital. Menurut pengamatannya, pergerakan Bitcoin saat ini mengindikasikan kemiripan dengan fase penurunan yang berlangsung pada siklus bearish sebelumnya.
Rekt Capital mencatat bahwa Bitcoin telah kehilangan dua level teknikal krusial, yakni Exponential Moving Average (EMA) 50 bulanan beserta area support pola segitiga (triangle pattern).
Situasi yang sama sempat terjadi sebelum adanya fase penurunan yang lebih dalam pada 2018 dan 2022.
"Bitcoin perlu mengonfirmasi penembusan support ini. Jika terjadi, potensi percepatan tren bearish masih terbuka," tulisnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, pergerakan Bitcoin kembali menunjukkan anomali dengan pasar saham AS.
Ketika indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite dibuka menguat hampir 1 persen, Bitcoin justru terpantau melanjutkan tren penurunannya.
Sentimen pasar global juga dipengaruhi oleh mendinginnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Harapan akan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran menjadikan harga minyak dunia kembali mengalami penurunan.
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa peluang untuk mencapai kesepakatan dengan Iran semakin terbuka dan bisa terealisasi dalam waktu dekat.
Itu akan menjadi kemenangan besar. Kesepakatan akan terjadi dalam waktu dekat dan harga minyak akan turun tajam," ujar Trump, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selaras dengan situasi tersebut, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot di bawah US$ 88 per barel dan menyentuh titik terendahnya sejak 29 Mei 2026.
Para pelaku pasar kini tengah menunggu rilis data inflasi AS yang diprediksi menjadi penggerak utama bagi arah instrumen berisiko, termasuk Bitcoin, dalam beberapa hari mendatang.