Upaya Menteri Wihaji dalam Mengembangkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Wilayah 3T

EK
Kamis, 29 Januari 2026
Upaya Menteri Wihaji dalam Mengembangkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Wilayah 3T
Upaya Menteri Wihaji dalam Mengembangkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Wilayah 3T

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD atau 3B, terus menjadi prioritas utama bagi Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji. Fokus utama dari upaya ini adalah memastikan program MBG dapat menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), yang selama ini menjadi tantangan besar dalam distribusi gizi bagi kelompok sasaran tersebut.

Penyaluran MBG Melalui Program Dashat di Kampung KB Bakti Mulia, Bogor

Wihaji menyampaikan hal tersebut saat meninjau proses penyaluran MBG melalui program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) di Kampung KB Bakti Mulia, Kelurahan Kebon Pedes, Tanah Sareal, Bogor, Jawa Barat. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa menu yang diberikan sesuai dengan kebutuhan gizi masing-masing kelompok sasaran dan mengikuti aturan yang tercantum dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG.

"Saya ingin memastikan bahwa setiap menu yang diberikan sesuai dengan kebutuhan gizi masing-masing kelompok sasaran. Program ini juga harus bisa menjangkau wilayah 3T, terutama yang selama ini belum terlayani secara optimal," kata Wihaji dalam kunjungan tersebut.

Semangat Tiga Pilar dalam Penyebaran Program MBG 3B

Wihaji mengungkapkan bahwa ada tiga semangat utama dalam pelaksanaan program MBG ini. Semangat pertama adalah memastikan bahwa menu yang disalurkan sudah sesuai dengan standar Perpres yang ada. Menu gizi yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan kelompok sasaran, yang memiliki kondisi kesehatan dan kebutuhan gizi yang berbeda-beda.

Semangat kedua, menurut Wihaji, adalah memastikan bahwa kelompok sasaran yang selama ini belum terlayani dengan baik, khususnya di wilayah 3T, bisa menerima manfaat dari program MBG ini. "Ini adalah tantangan besar yang harus kita hadapi bersama, memastikan bahwa mereka yang membutuhkan mendapatkan akses yang tepat," tambah Wihaji.

Semangat ketiga adalah memastikan bahwa distribusi program ini benar-benar sampai pada yang tepat, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Proses pengolahan makanan di program Dashat melibatkan masyarakat setempat dan pendampingan oleh ahli gizi dari puskesmas. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa asupan gizi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, serta mengatur ketepatan waktu konsumsi agar tidak ada penyalahgunaan atau distribusi yang tidak tepat sasaran.

Wihaji menegaskan pentingnya melibatkan masyarakat dalam setiap tahap pengolahan makanan. Ia berharap masyarakat setempat dapat terlibat langsung dalam proses pengolahan makanan MBG sehingga mereka dapat memastikan kualitas dan ketepatan gizi yang diterima oleh penerima manfaat. Pendampingan ahli gizi dari puskesmas juga menjadi bagian yang sangat penting untuk memantau dan memastikan bahwa kebutuhan gizi kelompok sasaran benar-benar tercapai.

"Saya ingin memastikan siapa yang makan dan kapan mereka makan. Jangan sampai setelah makanan didistribusikan, orang yang tidak berhak justru memanfaatkannya," ujar Wihaji. Hal ini menunjukkan perhatian besar Wihaji terhadap keberlanjutan dan keberhasilan program ini di tingkat masyarakat.

Tantangan Terhadap Layanan Gizi di Wilayah Terpencil dan Terluar

Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh pemerintah adalah adanya beberapa wilayah yang masih belum terjangkau oleh layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurut Wihaji, ini terutama terjadi di pulau-pulau terluar dan daerah-daerah terpencil. 

"Ada banyak ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang belum mendapatkan layanan ini dengan optimal. Oleh karena itu, kami sedang berdiskusi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mencari solusi agar mereka bisa terfasilitasi," tambah Wihaji.

Wihaji juga menyampaikan bahwa ke depan, perlu ada pendekatan alternatif yang melibatkan masyarakat setempat dalam proses distribusi gizi. Dengan demikian, diharapkan kesenjangan dalam pelayanan gizi di wilayah 3T dapat berkurang, dan manfaat program MBG dapat dirasakan secara merata oleh kelompok sasaran.

Penghargaan untuk Program Dashat Sebagai Inovasi Pelayanan Publik

Program Dashat Kemendukbangga/BKKBN telah memberikan dampak positif melalui penyediaan makanan tambahan, termasuk makanan pendamping air susu ibu (MPASI) bagi bayi usia 6 hingga 12 bulan.

Inovasi ini bahkan memperoleh penghargaan dari Kemenpan-RB sebagai salah satu inovasi pelayanan publik terbaik tahun 2025. Sebagai bukti keberhasilan, saat ini terdapat sekitar 17.690 unit Dashat yang tersebar di seluruh Indonesia, yang terus berkembang untuk menjangkau lebih banyak wilayah, terutama daerah-daerah yang membutuhkan.

Dengan adanya program ini, diharapkan angka stunting dan kekurangan gizi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dapat ditekan, serta masyarakat dapat merasakan manfaat yang lebih besar dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi di seluruh Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua