Kemenag Suarakan Ekoteologi dan Pesan Damai Indonesia dalam Seminar Internasional Kairo

EK
Senin, 02 Februari 2026
Kemenag Suarakan Ekoteologi dan Pesan Damai Indonesia dalam Seminar Internasional Kairo
Kemenag Suarakan Ekoteologi dan Pesan Damai Indonesia dalam Seminar Internasional Kairo

JAKARTA - Di tengah hiruk-pikuk literasi dunia dalam rangkaian Cairo International Islamic Book Fair di Mesir, Sabtu (31/1/2026), Indonesia membawa sebuah narasi besar tentang masa depan planet dan kemanusiaan. Melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI, konsep Ekoteologi diperkenalkan sebagai jawaban religius atas krisis global yang kini mengepung masyarakat modern.

Konsep ini bukan sekadar wacana akademis, melainkan sebuah seruan untuk mengembalikan agama ke khitahnya sebagai penjaga alam dan harmoni sosial. Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Lubenah Amir, yang hadir sebagai pembicara utama, menegaskan bahwa krisis lingkungan dan krisis kemanusiaan adalah dua sisi dari koin yang sama yang harus diselesaikan dengan pendekatan spiritual yang implementatif.

Menghadapi Krisis Multidimensi di Era Modern Melalui Agama
 

Dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dalam seminar internasional yang dihadiri oleh sekitar 150 peserta dari berbagai kalangan akademisi dan tokoh lintas agama tersebut, Lubenah Amir memaparkan realitas pahit mengenai kondisi global. Ia menyoroti bahwa krisis yang terjadi saat ini saling berkelindan dan tidak bisa dilihat secara parsial.

“Dunia modern tengah menghadapi krisis yang saling berkaitan dan saling memengaruhi, yaitu krisis ekologis, krisis kemanusiaan, krisis makna, dan krisis kepercayaan,” ungkap Lubenah lewat keterangan tertulisnya.

Bagi Kemenag, agama tidak boleh lagi terjebak dalam sekat-sekat ritualistik yang sempit atau sekadar menjadi identitas formal di atas kertas. Sebaliknya, agama harus bertransformasi menjadi kekuatan aktif yang mampu memperbaiki hubungan vertikal dan horizontal manusia. “Agama harus hadir sebagai sumber nilai moral dan kepedulian, yang memperbaiki hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan,” tambahnya.

Ekoteologi Manifestasi Rahmah Bagi Seluruh Alam
 

Inti dari misi Indonesia di Kairo adalah membumikan kembali konsep rahmatan lil 'alamin dalam bentuk ekoteologi. Lubenah menjelaskan bahwa kasih sayang dalam Islam bersifat universal, melampaui batas geografis, ruang, bahkan waktu. Alam semesta bukanlah objek untuk dieksploitasi, melainkan bagian dari entitas yang berhak mendapatkan kasih sayang ilahi.

“Pesan Islam sejak awal bersifat universal dan kosmik. Rahmat tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam,” jelas Lubenah di hadapan peserta seminar.

Namun, ia juga memberikan catatan kritis terhadap perilaku masyarakat modern. Ia mengakui adanya fragmentasi nilai, di mana ajaran luhur agama kerap terpisah dari kepekaan terhadap penderitaan sesama dan kerusakan lingkungan hidup. Untuk itu, Kemenag mendorong upaya "menyulam kembali" nilai-nilai tersebut agar tidak berhenti sebagai wacana normatif, tetapi menjadi spirit hidup dalam kebijakan publik dan praktik keseharian.

Cinta dan Kemanusiaan Sebagai Pilar Utama Kebijakan Keagamaan
 

Indonesia, sebagai negara dengan kemajemukan yang luar biasa, menjadikan cinta dan kemanusiaan bukan sekadar slogan, melainkan prioritas kebijakan. Kemenag melalui berbagai layanannya berupaya memastikan bahwa aktivitas beragama memiliki dampak nyata pada peningkatan kualitas hidup masyarakat secara luas.

Lubenah menekankan bahwa beragama harus bersifat implementatif. Pengalaman Indonesia dalam merawat harmoni sosial di tengah keragaman bisa menjadi cermin bagi dunia internasional. Dengan menjadikan cinta kemanusiaan sebagai landasan, agama akan muncul sebagai kekuatan pemersatu yang menumbuhkan empati serta kerja sama lintas iman dan budaya.

“Layanan ini dirancang agar beragama tidak berhenti pada aktivitas ritual, tetapi implementatif dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tuturnya, menegaskan komitmen pemerintah dalam mengintegrasikan nilai spiritual ke dalam aksi sosial yang nyata.

Membangun Jejaring Kebijaksanaan di Panggung Global
 

Seminar yang juga menghadirkan Syekh Fathi Hijazi dari Universitas Al-Azhar dan Atase Pendidikan KBRI Mesir, Abdul Muta’ali, ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi kolaborasi internasional yang lebih erat. Indonesia ingin menunjukkan bahwa di tengah kemajuan teknologi yang pesat, dunia justru sedang mengalami defisit empati dan kebijaksanaan.

Lubenah berharap ajang Islamic Book Fair di Kairo ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat jejaring kerja sama lintas bangsa. Fokusnya jelas: meneguhkan nilai kemanusiaan dan menjaga harmoni dengan alam semesta.

“Dunia hari ini tidak kekurangan teknologi, tetapi sering kekurangan empati. Tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan kebijaksanaan,” tutup Lubenah dengan pesan yang mendalam. Melalui diplomasi ekoteologi ini, Kemenag RI berharap Indonesia dapat terus berkontribusi dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih hijau, damai, dan penuh kasih sayang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua