Keluhan Pedagang Pasar Wiradesa Terkait Kenaikan Harga Sembako Menjelang Bulan Ramadan
JAKARTA - Geliat ekonomi di pasar tradisional mulai merasakan tekanan seiring dengan mendekatnya momentum bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Di Pasar Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, suasana transaksi yang biasanya ramai kini diwarnai dengan keluh kesah para pedagang.
Kenaikan harga berbagai komoditas kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) mulai terjadi secara signifikan, menciptakan efek domino yang tidak hanya membebani dompet konsumen, tetapi juga memukul pendapatan para pedagang kecil.
Fenomena ini menjadi alarm bagi stabilitas daya beli masyarakat di wilayah Pekalongan, di mana lonjakan harga yang terjadi dalam dua pekan terakhir telah memicu penurunan jumlah pengunjung pasar secara drastis.
Tren Kenaikan Harga Komoditas Sayuran Yang Meresahkan Para Pedagang
Pantauan langsung di lapangan mengonfirmasi bahwa tren kenaikan harga ini didominasi oleh komoditas sayuran, terutama jenis cabai dan bawang. Peningkatan permintaan masyarakat yang mulai mempersiapkan kebutuhan rumah tangga menjelang puasa menjadi pemicu utama merangkaknya angka di label harga.
Bagi para pedagang, situasi ini adalah buah simalakama; di satu sisi mereka harus menyesuaikan harga dari pemasok, namun di sisi lain mereka terancam kehilangan pelanggan.
Asrofi, salah seorang pedagang sayuran di Pasar Wiradesa, memberikan gambaran nyata mengenai perubahan harga tersebut. Ia mencatat bahwa kenaikan ini seolah menjadi "tradisi tahunan" yang sulit dihindari setiap kali mendekati bulan Ramadan. "Harga cabai rawit setan dari Rp35 ribu menjadi Rp45 ribu per kilogram.
Hal yang sama juga terjadi pada bawang merah yang saat ini mencapai Rp60 ribu dari semula Rp40 ribu per kilogram," terangnya pada Rabu, 4 Februari 2026. Kenaikan bawang merah yang mencapai 50 persen ini menjadi beban berat bagi ibu rumah tangga yang menjadikannya sebagai bahan bumbu dasar harian.
Fluktuasi Harga Daging Ayam Potong Dan Penurunan Daya Beli
Tidak hanya di lorong sayur-mayur, area penjualan daging ayam potong juga mengalami dinamika harga yang serupa. Pergerakan harga protein hewani ini terpantau sangat fluktuatif sejak awal tahun. Meskipun sempat mengalami penurunan, kini trennya kembali menunjukkan grafik menanjak. Harga yang tidak stabil ini membuat konsumen cenderung menahan diri untuk berbelanja dalam jumlah besar, yang berakibat pada sepinya lapak-lapak pedagang.
Masriah, pedagang ayam potong di pasar tersebut, mengeluhkan betapa tidak menentunya kondisi pasar saat ini. Ia menyebutkan bahwa harga sempat menyentuh angka tinggi di awal tahun sebelum akhirnya bergejolak kembali menjelang Ramadan. "Harga ayam potong naik turun awal tahun sempat naik sampai Rp42 ribu per kilogram, terus turun menjadi Rp36 ribu per kilogram," Terang Masriah.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. "Saat ini mulai naik Rp37.500 sampai Rp38 ribu per kilogramnya. Akibatnya kondisi tersebut pembeli menjadi sepi," tambah Masriah dengan nada prihatin. Di tingkat pengecer bahkan harga sudah menembus angka Rp40 ribu per kilogram, sebuah lonjakan yang cukup signifikan bagi daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Tekanan Pasar Dan Persiapan Masyarakat Menyambut Bulan Suci
Para pedagang di Pasar Wiradesa kini berada di bawah tekanan pasar yang semakin meningkat. Tingginya permintaan rumah tangga untuk persiapan tradisi menyambut Ramadan biasanya memang memicu kenaikan harga, namun tahun ini dirasa cukup memberikan beban mental bagi para pelaku usaha kecil.
Mereka harus memutar otak agar stok barang tetap tersedia meski harga dari distributor terus melambung. Kondisi pasar yang sepi menjadi bukti nyata bahwa masyarakat mulai membatasi konsumsi atau beralih ke komoditas alternatif yang lebih terjangkau.
Fenomena ini mencerminkan adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan di tingkat lokal. Tekanan harga ini diprediksi akan terus berlanjut hingga memasuki hari-hari pertama Ramadan jika tidak ada intervensi yang tepat.
Pedagang merasa bahwa tanpa adanya pengawasan ketat, rantai distribusi bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengambil keuntungan pribadi di tengah tingginya kebutuhan masyarakat akan bahan pokok.
Harapan Pedagang Terhadap Intervensi Pemerintah Dan Satgas Pangan
Di tengah situasi yang serba sulit ini, harapan besar digantungkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pekalongan. Para pedagang mendesak agar pemerintah segera turun tangan melalui Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Inflasi Daerah.
Langkah-langkah konkret seperti pemantauan harga secara berkala dan inspeksi mendadak ke jalur distribusi sangat diharapkan untuk memastikan tidak adanya penimbunan barang yang sengaja dilakukan untuk mempermainkan harga pasar.
"Para pedagang berharap Pemerintah Daerah dan Satuan Tugas Pengendalian Inflasi Daerah segera melakukan pemantauan harga dan distribusi barang kebutuhan pokok di pasar tradisional," demikian aspirasi kolektif yang berkembang di Pasar Wiradesa.
Tujuannya sangat jelas agar tidak terjadi lonjakan harga yang terlalu tajam yang dapat melumpuhkan ekonomi kerakyatan selama bulan Ramadan nanti.
Pengawasan distribusi menjadi kunci utama agar harga sembako tetap berada dalam batas kewajaran, sehingga baik pedagang maupun pembeli dapat menyambut bulan puasa dengan tenang tanpa dibayangi kecemasan finansial.