Guncangan Gempa Magnitudo 3,8 Getarkan Bonjol Pasaman Tidak Memiliki Potensi Tsunami

EK
Kamis, 05 Februari 2026
Guncangan Gempa Magnitudo 3,8 Getarkan Bonjol Pasaman Tidak Memiliki Potensi Tsunami
Guncangan Gempa Magnitudo 3,8 Getarkan Bonjol Pasaman Tidak Memiliki Potensi Tsunami

JAKARTA - Masyarakat di wilayah Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, dikejutkan oleh aktivitas seismik yang terjadi pada Jumat pagi, 6 Februari 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya getaran gempa bumi yang berpusat di darat. 

Meskipun guncangan dirasakan cukup nyata oleh warga sekitar, otoritas terkait memastikan bahwa fenomena alam ini tidak memicu ancaman gelombang pasang atau tsunami, sehingga masyarakat dihimbau untuk tetap tenang namun waspada.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi penduduk di sepanjang zona patahan Sumatra akan aktifnya pergerakan lempeng tektonik di wilayah tersebut. Gempa yang terjadi pada pukul 06:17 WIB ini menambah catatan aktivitas seismik di awal tahun 2026 untuk wilayah Sumatra Barat yang secara geologis memang berada di jalur rawan.

Detail Parameter Teknis dan Lokasi Pusat Getaran di Pasaman

Berdasarkan data yang dirilis secara resmi oleh BMKG, gempa bumi ini memiliki kekuatan Magnitudo 3,8. Skala ini tergolong gempa bumi ringan, namun karena pusatnya berada di kedalaman yang cukup dangkal, getarannya dapat dirasakan dengan jelas di permukaan bumi. Lokasi episenter gempa terletak pada koordinat 0,02 Lintang Utara dan 100,16 Bujur Timur.

Secara geografis, titik pusat gempa berada di darat, tepatnya berjarak sekitar 9 kilometer arah Barat Daya dari pusat Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman. Kedalaman gempa tercatat berada pada 5 kilometer di bawah permukaan tanah. Kedalaman yang sangat dangkal inilah yang menyebabkan energi gempa terasa cukup signifikan di sekitar wilayah terdampak, meskipun magnitudonya tidak terlalu besar.

Dampak Guncangan Berdasarkan Skala MMI di Wilayah Terdampak

Guncangan gempa yang berpusat di Bonjol ini dirasakan dengan intensitas yang beragam di beberapa wilayah sekitarnya. BMKG mengategorikan dampak getaran ini ke dalam skala II-III MMI (Modified Mercalli Intensity). Skala III MMI mendeskripsikan getaran yang dirasakan nyata di dalam rumah, di mana getaran tersebut terasa seakan-akan ada truk besar yang sedang melintas di dekat bangunan.

Wilayah Bonjol melaporkan intensitas getaran yang paling terasa. Beberapa warga mengaku merasakan perabot rumah tangga yang ringan sedikit bergoyang. Namun, sejauh laporan yang diterima hingga saat ini, belum ada informasi mengenai kerusakan bangunan yang masif atau korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Karakteristik gempa darat di Sumatra Barat seringkali memang bersifat lokal namun memiliki hentakan yang cukup mengejutkan bagi warga yang sedang memulai aktivitas pagi.

Kepastian BMKG Mengenai Tidak Adanya Ancaman Bahaya Tsunami

Salah satu kekhawatiran terbesar setiap kali terjadi gempa bumi di wilayah Sumatra adalah potensi terjadinya tsunami. Namun, untuk kasus gempa yang melanda Bonjol pada 6 Februari 2026 ini, BMKG dengan cepat memberikan klasifikasi bahwa "Gempa ini tidak berpotensi tsunami." Penegasan ini sangat penting untuk mencegah kepanikan massal, terutama bagi warga yang tinggal di daerah pesisir yang tidak jauh dari Kabupaten Pasaman.

Karena pusat gempa berada di daratan (terestrial) dan magnitudonya berada di bawah ambang batas pemicu gelombang laut besar, risiko tsunami secara ilmiah dapat dikesampingkan. BMKG terus memantau apakah akan terjadi aktivitas gempa susulan (aftershocks). Hingga berita ini diturunkan, frekuensi kegempaan di lokasi tersebut cenderung stabil dan tidak menunjukkan peningkatan aktivitas yang mengkhawatirkan.

Imbauan Keselamatan dan Mitigasi Bencana Bagi Warga Lokal

Pemerintah daerah bersama BPBD setempat terus melakukan koordinasi pasca-getaran pagi tadi. Masyarakat diharapkan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya atau berita hoaks yang seringkali beredar di media sosial pasca-bencana. Referensi utama informasi kegempaan harus tetap merujuk pada kanal resmi BMKG atau aplikasi InfoBMKG.

Warga dihimbau untuk memeriksa kondisi bangunan tempat tinggal masing-masing. Pastikan tidak ada retakan bangunan yang membahayakan struktur rumah sebelum kembali beraktivitas di dalam ruangan. Mitigasi bencana mandiri, seperti memahami jalur evakuasi dan menyiapkan tas siaga bencana, tetap menjadi langkah preventif yang sangat disarankan bagi penduduk yang tinggal di zona rawan gempa seperti wilayah Pasaman dan sekitarnya.

Kejadian di Bonjol ini menjadi bagian dari dinamika tektonik di wilayah Sumatra yang memiliki sejarah kegempaan panjang. Meskipun kekuatan gempa kali ini relatif kecil, kewaspadaan kolektif tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi bencana alam di masa depan. Tim reaksi cepat tetap disiagakan untuk memantau situasi di lapangan demi menjamin keamanan dan kenyamanan seluruh masyarakat di Kabupaten Pasaman.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua