Harga Minyak Dunia Turun Menyusul Kemajuan Negosiasi AS dan Iran
- Rabu, 20 Mei 2026
HOUSTON – Nilai minyak dunia berbalik merosot pada sesi perdagangan Selasa (19/5/2026) usai Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menyebutkan dialog antara pihak AS dan Iran memperlihatkan perkembangan yang berarti.
Melansir dari Reuters, kondisi tersebut memantik ekspektasi meredanya ketegangan di Timur Tengah yang selama ini memberikan guncangan besar pada pasar energi internasional.
Minyak Brent untuk kontrak Juli berakhir menyusut 82 sen (0,73%) menuju angka US$ 111,28 per barel. Di waktu yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juni terdepresiasi 89 sen (0,82%) menjadi US$ 107,77 per barel. Sementara itu, kontrak WTI Juli melemah 23 sen ke angka US$ 104,15 per barel.
Baca JugaBahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026
“Kami melihat banyak kemajuan. Iran juga tampaknya ingin mencapai kesepakatan,” ujar Vance dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Pada waktu sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penangguhan agenda gempuran militer terhadap wilayah Iran yang sedianya bakal dieksekusi pada Selasa waktu setempat.
Kendati begitu, pihak AS mewanti-wanti tetap bersiap menggelar serangan kembali andai perundingan tersebut menemui jalan buntu.
Walaupun nilai minyak mengalami penurunan, angka perdagangan tersebut masih terkategori pada level tinggi. Pada sesi perdagangan Senin, Brent sempat bertengger di posisi paling tinggi sejak 5 Mei, sedangkan WTI berada pada level tertinggi semenjak 30 April.
Partner Again Capital John Kilduff menyebutkan, pelaku pasar saat ini masih diselimuti keraguan yang masif lantaran potensi bentrokan fisik belum sepenuhnya sirna.
“Kami masih kehilangan pasokan minyak dalam jumlah besar dan infrastruktur energi kawasan menjadi sasaran konflik. Pasar kini menunggu dua kemungkinan besar, yakni kesepakatan damai atau serangan militer lanjutan,” ujarnya.
Gangguan Pasokan Minyak
Kemelut yang terjadi di Timur Tengah dilaporkan telah menghambat rute transportasi laut Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur logistik untuk kisaran 20% suplai minyak serta gas alam cair (LNG) internasional.
Badan Energi Internasional atau IEA mengkategorikan situasi tersebut sebagai hambatan suplai minyak paling masif secara global untuk saat ini.
Kantor berita resmi pemerintah Iran mengabarkan bahwa pihak Teheran menyodorkan draf perdamaian paling baru kepada pihak AS, yang memuat poin penghentian ketegangan pada seluruh wilayah, penarikan militer AS dari zona dekat Iran, hingga ganti rugi atas dampak kehancuran imbas pertempuran.
Di sudut lain, pemerintah AS kembali memberlakukan pembatasan sanksi atas ekosistem pendanaan Iran serta membekukan operasi 19 armada kapal yang dituduh ikut serta dalam aktivitas distribusi minyak dan produk petrokimia Iran menuju pasar internasional.
Sentimen negatif pun bersumber dari China. Fasilitas pengolahan minyak milik negara China dikabarkan memotong volume produksi di atas 1 juta barel per hari semenjak pertempuran dengan Iran pecah, dipicu oleh tersendatnya ketersediaan stok serta menyusutnya margin keuntungan pengolahan.
Sementara itu, tabungan minyak strategis kepemilikan AS merosot drastis sebesar 9,9 juta barel pada minggu lalu menuju kisaran 374 juta barel, yang menjadi rekor paling rendah sejak Juli 2024.
Para pelaku pasar kini tengah mengantisipasi rilis laporan resmi cadangan minyak AS yang akan dikeluarkan Rabu waktu setempat.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026











