Ditopang Minyak Mentah, Harga CPO Berjangka Malaysia Bergerak Stabil

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 10 Juli 2026
Ditopang Minyak Mentah, Harga CPO Berjangka Malaysia Bergerak Stabil
ilustrasi. (Foto : net)

JAKARTA – Pergerakan nilai kontrak berjangka minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives terpantau bergerak cukup landai pada sesi transaksi Kamis (9/7/2026). 

Apresiasi nilai minyak nabati di Bursa Dalian beriringan dengan melajunya harga minyak mentah global dinilai sanggup meredam imbas negatif akibat merosotnya nilai minyak kedelai (soyoil) di Chicago Board of Trade (CBOT).

Melansir laporan Reuters, nilai kontrak berjangka CPO untuk patokan pengapalan September 2026 di Bursa Malaysia merangkak naik tipis RM6 per ton, atau berkisar 0,13%, menuju posisi RM4.615 per ton metrik pada menit-menit awal perdagangan. 

Arah pergerakan yang cenderung horizontal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih menanti kepastian tren di tengah simpang siurnya kabar dari sektor pasar minyak nabati dunia.

Di sisi lain, kondisi pasar dalam negeri memperlihatkan nilai CPO di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) konsisten menjaga tren penguatan. 

Melalui proses tender Kamis (9/7/2026), nilai CPO dipatok pada angka Rp15.600/kg, alias terkerek naik Rp11/kg atau sekitar 0,07% apabila dikomparasikan terhadap harga penawaran paling tinggi pada sesi perdagangan Rabu (8/7/2026) yang bertengger di Rp15.589/kg.

Sinyal positif di sektor industri kelapa sawit ini pun memperoleh suntikan tenaga selepas Presiden Prabowo Subianto meresmikan peluncuran Program Biodiesel B50 di kawasan Karawang, Jawa Barat, pada hari yang sama. 

Lewat pemberlakuan regulasi ini, Indonesia menasbihkan diri selaku negara perdana di lingkup global yang mengadopsi kebijakan mandatori biodiesel berkandungan campuran 50 persen dari minyak sawit.

Berdasarkan pemaparan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, agenda B50 tersebut diestimasi bakal mendongkrak angka penyerapan CPO dalam negeri mencapai 16,3–17 juta ton per tahunnya, sekaligus menekan angka ketergantungan atas pasokan impor bahan bakar solar.

Pihak pemerintah turut mengalkulasi bahwa implementasi program ini mampu mengamankan cadangan devisa negara berkisar Rp170 triliun, memperlebar jangkauan pasar domestik komoditas kelapa sawit, serta memberikan jaminan stabilitas serapan pasar bagi jutaan petani sawit di tanah air.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua