Diakuisisi Tjokro Group, GPSO Bidik Sektor Mekanikal Hulu Hingga Hilir
- Senin, 18 Mei 2026
JAKARTA – PT Geoprima Solusi Tbk. (GPSO) merancang fokus bisnis baru pada industri komponen mekanikal dan permesinan (machining) usai dicaplok oleh PT PIMSF yang terafiliasi dengan Tjokro Group.
Direktur Utama Geoprima Solusi Dionysius Tjokro menyebutkan PIMSF telah menuntaskan proses akuisisi perusahaan pada November 2025.
Berikutnya, pada 13 Februari 2026, PIMSF merealisasikan Penawaran Tender Wajib atau Mandatory Tender Offer (MTO) kepada publik sehingga secara resmi menjadi pemegang saham pengendali (PSP) baru GPSO.
Baca Juga
Bergabungnya PIMSF merupakan bagian dari strategi transformasi dan konsolidasi bisnis Tjokro Group guna memperkokoh basis modal sekaligus memperluas jangkauan usaha perusahaan.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “PIMSF bersama perseroan memiliki arah bisnis baru untuk menjadi pemain utama dan pemimpin di industri komponen mekanikal dan permesinan dengan melakukan penguasaan sektor hulu hingga hilir,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, dikutip Senin (18/5/2026).
Ia memaparkan, lewat langkah konsolidasi ini, GPSO akan diposisikan menjadi korporasi solusi mekanikal terpadu atau one stop solution for mechanical yang memegang kendali atas rantai produksi serta jasa secara menyeluruh.
Tjokro Group sendiri dikabarkan sudah mempunyai pengalaman lebih dari 57 tahun pada sektor mekanikal dan menjadi salah satu pelaku usaha utama di industri tersebut di Indonesia.
Ke depan, emiten bersama PIMSF akan berfokus mengamankan rantai pasok industri solusi komponen mekanikal mulai dari sektor hulu (upstream) sampai hilir (downstream).
Langkah taktis ini dijalankan demi mempertahankan ketersediaan pasokan bahan baku di internal grup usaha sekaligus mendongkrak penguasaan pasar.
Di luar itu, konsolidasi juga ditargetkan untuk menambah basis pelanggan, meningkatkan kepercayaan pasar, serta memproduksi komponen mekanikal dengan level kompleksitas yang lebih tinggi.
Dionysius mengimbuhkan, agenda konsolidasi tersebut diharapkan bisa memperkuat daya saing perusahaan di tengah pusaran kompetisi industri yang kian ketat, baik pada pasar domestik maupun mancanegara.
Adapun eksekusi fase awal dari haluan bisnis baru tersebut ditargetkan mulai bergulir pasca perusahaan mengantongi izin para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 Juni 2026 mendatang terkait aksi korporasi tahap pertama.
ESG PT Geoprima Solusi Tbk. (GPSO) memperlihatkan kepeduliannya terhadap implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) di sepanjang 2025 melalui bermacam aksi efisiensi energi, peningkatan inklusivitas pekerja, hingga pengelolaan risiko keberlanjutan secara terpadu.
Dionysius Tjokro menyatakan perusahaan terus memetakan dan mengelola isu-isu keberlanjutan yang berisiko memengaruhi daya tahan usaha maupun operasional bisnis.
Sepanjang tahun 2025, GPSO mengantongi penjualan sebesar Rp5,33 miliar dengan membukukan rugi usaha senilai Rp3,17 miiliar.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Capaian tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus menyusun strategi pertumbuhan jangka panjang,” ujar Dionysius.
Pada aspek lingkungan, GPSO mencatatkan performa positif dengan menekan total pemanfaatan energi hingga 16,65%.
Tidak cuma itu, pemakaian listrik kantor juga sukses dipangkas sampai 32,37% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Menurut Dionysius, raihan tersebut menjadi bukti nyata komitmen korporasi dalam menerapkan strategi efisiensi energi secara terukur serta berkelanjutan.
Sementara dari segi sosial, GPSO terus memacu penerapan peluang kerja yang setara tanpa adanya diskriminasi.
Perusahaan juga mempertahankan keterwakilan tenaga kerja perempuan sebagai bagian dari langkah membentuk organisasi yang inklusif serta kompetitif.
Lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), GPSO turut mengarahkan inisiatif pada penguatan peran perempuan, reduksi emisi, serta dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB 5 seputar Kesetaraan Gender, TPB 8 perihal Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta TPB 13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim.
Ke depan, GPSO melihat adanya peluang pertumbuhan lewat penguatan kemitraan strategis dan pengembangan program rendah emisi.
Strategi ini dinilai bisa menyokong daya saing usaha sekaligus merawat keseimbangan antara ekspansi bisnis dan tanggung jawab keberlanjutan.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026











